Kerja Lembur Cenderung Turunkan Kesuburan Wanita

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 08/02/2017 16:28 WIB
Kerja Lembur Cenderung Turunkan Kesuburan Wanita Ilustrasi: Sebuah penelitian menunjukkan wanita yang bekerja saat malam hari cenderung kurang subur. (Unsplash)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penelitian menganjurkan bagi para wanita yang ingin memiliki anak, ada baiknya menghindari pekerjaan dengan lembur (shift malam) dan bekerja berat.

Sebuah studi menemukan bahwa perempuan yang bekerja pada shift malam dan melakukan pekerjaan berat memiliki telur yang lebih sedikit serta kurang subur.

Penelitian sebelumnya pernah menunjukkan hubungan antara kondisi kerja dan kesuburan, namun studi yang dilakukan ini adalah yang pertama kali menyoroti dampak kerja malam dan pekerjaan fisik terhadap kondisi perempuan untuk memiliki anak.


Melansir AFP, tim peneliti menganalisis data dari 400 wanita, dengan usia rata-rata 35, yang mendatangi sebuah klinik kesuburan di Massachusetts.
Para peneliti menilai jumlah cadangan telur tersisa yang dimiliki oleh responden serta tingkat hormon yang meningkat ketika kesuburan seseorang menurun.

Tim juga menilai proses telur menjadi matang dan mampu untuk berkembang menjadi embrio dari masing-masing responden.

Data ini kemudian dibandingkan dengan kondisi pekerjaan responden, yaitu seberapa banyak usaha fisik yang dikeluarkan, serta waktu bekerja.

Sekitar 40 persen dari responden mengatakan mereka secara rutin memindahkan atau mengangkat beban berat, dan sekitar 20 persen mengatakan pekerjaan mereka membutuhkan aktivitas fisik menengah. Kurang lebih 91 persen responden bekerja pada jam kerja kantor.
"Wanita dengan pekerjaan yang menuntut fisik memiliki cadangan telur lebih rendah dibanding mereka yang tidak rutin harus mengangkat beban berat," tulis pernyataan para peneliti yang diterbitkan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine.

Pekerja berat juga memiliki jumlah telur lebih rendah, bahkan cenderung semakin sedikit bila mereka bekerja malam, atau mendapatkan shift malam.

Kecenderungan itu semakin kuat pada wanita dengan berat badan berlebih dan usia melebihi 37. Selain itu, proses kematian telur semakin cepat akibat beberapa faktor, salah satunya adalah merokok.

Namun tim peneliti ini hanya mengamati hubungan antara kondisi kerja dan kesehatan telur, serta tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat keduanya dengan pasti.
Peneliti juga tidak yakin pola kejadian seperti ini akan ditemukan pada wanita yang tidak membutuhkan perawatan kesuburan, seperti pada responden yang diuji.

Penelitian ini dianggap lemah oleh ahli lainnya. Ahli lain mengatakan jumlah di bawah 500 memiliki jumlah contoh terlalu kecil untuk menarik sebuah kesimpulan.

"Sebagai contoh, akan sangat mungkin mereka yang bekerja malam dan berat adalah golongan menengah ke bawah sehingga memiliki kondisi sosial juga pola asupan berbeda dibandingkan mereka yang bekerja kantoran," kata Channa Jayasena, dokter dari Imperial College London.

(les)