Nol Komplain Jadi Langkah Korea Selatan Majukan Pariwisata

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Minggu, 12/02/2017 07:18 WIB
Nol Komplain Jadi Langkah Korea Selatan Majukan Pariwisata Bukchon Hanok Village di Seoul, Korea Selatan. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berkat daya tarik lewat dunia hiburan, seperti Kpop dan Kdrama, sejak beberapa tahun yang lalu Korea Selatan (Korsel) telah berhasil menyusul langkah Jepang sebagai salah satu negara tujuan wisata asal Asia yang populer di dunia.

Berdasarkan data Korean Tourism Organization (KTO), sampai Oktober 2016 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mengalami peningkatan sebanyak 33,1 persen. Peningkatan itu pun menjadi pencapaian tertinggi sepanjang waktu dengan angka 14,6 juta wisman. Rekor sebelumnya tercatat pada 2014, dengan jumlah 14,2 juta wisman.

Mayoritas wisman berasal dari China, yakni sekitar 7 juta orang, atau naik 40 persen dari tahun lalu. Kenaikan tersebut terjadi karena semakin banyaknya wisatawan yang datang sendiri tanpa melalui agen perjalanan wisata. Tak hanya dari China, wisatawan dari Jepang juga mengalami kenaikan.


Terdapat 1,89 juta orang berkunjung ke Korsel antara bulan Januari dan Oktober, naik 1,26 persen dan sedikit di bawah tahun 2014, dengan 1,93 juta orang.

Sedangkan wisatawan dari Indonesia sendiri mengalami peningkatan sebanyak 53,9 persen dan berada di posisi ke 9 dari 130 negara.

Sementara itu, ibu kota Korsel, Seoul, juga berada di posisi ke-sembilan sebagai kota yang paling banyak dikunjungi oleh wisman di dunia.

Ada 13 juta lebih orang yang datang dan jumlah tersebut mengalami peningkatan sebanyak 50,3 persen dalam lima tahun terakhir.

Hal itu disampaikan langsung Director Tourism Business Division, Je Seong Oh kala bertemu dengan sejumlah media dari Indonesia di Restoran Gosang, Seoul, Korea Selatan pada Desember lalu.

"Dari banyaknya wisatawan yang datang itu, destinasi yang paling banyak mengunjungi objek wisata budaya, panorama kota Seoul, seperti Namsan Seoul Tower, dan yang wisata belanja," kata Je Seong.

Para pencinta Kpop dan Kdrama memang sudah mengenal Seoul, akan tetapi pemerintah ingin terus meningkatkan jumlah kunjungan wisman ke sana. Kini, pemerintah kota Seoul semakin gencar berpromosi melalui kerja sama dengan agensi hiburan dan stasiun televisi.

"Sekarang ada satu program kolaborasi dengan SM Town dan NBC, jadi wisatawan dapat belajar dance dan Kpop di sana, Di Shincon pun ada kelas make up," ungkapnya.

Menciptakan Duta Wisata Korsel

Pada 2018, Dinas Pariwisata Seoul menargetkan jumlah kunjungan mencapai 20 juta wisman. Target tersebut dikejar dengan menanamkan prinsip bahwa turis yang datang diberikan kenyamanan yang membuat mereka ingin kembali datang.

"Tekad kuat kami yakni lewat 'sekali mengunjungi 'ketagihan' mengunjungi Korea kembali dan kami berusaha mengatasi ketidaknyamanan pengunjung melalui proyek yang disebut 'Zero Complains on Seoul Tourism'," ujarnya.

Nol Komplain Jadi Langkah Korea Selatan Majukan PariwisataK-Star Road, di kawasan Gangnam, Seoul. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Demi tercapainya hal itu, langkah yang diambil pemerintah kota Seoul juga melalui pemenuhan ragam konten pariwisata seperti Hallyu (budaya pop Korsel), tur keliling Seoul dan kuliner, dan tur kesehatan yang dipersiapkan sebagai momen tak terlupakan bagi pengunjungnya.

"Sehingga saat kembali ke negaranya, mereka secara tidak langsung akan menjadi duta wisata bagi Korsel," katanya.

Dia menambahkan, "Kami pun mencoba untuk membuat Seoul sebagai kota yang mudah untuk dijelajahi walau datang tanpa pemandu wisata.”

Pemerintah kota Seoul menjalankan beberapa langkah untuk menetapkan 'nol keluhan pada pariwisatanya'. Diantaranya, pertama, meningkatkan pelayanan melalui situs pariwisata kota Seoul, terutama bagi para pengguna telepon genggam pintar. Pemerintah menyediakan aplikasi yang dilengkapi fitur 'Things to Look' dan 'Things to Enjoy'.

Langkah ke-dua, pemerintah meningkatkan kenyamanan pada fasilitas umum, khususnya di kawasan Hongdae, sebagai lokasi yang kerap didatangi oleh turis individu. Fasilitas tersebut berupa pusat informasi, loker, ATM, dan lainnya.

Kemudian, langkah ketiga, untuk mengurangi kesulitan berkomunikasi dan masalah bahasa, pemerintah Seoulmenyediakan sistem informasi yang terdiri dari ragam bahasa. Selain itu, langkah selanjutnya yakni dengan mengembangkan pariwisata melalui analisa dari keluhan turis, ulasan serta hasil survei terkait hal itu.

Langkah lain pemerintah pun menggerakkan peningkatan pariwisata dengan turut menggandeng industri travel, secara sukarela. Serta, melalui ide kreatif atau proyek dari perusahaan-perusahaan 'start-up'.