Chef Dedy Sutan, koki dari sebuah restoran di daerah Pacific Place, berpandangan bahwa rasa dan tekstur buah lokal tak kalah menarik dan bagusnya dengan buah-buah impor yang sudah lebih populer menjadi bahan dasar makanan penutup.
"Rasa dan tekstur buah lokal lebih fleksibel untuk saya membuat dan mengkombinasikannya ke dalam sebuah resep hidangan penutup," katanya kepada CNN Indonesia, Senin (27/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kreasi yang dapat diciptakan dari buah-buahan lokal pun bisa beragam. Hidangan penutup panas seperti setup atau dingin seperti panacota, atau malah dikombinasi.
"Untuk menu penutup, saya juga bisa membuat kombinasi panas dingin," kata Dedy.
Penggunaan buah lokal memang terus meningkat beberapa tahun terakhir. Diterbitkannya dua peraturan menteri lima tahun lalu, yakni Peraturan Menteri Pertanian No. 60/permentan/OT.140/9/2012 dan Peraturan Menteri Perdagangan No 27/M-DAG/PER/5/2012 yang membatasi impor berbagai jenis buah dan sayuran turut mendongkrak pamor buah lokal.
Selain itu, organisasi Masyarakat Pencinta Buah dan Sayur Nusantara (MPBSN) pernah menyatakan bahwa salah satu kelebihan buah lokal adalah pendeknya rantai distribusi dibanding produk impor. Dengan begitu, buah-buahan itu masih dalam kondisi segar ketika sampai di konsumen.
Sedangkan buah impor harus berhari-hari untuk bisa sampai ke tangan konsumen dalam kondisi yang tak segar. Penyimpanan di gudang pendingin kerap mengurangi kesegaran buah impor. (sys)