Yuliana Trihartati, Pejuang Kanker Bertahan dengan Kantong

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Kamis, 16/03/2017 16:10 WIB
Yuliana Trihartati, Pejuang Kanker Bertahan dengan Kantong Minder pernah Yuli rasakan karena kantong di perutnya. (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekilas tidak ada yang aneh dari Yuliana Trihartati. Nenek empat cucu ini nampak ceria dan murah senyum. Ia juga terlihat gesit walau usia sudah menginjak kepala enam.

"Sampai sekarang, hampir 21 tahun pakai kantong, bisa dibilang manusia berkantong," ucap Yuli, panggilan akrabnya, sembari tersenyum.

Yuli hingga kini hidup bersama kantong yang terpasang di bagian perutnya. Pada 1996, ia divonis terkena adenocarcinoma recti atau kanker kolorektal stadium dua. Kanker hanya berjarak 3 sentimeter dari anus, sehingga dokter terpaksa memotong usus besarnya.


"Setelah itu, saya tidak terpikir akan apa jadinya nanti. Waktu itu, dokter tidak menjelaskan," tuturnya saat ditemui di kantor Yayasan Kanker Indonesia pada Rabu (15/3).

Pada perut Yuli dibuat stoma atau lubang buatan pada abdomen untuk mengalirkan feses atau urine dari tubuh. Stoma harus diberi kantong untuk menampung feses. Beruntung ada perawat yang mau mengajarinya menggunakan kantong.

Pada waktu itu, stoma bag atau kantong stoma sulit didapat dan harganya mahal. Yuli bercerita ia harus memakai kantong gula yang ditempel dengan perekat dan membuat kulitnya iritasi.

"Puncaknya 1998, saat krisis. Distributor kantong habis. Saya cari ke pasar Pramuka dan yang ada kantong gula lagi," katanya.

Krisis moneter juga membuat perusahaan tempat Yuli bekerja bangkrut. Ia pun berjuang membesarkan putri semata wayangnya dengan berjualan gorengan, peralatan rumah tangga sampai kosmetik. Belum lagi ia harus menjalani kemoterapi di RS Dharmais.

Perjalanan dari rumahnya di Depok ke rumah sakit ia tempuh dengan bus. Yuli bercerita kantong stomanya pernah pecah karena diare di bus. Ia pun terpaksa ganti pakaian karena basah kuyup.

"Kemoterapi juga bisa membuat hemoglobin maupun tensi drop, jadi bisa saja pingsan. Makanya saya waktu itu berusaha membawa catatan berisi alamat rumah kalau ada apa-apa," ujarnya.

Hingga pada 2000, RS Dharmais menyarankan Yuli untuk datang ke Yayasan Kanker Indonesia. Di sana pun ia mendapatkan kantong yang lebih bagus tanpa biaya. Perjalanan Depok-Jakarta Pusat ia tempuh paling tidak seminggu sekali untuk mendapatkan kantong. Walau kadang ia harus kecewa karena petugas yang melayani pembagian kantong tidak ada, dan harus datang di hari berikutnya. Hal ini mendorongnya untuk menjadi relawan pembagi kantong bagi para ostomate atau penyandang stoma.

"Saya mendekati dokter Dita untuk mengajukan diri melayani pembagian kantong, lalu diperbolehkan. 24 Agustus 2009, saya mulai diperbantukan tapi di bawah pengawasan," jelas Yuli.

Motivator Bagi Para Ostomate

Menjalani hidup dengan kantong tidak selalu berjalan mulus. Rasa minder pernah Yuli rasakan karena kantong di perutnya. Kadang, kata Yuli, justru keluarga sendiri yang membuat dirinya minder.

"Waktu kita makan bersama, ada saudara yang bilang orang pada makan di meja makan, malah bawa wc," ucap Yuli menirukan.

Awalnya ia minder mendengar perkataan saudaranya, tapi lama-lama ia tidak ambil pusing. Bagi ostomate lain, mungkin kalau sudah ada stoma mereka merasa berat. Bisa juga merasa cacat atau berbeda dengan orang lain. Yuli berkata bahkan ada yang setahun tidak mau keluar untuk bersosialisasi.

"Saya sering memberi motivasi buat para ostomate, baik bersama YKI atau komunitas ostomate," katanya.

Menjadi ostomate, kata Yuli, bukanlah penghalang untuk beraktivitas. Buktinya, walau dengan kantong, ia masih tetap aktif berkegiatan di YKI seminggu dua kali. Bahkan ia masih sering senam dan berenang. Ia bercerita, ketika berenang tidak boleh terlalu lama berada di air, maksimal 30 menit. Karena kalau tidak, kantong bisa bocor.

"Saya masih suka berenang bareng cucu dan itu tidak masalah," ucapnya.

Kebocoran kantong bisa disebabkan diare. Untuk mencegah diare, Yuli tidak mengonsumsi makanan pedas, santan, berpengawet, gorengan, daging merah dan juga makanan cepat saji. Namun, kata Yuli, tiap orang bisa berbeda, karena ada pula ostomate yang tahan dengan makanan pedas.

Yuli berpesan, mencegah potensi kanker itu dengan dua hal, menjaga pola makan dan gaya hidup. Ia menyebut, pola makannya sewaktu bekerjalah yang membuat ia terkena kanker.

"Saya dulu kena kanker karena makanan cepat saji. Dulu jaman kerja di kantor, hampir tiap hari makan fried chicken," kenangnya.