PESONA JAWA TENGAH

Mengenal Klaster Penyingkap 'Misteri' di Museum Sangiran

Elisa Valenta, CNN Indonesia | Minggu, 23/04/2017 13:51 WIB
Museum Manusia Purba Sangiran menyimpan banyak 'misteri', yang terdapat dalam lima klaster dalam kawasannya. Museum Manusia Purba Sangiran mulai dibuka pada 2005. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Sangiran, Sragen, CNN Indonesia -- Menginjakkan kaki di Karisidenan Surakarta belum lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke Museum Manusia Purba Sangiran. Terletak di Desa Krikilan, Sragen, wisatawan bisa berkendara sekitar 40 menit dari pusat kota Solo untuk menuju ke sana.

Museum Manusia Purba Sangiran, atau yang memiliki nama internasional Sangiran Early Man Museum, mulai dibuka pada 2005. Keberadaan museum ini secara perlahan membuka kotak misteri asal usul manusia purba di Indonesia dan dunia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta Kementerian Pariwisata telah mengembangkan Museum Sangiran menjadi lima klaster yang memiliki museum.


Lima klaster tersebut ialah Museum Purba Sangiran Klaster Krikilan, Museum Purba Sangiran Klaster Ngebung, Museum Purba Sangiran Klaster Bukuran, Museum Klaster Purba Sangiran Dayu, dan Museum Lapangan Manyarejo.

Pemerintah menjadikan Klaster Krikilan sebagai Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, demi pengembangan ilmu pengetahuan mengenai sejarah nenek moyang manusia.

Di Klaster Krikilan terdapat tiga ruang pameran. Ruang Pamer 1 mengenai Kekayaan Sangiran (Wealth of Sangiran), Ruang Pamer 2 mengenai Langkah-Langkah Kemanusiaan (Steps of Humanity), dan Ruang Pamer 3 mengenai Masa Keemasan Homo Erectus - 500.000 Tahun yang Lalu (Golden Era of Homo Erectus – 500.000 Years Ago).

Masing-masing ruangan berukuran luas serta memajang beragam foto, poster, diorama, dan replika beragam jenis manusia dan hewan purba yang pernah hidup di dunia, lengkap dengan keterangan berbahasa Indonesia dan Inggris.

Klaster Dayu, yang berjarak sekitar 6 kilometer dari Klaster Krikilan, memiliki contoh nyata lapisan tanah dari berbagai era. Dari mulai Formasi Pucangan (Plestosen Bawah 1,8 Juta-900 ribu tahun yang lalu), hingga Formasi Notopuro (Plestosen Atas 250 ribu-100 ribu tahun lalu).

Penyajian informasi di Klaster Dayu juga dilengkapi dengan kecanggihan teknologi terkini. Pengunjung bisa menikmati fasilitas menggunakan teknologi berbasis aplikasi yang disediakan oleh Google Store.

Melalui aplikasi tersebut, pengunjung dapat menggunakan telepon genggam pintar mereka untuk memperoleh informasi pada objek pamer. Fitur informasi yang disajikan dalam aplikasi itu berupa informasi virtual yang disajikan berbentuk tulisan, suara, dan objek 3D.

Sedikit menjauh 2 kilometer dari Klaster Dayu, dan harus dilalui setelah menyeberang Sungai Dayu, terdapat Klaster Nano.

Nama ‘nano’ diberikan karena klaster ini berukuran lebih kecil daripada klaster lainnya. Walau demikian, Klaster Nano menyimpan sejarah purba yang tak kalah besar.

Pengunjung bisa merasakan sensasi menelusuri penemuan fosil tengkorak manusia purba terlengkap di klaster ini.

Klaster Nano menjadi area penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Museé National de’Naturelle Historie (MNHN) sejak 2009. Hasil penelitiannya juga dipamerkan untuk pengunjung.

TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK