Cerita di Balik Inovasi Kesehatan Liberia, Peraih TED Prize

Rahman Indra, CNN Indonesia | Rabu, 26/04/2017 15:48 WIB
Raj Panjabi, dokter yang juga pendiri Last Mile Health merekrut dan melatih pekerja farmasi, dan berharap dapat mendirikan Akademi Farmasi masa depan. Raj Panjabi, dokter yang juga pendiri Last Mile Health merekrut dan melatih pekerja farmasi, dan berharap dapat mendirikan Akademi Farmasi masa depan. (Foto: AFP PHOTO / Glenn CHAPMAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raj Panjabi baru saja menerima penghargaan bergengsi di bidang kesehatan, TED Prize pada Selasa (25/4). Upayanya dalam membuka akses perawatan kesehatan bagi semua orang dan melatih anak muda sebagai tenaga kesehatan dianggap sebagai sebuah inovasi yang visioner. 

Panjabi, yang terbang ke AS karena perang sipil di negaranya Liberia dan kembali lagi ke tanah kelahirannya mendapati masyarakat di pedesaan di mana ia tinggal putus asa mendapatkan layanan kesehatan.

Keadaan itu mendorong dokter berpengalaman ini mendirikan Last Mile Health di Liberia. Ia merekrut, melatih dan memberi peralatan untuk sejumlah orang yang nantinya menjadi tenaga kesehatan atau farmasi di klinik setempat.


Seperti dilansir dari AFP, Panjabi menjabarkan akan kiprah organisasinya itu yang terkenal dengan 'gagasan yang patut disebarluaskan.'

"Sudah bukan rahasia lagi kalau sakit itu universal bisa terjadi pada siapa saja, tapi akses terhadap perawatan tidak," ungkap Panjabi.

Beranjak dari itu, ia memulai upaya Last Mile Health dari uang pribadinya, yang ia dapatkan sebagai hadiah pernikahan. Upaya itu di antaranya menyediakan layanan kesehatan bagi ribuan orang, dan mendapat dukungan dari kementerian kesehatan Liberia.

Sewaktu terjadi krisis Ebola, organisasi Panjabi mendukung pemerintah Liberia dengan melatih sekitar 1,300 perawat untuk pencegahan infeksi dan kontrol di klinik.

"Sebagai warga dunia, kita hidup di momen yang kacau," ungkap Anna Verghese, direktur TED Prize. "Raj memahami lebih dari siapapun akan penyakit yang tak mengenal batasan ataupun warga negara seseorang," tambah dia.

Pasukan tenaga kesehatan 

Panjabi memiliki impian suatu saat dirinya dapat membangun akademi kesehatan global yang merekrut 'pasukan tenaga farmasi di seluruh dunia.'

Mereka berasal dari lulusan sekolah menengah pertama atau atas yang diberi pelatihan, obat-obatan, dan dukungan akan perlengkapan kesehatan untuk tetangga di sekitarnya.

"Tantangannya adalah kita tak dapat melakukan itu tanpa dukungan teknologi," ujarnya. "Banyak orang yang khawatir dengan teknologi saat ini, sementara dalam hal ini teknologi mestinya dapat membantu menciptakan lapangan kerja," tambah dia.

Pendirian akademi akan diawali di Liberia, di mana Last Mile Health telah beroperasi selama kurang lebih satu dekade, dengan harapan dapat meluas ke berbagai negara lain di dunia.

Ponsel, peralatan kesehatan yang terjangkau, dan pendidikan via online menjadi komponen dalam merealisasikan gagasannya itu.

"Saya tertarik untuk melihat revolusi antara pendidikan digital dan kesehatan digital," ujarnya memaparkan.

Visi akademi juga bekerja sama dengan pemerintah dalam melatih sejumlah relawan yang mendapat akreditasi yang kemudian berguna buat karier mereka di masa depan. Akademi juga berkolaborasi dengan pengusaha dalam hal inovasi, seperti energi solar untuk medis, di area yang sulit atau pedalaman.

"Inilah saatnya mentransformasi dunia kesehatan di seluruh dunia," ujar Panjabi.