Koleksi 'Elsewhere', Upaya Biyan Keluar dari Zona Nyaman

Rahman Indra, CNN Indonesia | Selasa, 16/05/2017 19:53 WIB
Koleksi 'Elsewhere', Upaya Biyan Keluar dari Zona Nyaman Setelah 35 tahun di dunia mode, desainer Biyan berupaya menghadirkan sesuatu yang baru dalam koleksinya Spring/Summer 2018 bertajuk 'Elsewhere'. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mendengar nama desainer Biyan seketika ingatan akan langsung membayangkan busana wanita yang anggun, feminin dan elegan. Jauh dari busana ketat pas badan, tapi longgar dan penuh hiasan yang dikerjakan tangan. Gaun-gaun itu juga dihiasi penuh bunga dan punya nilai tersendiri yang membuat siapapun pemakainya percaya diri.

Setelah lebih dari tiga dekade melekat dengan rancangan ikoniknya itu, Biyan lewat label atas namanya sendiri lalu mencoba keluar dari zona nyaman yang sudah lama ia diami.

Alasannya, ia ingin mengikuti perkembangan zaman yang makin riuh, hiruk pikuk, dan serba cepat. Akan tetapi, kata dia, keriuhan itu masih dapat membuat harmonisasi yang kemudian ia tuangkan ke dalam karyanya.


Perubahan ini, juga tentunya ia tujukan untuk menjangkau generasi kekinian atau anak-anak muda.

Maka, dalam koleksi yang ia beri tajuk 'Elsewhere', Spring/Summer 2018 yang ditampilkan di The Dharmawangsa, Jakarta pada Senin (15/5), Biyan menghadirkan beragam jenis rancangan yang mendekonstruksi konsep rancangannya selama ini.

Ada notasi-notasi kontras yang tampil dalam beragam siluet ekspresif dengan bentuk-bentuk dekonstruktif, bermain-main, dan motif yang penuh dari atas hingga ke bawah.

Konsep saling tabrak itu juga ia terapkan dengan perpaduan kontras bahan sheer yang feminin dengan motif cetak yang berani, atau aplikasi bordir kaya tekstur di atas bahan pinstripes yang ringan.

Sementara untuk warna, ia menghadirkan ragam warna yang juga saling tabrak diawali dengan warna cerah yang kuat seperti merah koral, oranye, kuning segar, putih hingga kemudian pada gaun biru, biru navy dan hitam.

Setiap busana memberi pernyataan sendiri dan memungkinkan setiap pemakainya untuk bereksperimen. Namun, eksperimen dalam hal ini lebih ditujukan pada mereka yang menyukai tantangan dan mau juga keluar dari zona nyaman.

Koleksi 'Elsewhere', Upaya Biyan Keluar dari Zona Nyaman Koleksi 'Elsewhere' Biyan, di The Dharmawangsa, Jakarta, Senin (15/5). (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Ingin move-on

Ditemui disela-sela peragaan busananya yang berbarengan dengan pengenalan Samsung S8, Biyan mengatakan dirinya ingin move-on, melakukan sesuatu yang baru, kekinian dan juga relevan.

“Saya ingin menghadirkan sesuatu yang baru dalam struktur, pewarnaan, dan mencoba merangkai komposisi, bisa dibilang ini soft-deconstruction,” ujarnya menjelaskan.

Dekonstruksi ini, kata dia, lalu memungkinkan bagi pemakai busana terpisah, atasan dengan bawahan yang bisa dipadupadan dengan yang lain. Konsep ini sebelumnya tidak melekat dan jarang sekali diterapkan Biyan dalam rancangannya.

“Saya ingin membuat eksperimen bagi semua orang,” tuturnya.

Eksperimen itu ia tuangkan dalam mood board yang mengusung semangat 'chaos in harmony', atau konsep saling tabrak yang masih membuat sesuatu harmonis dan enak dipandang. Pergeseran nilai estetika ini, disampaikannya, sebagai bagian dari perjalanan kreatif yang ia jalani.

Koleksi 'Elsewhere', Upaya Biyan Keluar dari Zona Nyaman Koleksi 'Elsewhere', Upaya Biyan Keluar dari Zona Nyaman. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino) 
Sebuah pertaruhan

Merunut kembali rekam jejak perjalanannya di dunia fesyen, Biyan yang lulus dari sekolah mode Muller & Sohn Private Mode Schule (Jerman) mendirikan label 'Biyan' pada 1984, dan menyusul lini keduanya 'Studio 133 Biyan' setahun setelahnya.

Seiring waktu, ia menjajaki pasar internasional dan memiliki stockist di sejumlah ritel bergengsi internasional seperti Net-A-Porter, Le Bon Marche (Paris), Exor (Italia), Club 21 (Bangkok), Saks Fifth Avenue (Dubai), Joyce (Hong Kong), Blake (Chicago), Maria Luisa (Qatar), Rubaiyat (Saudi Arabia), Sauvage (Kazakhstan), dan Bloomingdales (Kuwait).

Dalam tujuh tahun terakhir Biyan rutin menggelar peragaan busana tahunan. Dimulai pada 2010, ia menggelar peragaan busana di Hotel Mulia Jakarta untuk koleksi Spring/Summer yang ia beri tajuk 'As Time Goes By', diikuti kemudian dengan 'Orient Revisited', 'Foliage', 'Postcard', dan 'Seruni'.

Sejak 2016, ia lalu menggeser peragaan busananya ke The Dharmawangsa Jakarta dengan peragaan busana koleksi 'Dreams' untuk S/S 2016 dan 'Benang Merah' untuk S/S 2017.

Koleksi 'Elsewhere', Upaya Biyan Keluar dari Zona Nyaman Koleksi 'Elsewhere' rancangan Biyan, di The Dharmawangsa, Jakarta, Senin (15/5). (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jika rutin memperhatikan peragaan busananya dari tahun ke tahun ini dipastikan akan seperti bernostalgia ketika melihat koleksi 'Elsewhere'. Hanya saja, Biyan mendekonstruksi ulang beberapa rancangannya, dan itu tak banyak.

Sebagai contoh, atasan gaun anggun penuh hiasan bunga yang awalnya di bagian depan bisa jadi diputar ditempatkan di bagian belakang atau bawahan. Lalu, ia memadumadankannya dengan celana motif print dengan warna senada atau kontras.

Sebagai sebuah rancangan 'eksperimen' atau 'ujicoba' yang sebelumnya ia sampaikan, maka koleksi ini serta merta tidak mudah begitu saja bisa diterima. Biyan seolah bergerak 'menjauh' dan menggeser kesan anggun dan elegan yang melekat di busananya yang memang sudah secara tak tersurat telah menjadi standar tersendiri bagi penggemar rancangannya selama ini.

Jika dulu, mengenakan busana Biyan adalah prestige, kali ini bisa jadi sedikit bergeser. Biyan seolah mempertaruhkan koleksinya kali ini dan memberikan pilihan pada pemakai untuk memutuskan. Apakah bersedia mengikuti langkah Biyan untuk sama-sama keluar dari zona nyaman, atau malah menjauhinya?

Sejauh ini, beberapa item dari koleksi yang ditampilkan tidak semua bisa diterima dan memberi tampilan yang enak dipandang. Beberapa di antaranya justru sebaliknya.

Padupadan kontras dan potongan celana gantung yang dihadirkan Biyan masih jadi tanda tanya besar dan berujung pada satu titik. Apakah ini saatnya Biyan memiliki seorang desainer muda sebagai creative director yang akan membantunya untuk menjembatani keinginan 'menyeberang' dan menjangkau generasi muda dan kekinian?

Siapa tahu upaya untuk menyajikan 'hal baru' ini akan berhasil.