Pada 27 Januari 2017 lalu, Trump menerbitkan perintah eksekutif larangan imigrasi bagi warga tujuh negara muslim untuk masuk ke negaranya dengan alasan keamanan nasional.
Meski kebijakan kontroversial tersebut akhirnya dijegal Pengadilan Banding San Fransisco yang lebih tinggi, namun Trump tampaknya tidak patah arang dan terus mencari cara untuk melarang warga dari negara-negara yang diduga asal teroris untuk masuk negaranya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Travelers Today, angkanya mencapai US$1,3 miliar sepanjang tahun ini saja.
"Industri yang terdampak mulai dari hotel, rental mobil, restauran, dan toko ritel tempat berbelanja para turis di AS," bunyi riset GBTA, dikutip Rabu (24/5).
Menurut analis GBTA, imbas larangan imigrasi bagi warga tujuh negara muslim di atas oleh Trump, juga akan merembet ke perjalanan bisnis yang dilakukan oleh warga negara-negara Afrika ke AS.
GBTA menghitung setidaknya US$250 juta pendapatan sektor pariwisata AS dari penundaan perjalanan bisnis warga Afrika dan negara-negara di Timur Tengah akan terjadi tahun ini.
"Imbasnya, ada 4.200 warga AS yang kehilangan pekerjaannya di sektor pariwisata. Ribuan pekerja itu akan kehilangan penghasilan sebesar US$175 juta secara total," ujar GBTA.
Imbas proteksionisme berlebihan yang dilakukan Trump menurut GBTA akan memberi dampak jangka panjang bagi sektor pariwisata AS. Pasalnya di tengah kondisi ekonomi dunia yang tengah lesu seperti saat ini, bisnis tersebut hanya bisa menikmati pertumbuhan dalam waktu panjang.
"Formula kebijakan yang salah akan menyebabkan ketidakstabilan bagi industri pariwisata dan ekonomi AS secara keseluruhan," tegas GBTA.
(ard)