Studi: Filter Rokok Membahayakan Paru-paru

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Rabu, 31/05/2017 20:22 WIB
Studi: Filter Rokok Membahayakan Paru-paru Sebuah penelitian belum lama ini menyebutkan jika rokok dengan penggunaan filter justru lebih rentan terhadap kanker paru-paru, meski diklaim rendah tar. (Foto: REUTERS/David W Cerny)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat pasti tidak asing dengan sebutan rokok putih atau rokok ringan. Biasanya, rokok tersebut menggunakan filter yang berbentuk seperti gabus di ujung rokok untuk dihisap oleh perokok.

Namun, penelitian belum lama ini menyebutkan jika rokok dengan penggunaan filter justru lebih rentan terhadap kanker paru-paru. Padahal, rokok yang dikenalkan sejak 50 tahun lalu itu mengklaim sebagai rokok ringan dengan jumlah tar yang rendah.

Dilansir dari The Independent, penelitian yang dituliskan dalam Jurnal Institut Kanker Nasional itu mengatakan, kanker yang disebut dengan adenokarsinoma meningkat selama 50 tahun terakhir. Peningkatan kanker itu seiring dengan bertambahnya permintaan pada rokok putih.


Adenokarsinoma merupakan kanker yang dimulai dari sel yang melapisi organ internal tertentu dan menyerupai kelenjar.


Biasanya, adenokarsinoma menyerang jaringan pembentuk darah dan dicirikan oleh pembesaran kelenjar getah bening, penyerangan limpa dan sumsum tulang serta produksi sel darah putih secara berlebihan.

Pemimpin penelitian, Dr Peter Shields asal Universitas Ohio di Amerika Serikat mengatakan, penciptaan rokok putih telah menipu masyarakat dengan iming-iming jika rokok tersebut aman untuk kesehatan.

"Ini dilakukan untuk menipu perokok dan masyarakat berpikir bahwa mereka sebenarnya lebih aman dari segi kesehatan," ujarnya.

"Data kami menunjukkan hubungan yang jelas antara penambahan lubang ventilasi rokok dengan peningkatan adenokarsinoma paru yang terlihat dalam waktu 20 tahun terakhir," ucapnya kemudian.

Dari penelitian tersebut, mereka meminta kepada Food and Drugs Administratioin (FDA) AS untuk melarang penggunaan filter pada rokok. Hal itu didasari atas uji coba klinis, studi epidomologi dan investigasi toxilogical di sejumlah perusahaan tembakau.


Diketahui, Amerika Serikat dan Inggris pun telah melarang penggunaan label di setiap bungkus rokok dengan kata ringan atau tar rendah.

Peneliti menilai, filter pada rokok putih akan membuat perokok lebih banyak menghirup asap yang tinggi dengan zat kimia dan racun lainnya.

"Filter rokok mengubah bagaimana tembakau dibakar, menghasilkan lebih banyak karsinogen yang memungkinkan asap mencapai bagian paru yang lebih dalam dimana adenokarsinoma lebih sering terjadi," tutur Shields.

Meski demikian, mereka mengklaim akan melakukan penelitian lanjutan untuk memastikan pelarangan filter rokok tidak akan meningkatkan kecanduan akan rokok.

Laporan dari studi terbaru ini keluar menjelang peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tanggal 31 Mei. Gerakan ini menyerukan para perokok agar tidak merokok atau menghisap tembakau selama 24 jam serentak di seluruh dunia. Peringatan hari tanpa tembakau ini ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 1987.