Kereta Gantung Tak Gantikan Sensasi Seru Mendaki Gunung

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Jumat, 14/07/2017 16:24 WIB
Mendaki gunung memang melelahkan, tapi bonus pengalaman seru dan pemandangan indah. Apa jadinya jika ada kereta gantung ke puncak Gunung Rinjani? Mendaki gunung memang melelahkan, tapi bonus pengalaman seru dan pemandangan indah. Apa jadinya jika ada kereta gantung ke puncak Gunung Rinjani? (Thinkstock/Ifew)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jam menunjukkan pukul dua pagi. Udara dingin menggigit kulit. Suasana di Plawangan Sembalun, pos terakhir sebelum mencapai puncak Gunung Rinjani, masih gelap gulita.

Bersama belasan pendaki lainnya, Mundri yang datang bersama temannya, melangkah perlahan karena medan jalan berbatu dan berpasir.

Napas mulai menderu, tanda tubuh melelah. Jam menunjukkan pukul empat pagi, para pendaki memperkirakan kalau perjuangan menuju puncak tinggal satu jam lagi.


Gunung yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu seakan menantang para pendaki yang ingin menaklukannya. Angin menerbangkan pasir yang membuat langkah menjadi berat. Salah menapak bisa masuk jurang, pilihannya di kanan atau di kiri.

Tenaga hampir tak tersisa, hanya usaha yang jadi bekal Mundri untuk sampai ke atas.

Beruntung, doanya minta selamat terjawab. Tepat pukul lima pagi, ia sudah bisa duduk manis di atas puncak Gunung Rinjani. Tersenyum lebar dan terengah-engah.


Berdiri di atas puncak Gunung Rinjani dan enam gunung lainnya yang masuk dalam Tujuh Puncak Tertinggi di Indonesia, memang menjadi salah satu impiannya dalam hidup, seperti yang dikatakan Mundri saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com pada Kamis (13/7).

Usai mendapat gaji dan cuti dari kantor pertamanya, Mundri pun langsung merencanakan pendakian di Gunung Rinjani, yang akhirnya terlaksana pada Agustus 2013.

Setelah Gunung Semeru, Gunung Latimojong, Gunung Kerinci dan Gunung Rinjani, ia tinggal naik ke puncak Gunung Binaiya, Gunung Bukit Raya dan Gunung Cartenz untuk menuntaskan daftar impiannya.

“Saya suka mendaki gunung karena selalu memberikan pengalaman seru, mulai dari persiapannya sampai perjalanannya. Di gunung juga sepi, sehingga saya bisa merasakan keindahan ciptaan Tuhan dengan lebih khusyuk,” kata Mundri sambil tersenyum.


Selain uang dan waktu, Mundri selalu melakukan persiapan fisik sebelum mendaki gunung. Bersepeda dan berlari setiap ada kesempatan disebutnya sebagai terbaik untuk mengatur napas.

Saat mendaki gunung, Mundri selalu menggunakan jasa porter, yang berasal dari warga sekitar. Mereka bertugas membawakan barang dan memasak makanan bagi para pendaki yang menyewanya. Hitungan bayarannya mulai dari ratusan ribu per hari, tergantung tingkat kesulitan pendakian.

“Walau sudah melakukan persiapan fisik dan menyewa jasa porter, tetap saja mendaki gunung menjadi kegiatan yang melelahkan. Yang membedakan, pendaki profesional mungkin lebih cepat pulih dari lelah,” ujar Mundri.

“Tapi, pendaki pemula juga tetap bisa melakukannya, asal memiliki persiapan yang matang,” lanjutnya.

Kereta Gantung dan Gunung Barujari atau yang disebut Gunung Baru yang berada di sisi timur kaldera Gunung Rinjani saat mengeluarkan debu vulkanik. (ANTARA FOTO/Lalu Edi)

Berbicara mengenai lelahnya mendaki gunung, akhir tahun lalu ramai diberitakan kalau Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT berencana untuk membangun akses kereta gantung di Gunung Rinjani untuk memudahkan pendakian.

Jika disetujui pemerintah pusat, pembangunan kereta gantung nantinya akan bekerjasama dengan investor dari China, yang dalam presentasinya akan membangun kereta gantung dari kebun kopi Desa Lantan menuju Gunung Rinjani.

Diharapkan semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke gunung dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani itu.

Sebagai orang yang gemar mendaki gunung, Mundri menyayangkan rencana tersebut. Karena menurutnya, rasa lelah merupakan bagian dari pengalaman seru mendaki gunung.

“Kalau lelah mendaki, kita bisa istirahat sambil menikmati pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Naik kereta gantung memang lebih cepat, tapi tidak bersentuhan langsung dengan alam,” ujar Mundri.

“Ditambah lagi cuaca gunung sangat tidak menentu. Saya membayangkan kalau tiba-tiba ada angin kencang atau hujan besar, nanti keselamatan penumpang kereta gantungnya terancam,” lanjutnya.

Kereta Gantung dan Sejumlah pendaki di Bukit Pergasingan, Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Selong, Lombok Timur, NTB. (ANTARA FOTO/Eka Fitriani)

Senada dengan Mundri, Greenpeace Indonesia juga merasa keberatan dengan rencana pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani.

Bagi organisasi lingkungan global itu, pengembangan wisata di taman nasional tidak boleh mengurangi fungsi pokok taman nasional, yaitu sebagai kawasan pelestarian alam, seperti yang diatur dalam UU No.5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Mengingat pentingnya fungsi taman nasional sesuai aturan pemerintah, maka model pengelolaan wisata yang dikembangkan harus mendukung keberlangsungan dan terjaganya fungsi tersebut,” kata Anissa Rahmawati, Juru Kampanye Senior Hutan Greenpeace Indonesia, yang dihubungi oleh CNNIndonesia.com pada Jumat (14/7).

“Saya sudah mendengar tentang rencana pembangunan tersebut. Saya dengar kereta gantungnya bisa mengangkut 300 penumpang per jam. Tapi, konsep pengembangan wisata massal rasanya tidak cocok untuk taman nasional,” lanjutnya.


Kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Gunung Rinjani terus meningkat setiap tahunnya.

Dikutip dari data resmi pengelola, sepanjang 2016, sebanyak 91 ribu wisatawan telah berkunjung, dari total 3 juta wisatawan yang datang ke Lombok.

Namun menurut Anissa, keberadaan kereta gantung di Gunung Rinjani dikhawatirkan membuat pengembangan wisata akan berorientasi bisnis alias hanya ditujukkan bagi wisatawan berduit.

“Keberadaan pendaki memberi keuntungan bagi warga sekitar, salah satunya yang berprofesi sebagai porter. Keberadaan kereta gantung berpotensi mengurangi pendapatan mereka,” ujar Anissa.

“Pengetahuan kita sebagai manusia terkait dampak lingkungan jangka panjang memang terbatas. Jika pembangunan kereta gantung diperkirakan memengaruhi kelestarian alam Gunung Rinjani yang sedang berusaha dipertahankan, sebaiknya bisa dihindari sejak awal,” pungkasnya.

(ard)
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK