Studi: Kaitan Erat Bunuh Diri dengan Masalah Finansial

Ferdy Thaeras, CNN Indonesia | Jumat, 21/07/2017 14:25 WIB
Studi: Kaitan Erat Bunuh Diri dengan Masalah Finansial Ketidakjelasan keadaan finasial, inflasi hingga kehilangan pekerjaan merupakan beberapa faktor yang berkontribusi membuat orang mengalami depresi. (Foto: Thinkstock/Purestock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak bisa dimungkiri bahwa salah satu penyebab bunuh diri adalah masalah ekonomi. Ketidakjelasan keadaan finansial, inflasi hingga kehilangan pekerjaan merupakan beberapa faktor yang berkontribusi membuat orang mengalami depresi.

Dilansir dari Psychology Today, sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukan bahwa pada tahun 2008, sekitar 13 persen dari total orang yang mati bunuh diri  ternyata mengalami masalah pekerjaan dan keuangan.  

Di Amerika bahkan diadakan Pekan Pencegahan Bunuh Diri setiap tanggal 4 hingga 10 September. Hal ini untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya depresi yang mengarah kepada bunuh diri yang dilakukan orang-orang dan apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya.

Menurut psikolog Lisa Firestone Ph.D, ada banyak kesalahpahaman tentang aksi bunuh diri, di antaranya adalah pelaku yang ingin mati tidak bisa ditolong. Kenyataannya, hal ini bisa diobati dengan komunikasi yang terarah.

Saat seseorang ingin mengakhiri hidupnya, ia merasa dirinya adalah musuh sendiri. Rasa membenci diri sendiri ini yang harus ditelusuri apa penyebabnya dan solusi untuk menghadapinya tentu berbeda-beda.

Almarhum Profesor psikologi, Israel Orbach mengatakan,”Tidak cukup hanya menyayangi pasien yang ingin bunuh diri, tidak cukup hanya memberinya harapan ataupun lingkungan baru. Anda harus berhadapan dengan proses menghancurkan diri yang merusak fisik maupun mentalnya.”

Ahli ekonomi, Christopher J. Ruhm menilai dengan meningkatnya angka pengangguran, angka bunuh diri juga bertambah di Amerika. Belum lagi orang-orang yang kehilangan pekerjaan, rumah hingga jaminan pensiun.

Studi di 26 negara Uni Eropa mengungkapkan, setiap 1% kenaikan jumlah pengangguran, maka terjadi peningkatan bunuh diri sebesar 0.79% pada orang yang berusia dibawah 65 tahun.

Di Amerika Serikat, setiap terjadi peningkatan pengangguran sebesar 1%, jumlah kasus bunuh diri  pun meningkat 1.3%. Hal ini dikarenakan bukan hanya karena putus asa, namun juga rasa malu, takut dipermalukan, hingga sedikitnya atau bahkan tidak ada orang lain yang bisa membantu.

Dikutip dari Jurnal yang diterbitkan American Psychological Association, ada tiga tahap terapi piskis untuk mencegah terjadinya bunuh diri. Pertama adalah lebih meluangkan waktu untuk memperhatikan diri atau orang lain.

Kedua, mengajukan pertanyaan, dan belajar lebih banyak dari perasaan putus asa hingga rasa tidak bisa ditolong penderita depresi dan mengarahkan mereka melewati masa kelam tersebut.

Ketiga, mengembangkan rasa sadar diri dan membentuk identitas pribadi yang lebih baik. Salah satunya membuang jauh semua perasaan negatif terhadap diri sendiri dan menggantinya dengan hal-hal positif.