Mengenal Dua Tipe Penyakit Jantung Bawaan Bayi

Filani Olyvia, CNN Indonesia | Senin, 18/09/2017 10:41 WIB
Mengenal Dua Tipe Penyakit Jantung Bawaan Bayi Data Ikatan Dokter Anak Indonesia pada 2014 menyebut, dari 1000 kelahiran, sebanyak 7 sampai 8 bayi dilahirkan dengan penyakit jantung bawaan (PJB). (Thinkstock/Casanowe)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sakit jantung yang dialami bayi Debora mengungkapkan fakta bahwa sakit jantung bukanlah penyakit orang tua. Sakit jantung juga bisa dialami sejak bayi.

Tak dimungkiri, untuk semua mahluk hidup, jantung merupakan organ vital yang memegang peran penting pada kehidupan. Struktur jantung normal dibutuhkan untuk mengatur peredaran darah pada tubuh manusia guna mencukupi kebutuhan oksigen dan nutrisinya.

Namun, data Ikatan Dokter Anak Indonesia pada 2014 menyebut, dari 1000 kelahiran, sebanyak 7 sampai 8 bayi dilahirkan dengan penyakit jantung bawaan (PJB).


Dengan angka kelahiran berkisar 4,5 juta per tahun, maka diperkirakan ada 45 ribu bayi dengan PJB lahir di Indonesia setiap tahunnya.

Sebagian dari bayi penderita PJB tersebut pun meninggal di tahun pertama karena penyakitnya tak terdiagnosa sejak awal.


Spesialis kardiologi pediatrik dan penyakit jantung bawaaan dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Oktavia Liliyasari menjelaskan, penyakit jantung bawaan merupakan penyakit atau kelainan struktur jantung, seperti lubang pada sekat ruang jantung, atau penyempitan pembuluh darah yang berasal atau bermuara ke jantung.

Penyebabnya belum pernah diketahui secara pasti. Namun yang perlu dipahami, pembentukan jantung pada janin, sudah terjadi pada trimester pertama kehamilan. Tepatnya 4 minggu setelah pembuahan, saat seorang ibu baru mulai menyadari kehamilannya.

"Oleh karena itu, kehamilan itu harus direncanakan. Cek kondisi kesehatan ibu lebih dulu, karena bila dalam 3 bulan pertama kehamilan terjadi gangguan, maka kemungkinan bayi mengalami catat jantung bawaan bakal lebih besar," kata Oktavia kepada CNNIndonesia.com, melalui sambungan telepon pada Kamis (14/9).

Masalahnya, meski jadi salah satu penyebab kematian terbesar pada bayi, PJB sering kali tidak memberikan gejala atau tanda khas saat bayi baru lahir.


Saat transisi dari janin ke periode pasca lahir, pergerakan sirkulasi darah dan sistem pernapasan bayi masih terlihat normal dan baik-baik saja. Observasi adanya kelainan berdasarkan kondisi klinis memang lebih mudah dilakukan pada tingkatan PJB berat.

Secara garis besar, kata Oktavia, PJB dapat dikelompokkan menjadi dua tipe.

Tipe pertama disebut PJB biru atau sianotik. Cenderung lebih mudah dikenali karena PJB jenis ini memberikan warna kebiruan (sianosis) pada kulit dan selaput lendir bayi. Terutama di daerah lidah/bibir dan ujung-ujung anggota gerak, akibat kurangnya kadar oksigen di dalam darah.

Tipe yang kedua disebut dengan PJB non-sianotik, yaitu PJB yang tidak memberikan warna kebiruan pada tubuh anak. Kelainan struktur jantung pada penderita PJB non-sianotik baru dapat dikenali saat bayi sering kesulitan bernapas saat sedang menyusui, mengalami bengkak pada wajah, anggota gerak dan perut, serta mengalami gangguan pertumbuhan.

Kendati demikian, Oktavia menuturkan, tidak semua bayi dengan PJB biru dapat diberikan tindakan pertolongan dengan cepat, karena kadar dan derajat warna kebiruan pada masing-masing penderita pun berbeda.

"Ada memang yang baru ketahuan menderita PJB saat bahkan sudah berusia 10 tahun, karena warna birunya tidak terlihat lantaran sang anak juga menderita anemia sehingga secara klinis tidak terlihat."

"Pemeriksaan dengan echocardiography pasca lahir masih tetap harus dilakukan pada anak yang dikhawatirkan menderita PJB untuk mengetahui implikasi lebih lanjut," kata dia.