8 Faktor Penyebab Bayi Lahir dengan Cacat Jantung

Filani Olyvia , CNN Indonesia | Selasa, 12/09/2017 09:00 WIB
8 Faktor Penyebab Bayi Lahir dengan Cacat Jantung Bayi Debora yang meninggal pekan lalu memiliki riwayat lahir prematur dan penyakit jantung bawaan. Ada beberapa faktor penyebab bayi lahir cacat jantung. (Foto: Thinkstock/staticnak1983)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meninggalnya seorang bayi berusia empat bulan di RS Mitra Keluarga, bernama Debora Simanjorang pada Minggu (3/9) pekan lalu sontak jadi sorotan publik. Sejumlah media massa memberitakan bahwa lambannya penanganan pihak rumah sakit menjadi salah satu penyebab kematian Debora.

Di samping itu, anak dari pasangan Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang ini diketahui memiliki riwayat lahir prematur dan riwayat penyakit jantung bawaan atau kelainan jantung kongenital.

Pada bayi, biasanya ditandai dengan warna kebiruan pada kuku, kulit, dan bibir. Sejumlah masalah kesehatan, mulai dari gangguan pertumbuhan, serta beberapa gejala seperti sesak napas, pusing dan mudah merasa lelah juga dapat sewaktu-waktu menyerang mereka yang memiliki kelainan jantung kongenital. Namun, tidak semua orang dengan kelainan jantung kongenital ini mengalami gangguan fungsi jantung.

Pada dasarnya, cacat jantung pada bayi disebabkan oleh ketidaksempurnaan struktur jantung. Seperti, kelainan otot jantung yang menyebabkan jantung tidak memompa darah sebagai mana mestinya, atau adanya lubang dan katup jantung yang tidak menutup sempurna sehingga terjadi kebocoran aliran darah.


Dalam kasus Debora, memang tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan ia lahir dengan kondisi jantung tidak sempurna. Namun, ada beberapa faktor yang pastinya dapat meningkatkan risiko bayi terlahir dengan kelainan jantung kongenital.

Mengutip laporan Hello Sehat, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan bayi lahir dengan cacat jantung. Berikut beberapa di antaranya:

1. Faktor genetik

Cacat jantung pada bayi lebih mungkin terjadi pada keluarga dengan riwayat kelainan jantung yang sama. Baik faktor genetik suami maupun istri dapat meningkatkan risiko perkembangan jantung abnormal pada bayi. Mengutip laman NHS, down syndrome adalah kondisi genetik yang diketahui paling banyak menyebabkan penyakit jantung kongenital.

2. Hubungan darah antara ibu dan ayah (konsanguinus)

Perkawinan dengan hubungan kekerabatan yang terlalu dekat dapat meningkatkan risiko berbagai kelainan bawaan, salah satunya kelainan jantung kongenital. Data Rumah Sakit Ibu dan Anak Al-Ramadi di Irak Barat menyebutkan, bahwa perkawinan konsanguinus memberikan risiko 2-3 kali lipat terjadinya penyakit jantung bawaan pada bayi. 

Aris Fazeriandy dan Muhammad Ali dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara pernah mengulas akan risiko penyakit jantung bawaan (PJB) pada perkawinan konsanguinus ini. Laporan mereka di jurnal USU mengungkapkan, angka PJB meningkat bila memiliki hubungan perkawinan kekerabatan orangtua dengan risiko dua hingga tiga kali lipat.


3. Diabetes

Kondisi gula darah tidak terkontrol, atau diabetes dan obesitas saat sebelum dan sesaat menjalani kehamilan, dapat mengganggu perkembangan janin sehingga dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan kelainan jantung kongenital. Mengutip laman NHS, wanita dengan diabetes lima kali lebih besar berisiko melahirkan bayi dengan penyakit jantung bawaan.

4. Infeksi campak jerman (rubella)

Infeksi rubella biasanya bukan infeksi serius. Namun, hal ini dapat berdampak buruk pada bayi yang belum lahir jika sang ibu terdampak virus rubella pada waktu 8 hingga 10 minggu pertama kehamilan. Salah satunya, menghambat perkembangan jantung pada janin. Vaksinasi rubella sebelum hamil adalah cara yang paling tepat mencegah hal tersebut.

5. Minum obat tertentu saat hamil

Beberapa obat saat hamil dapat meningkatkan risiko perkembangan janin yang tidak sempurna, seperti obat untuk meredakan kejang, obat ibuprofen, obat jerawat dengan isotretinoin, obat topikal dengan retinoid, serta obat anti-depresi yang mengandung lithium. Selain itu, beberapa jenis antibiotik dan obat antiviral yang dikonsumsi pada trimester pertama kehamilan juga meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan cacat jantung bawaan.


6. Phenylketonuria (PKU)

Phenylketonuria (PKU) adalah kondisi genetik yang langka. Seseorang dengan PKU tidak bisa memecah zat kimia sejenis phenylalanine, yang terbentuk di dalam darah dan otak. Hal ini, menyebabkan seseorang kesulitan belajar dan berperilaku.

PKU biasanya dapat diobati dengan membatasi konsumsi protein. Ibu hamil dengan PKU yang tidak melakukan ini, enam kali berisiko lebih besar melahirkan bayi dengan penyakit jantung bawaan.

7. Penggunaan rokok dan narkoba

Beberapa penelitian yang dilansir pada halaman American Heart Association menunjukkan penggunaan narkoba dengan jenis kokain dan ganja oleh ibu hamil dapat meningkatkan risiko dua kali lipat untuk memicu cacat jantung pada bayi. Hal yang sama juga ditemukan pada ibu hamil yang memiliki kebiasaan merokok.


8. Paparan bahan kimia

Hal ini dapat terjadi dengan sangat mudah melalui saluran pernapasan dan kulit. Terdapat beberapa jenis bahan kimia yang dapat mengganggu perkembangan janin dalam kandungan, di antaranya:
- Pelarut organik, seperti cat, pewarna, dan cairan thinner.
- Zat kimia agrikultur, seperti pestisida, herbisida, dan rodentisida.
- Polutan udara, seperti paparan asap zat monoksida yang terjadi terus menerus selama 3-8 minggu masa kehamilan.
- Polutan air, seperti trichloroethylene (TCE). Jenis pelarut yang sering digunakan dalam industri tekstil.