Peneliti Temukan Satu Suntikan Vaksin untuk Semua Penyakit

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Rabu, 20/09/2017 12:53 WIB
Peneliti Temukan Satu Suntikan Vaksin untuk Semua Penyakit Ilustrasi: Peneliti klaim temukan satu suntikan vaksin yang bisa mencegah berbagai macam penyakit. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Heboh vaksin Campak Rubella beberapa waktu lalu menyadarkan banyak orang bahwa ada banyak penyakit yang bisa menjangkiiti manusia.

Sampai saat ini, demi mencegah penyakit, berbagai jenis vaksin pun harus disuntikkan ke tubuh manusia.

Namun peneliti dari Massachusetts Institue of Technology (MIT) baru saja menemukan cara untuk memberikan berbagai macam vaksin hanya dengan satu suntikan saja.


Penemuan ini mengindikasikan bahwa di masa depan anak bisa menerima satu suntikan saja dan secara bersamaan bisa mengambil manfaat dari beberapa vaksin.


"Kami sangat gembira dengan hasil pekerjaan ini, untuk pertama kalinya, kami menciptakan sekumpulan partikel vaksin kecil yang terbungkus," kata Robert Langer, Profeser David H. Koch Institute di MIT dikutip dari Ubergizmo.

"Masing-masing (vaksin kecil) diprogram untuk dilepaskan pada waktu yang tepat dan dapat diprediksi, sehingga orang-orang bisa menerima satu suntikan saja."

"Ini bisa berdampak signifikan pada pasien di mana saja, terutama di negara berkembang yang kepatuhan pasien masih buruk."


Dia mengungkapkan bahwa setiap dosis dari vaksin tersebut akan terlepas sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Hal tersebut bisa terjadi karena penggunaan PLGA (Polylactic-co-glycolic acid) yang merupakan polimer biokompatibel yang dapat ditemukan pada implan dan prostetik.

PLGA akan digunakan untuk menciptakan mikropartikel dan juga dirancang untuk berfungsi pada waktu tertentu. Artinya ketika vaksin memasuki tubuh secara bersamaan, beberapa di antaranya akan menjalankan fungsinya ketika anak sudah dewasa.

Hanya saja masih ada kendala yang muncul. Tantangan dalam mengembangkan vaksin jangka panjang ialah memastikan bahwa obat atau vaksin yang dienkapsulasi tetap stabil pada suhu tubuh dalam waktu yang lama sebelum mulai bekerja.

Para peneliti menguji pengiriman partikel ini dengan berbagai obat-obatan, termasuk vaksin yang telah ada, seperti vaksin polio yang tidak aktif serta vaksin yang masih dalam pengembangan.