Lembur 159 Jam, Reporter Jepang Meninggal Dunia

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Jumat, 06/10/2017 15:00 WIB
Lembur 159 Jam, Reporter Jepang Meninggal Dunia Foto: REUTERS/Thomas Peter
Jakarta, CNN Indonesia -- Jepang memang dikenal sebagai salah satu negara di Asia dengan biaya hidup yang tinggi. Wajar saja demi memenuhi kebutuhannya, warga Jepang membiasakan diri untuk bekerja keras. Hal ini seringkali ditampilkan di drama atau film Jepang, di mana anak sekolah pun terpaksa bekerja sambilan demi membantu perekonomian keluarga.

Belum lama ini, salah satu stasiun TV Jepang NHK mengungkapkan, salah satu reporter mereka meninggal dunia akibat kelelahan setelah kerja lembur.

NHK dalam publikasinya mengatakan, Miwa Sado meninggal akibat kerja lembur selama 159 jam. Dia meninggal setelah kerja lembur sebulan sebelumnya.


Perempuan 31 tahun ini meninggal karena serangan jantung akibat kerja lembur berkepanjangan.


Sebenarnya Sado meninggal pada 2013 lalu, tapi pihak NHK baru buka suara minggu ini. NHK menyikapi dengan serius peristiwa ini. Mereka berjanji akan mengubah sistem kerja para reporternya.

Masalah ini bukanlah hal baru di Jepang. Tak dimungkiri, jam kerja berlebih menjadi momok negatif di Jepang. Negeri Matahari Terbit ini dikenal ketat soal jam kerja selama ini berjuang untuk menghindari efek menurunnya kesehatan karena kerja lembur.

Problem kesehatan pegawai memang jadi pekerjaan rumah pemerintah Jepang. Bahkan, ada istilah untuk kematian akibat kerja lembur yakni 'karoshi'. Bahkan
sebuah studi yang dilakukan pemerintah Jepang tahun lalu menemukan bahwa satu dari lima pegawai punya risiko kesehatan saat bekerja.


Sebelumnya pada 2015 lalu, seorang pegawai bernama Matsuri Takahashi bunuh diri. Pihak keamanan Jepang menemukan, ia dipaksa kerja lembur dalam waktu cukup lama oleh agensi iklan tempatnya bekerja.

Dalam sebulan, ia telah bekerja lembur selama 105 jam hingga waktu kematiannya. Kerja lembur yang ekstrem ini membuatnya nekat bunuh diri. Kematian Takahashi kemudian membuat CEO perusahaan mengundurkan diri.

Dilansir dari CNN, menanggapi kejadian ini, sejumlah LSM buruh dan kelompok warga mendorong adanya perubahan pada undang-undang. Mereka ingin 'karoshi' dilihat sebagai isu sosial yang serius. Usaha mereka membuahkan hasil. Pada 2014, muncul undang-undang yang disebut-sebut untuk kondisi kerja yang lebih baik tapi tidak memaksa perusahaan untuk menjalankan. (chs)