Selain Berat Badan, Ada 7 Indikator Buat Cek Kesehatan

Rahman Indra, CNN Indonesia | Selasa, 03/10/2017 13:58 WIB
Selain Berat Badan, Ada 7 Indikator Buat Cek Kesehatan Lingkar pinggang, durasi tidur, dan level kolesterol adalah beberapa hal yang dapat jadi indikator buat cek kesehatan. (Foto: Thinkstock/whitetag)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika berhubungan dengan kesehatan, publik terbiasa fokus pada masalah berat badan. Namun, menurut ahli nutrisi dan kesehatan, ada beberapa hal lain yang dapat jadi indikator buat cek kesehatan. 

Ahli nutrisi Malina Linkas Malkani, pada Insider pernah mengatakan, berat badan hanya satu dari sekian penanda kesehatan. Hal serupa disampaikan Dr. Nesochi Okeke-Igbokwe, pakar kebugaran yang merunut beberapa hal yang dapat jadi perhatian untuk mendeteksi kesehatan tubuh.

Dari penanda itu, berikut tujuh di antaranya:


1. Lingkar Pinggang

Lingkar pinggang dapat menggambarkan kondisi kesehatan seseorang, dan dapat menjadi indikator akan risiko penyakit yang akan diderita, seperti stroke, dan penyakit jantung. Menurut Malkani, lingkar pinggang merupakan indikator lemak viseral, yaitu lemak yang mengelilingi organ dalam. Lemak ini dianggap lebih akurat dibanding lemak tubuh secara keseluruhan untuk mengukur resiko obesitas.


2. Berapa gelas air

Seseorang membutuhkan hidrasi, dan kebutuhan tiap orang mengkonsumsi air berbeda-beda. Menurut Malkani, terdapat kesalahpahaman umum jika setiap orang perlu minum delapan gelas air putih setiap hari.

"Banyak faktor yang menentukan seoarang individu perlu mengonsumsi berapa banyak gelas air tiap harinya untuk terhidrasi seperti, usia, jenis kelamin, tingkat aktivitas, dan iklim," ujar Malkani.

3. Tekanan Darah

Angka dalam tekanan darah juga dapat jadi penanda gangguan kesehatan. Tekanan darah yang tinggi maupun rendah sangat berpengaruh terhadap kesehatan. 

"Bila hipertensi tidak terkendali, satu komplikasi serius yang mungkin dapat terjadi adalah aterosklerosis," ujar Okeke-Igbokwe.

Memang kita tidak dapat memeriksa tekanan darah kita setiap saat. Namun, kita bisa menjaga tekanan darah kita dengan memperhatikan makanan apa yang kita konsumsi.

Menurut Harvard Medical School, seseorang perlu memperhatikan makanan dari kadar glikemik yang dimiliki. Makanan glikemik tinggi merupakan makanan yang mampu meningkatkan gula darah, dan itu dapat mengacu pada penyakit diabetes.


4. Mengkonsumsi sayur

Malkani menyarankan agar seseorang mengonsumsi makanan yang bervariasi dan berwarna. Sebagai aturan umum, kata dia, porsi lebih buah dan sayuran yang kita konsumsi perhari baik untuk kesehatan.

"Buah dan sayur sangat padat nutrisi, artinya per kalori sayuran dan buah memberi banyak nutrisi mikronutrien sehat seperti vitamin dan mineral," ujarnya.

SFGate menjelaskan jika empat atau lima porsi sayuran dianjurkan untuk mereka yang makan 2000 kalori setiap harinya. Mengonsumsi sayuran yang berdaun gelap sampai kacang polong dapat membantu tubuh kita menyerap berbagai vitamin serta nutrisi.

5. Kadar Kolesterol

Jangan mengabaikan kadar kolesterol, apalagi sudah berumur 20 tahun. Publik dianjurkan segera periksa kadar kolesterol, dan lakukan pemeriksaan itu setiap lima tahun sekali. Pengukuran kolesterol dapat mengindikasikan faktor resiko penyakit jantung.


6. Waktu berolahraga

Aktivitas fisik yang dilakukan penting untuk menjaga tulang kuat, mengurangi risiko diabetes tipe 2, dan memperbaiki mood. Ada baiknya ke gym atau pusat kebugaran, tapi tak harus. Setidaknya dianjurkan untuk berolahraga 30 menit setiap hari di rumah.

"Studi telah menemukan jika berolahraga 30 menit perhari mampu mengurangi resiko kematian dini," ujar Okeke-Igbokwe. 

7. Durasi Tidur

Setiap umur memiliki durasi waktu tidur yang berbeda-beda. OKeke-Igbokwe menyarankan seseorang baiknya tidur delapan hingga sembilan jam tiap hari. Sedangkan, National Sleep Foundation, menyarankan orang diatas 18 tahun untuk tidur tujuh hingga sembilan jam. 

Menurut Okeke-Igbokwe, tidur dengan waktu yang cukup dapat menurunkan resiko beberapa penyakit.

"Jika seseorang dapat mencapai jumlah tidur cukup ini, akan menurunkan resiko beberapa kondisi medis kronis. Kurang tidur telah dikaitkan dengan hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung," ujarnya.