Bikin Macet dan Dikayuh Manusia, Alasan Warga Tolak Becak

ANTARA, CNN Indonesia | Selasa, 23/01/2018 16:33 WIB
Bikin Macet dan Dikayuh Manusia, Alasan Warga Tolak Becak Aktifitas becak di Pasar Bahari, Tanjung Priok, Jakarta. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah warga di Jakarta tidak setuju dengan rencana Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk melegalkan pengoperasian becak di kawasan Jakarta.

"Jelas tidak setuju. Karena becak itu kadang semaunya, rata-rata mereka kan tidak berpendidikan, jadi pemahamannya lain. Meski sudah dibuat aturan, nanti pasti mereka melanggar juga. Malah kadang galakan tukang becak. Waktu itu motor saya pernah ditabrak, sudah jelas yang salah dia malah dia yang lebih marah dari saya," kata Amin, warga di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.

Warga lainnya, Hotlas Mora menilai pengoperasian becak kembali sangat tidak manusiawi. Pasalnya becak itu digerakkan dengan tenaga manusia.


"Sekarang bukan zamannya lagi becak. Kalau saya tidak setuju dengan ide tersebut. Karena seperti balik lagi ke zaman kolonial. Becak kan digerakkan dengan tenaga manusia, kasihan juga sama tukang becak yang sudah tua," ujar Hotlas.

Hotlas berpendapat, lebih baik Anies memberikan pekerjaan lain untuk para tukang becak daripada harus mengoperasikan lagi becak, terutama dengan alasan untuk wisata.

"Menurut saya, lebih baik para tukang becak diberi pekerjaan lain, misal tukang sapu jalan atau lainnya. Karena penghasilan becak sendiri berapa? apa penghasilannya cukup dengan biaya hidup sekarang ini?" kata Hotlas.

Sependapat dengan Amin dan Hotlas, Kiko juga kurang setuju dengan rencana itu. Dia menilai dengan beroperasinya lagi becak hanya akan menimbulkan kemacetan dan menambah semrawut jalan.

"Kurang setuju, karena nanti akan membuat jalan macet. Bukan hanya akibat becak yang melaju di jalanan, tapi juga jalan pasti akan sempit karena banyaknya becak yang mangkal," ujar Kiko.

Kiko berharap, bila memang keputusan pengoperasian di kawasan Jakarta tetap terlaksana, jangan diadakan becak terlalu banyak.

"Kalau memang tetap dilaksanakan kebijakan itu, harapan saya becak jangan terlalu banyak, sudah yang ada saja jangan ditambah. Kalau pun dioperasikan di kampung-kampung, harus jelas yang dimaksud jalan perkampungan seperti apa? Apakah bisa dipastikan tidak akan melaju di jalan raya sementara aksesibilitas ke lokasi bisa jadi mengharuskan melalui jalan raya," ujar Kiko.

Anies berencana menghidupkan kembali angkutan becak sebagai sarana transportasi perkampungan di Jakarta, terikat poin perlindungan dan penataan becak pada kontrak politiknya saat kampanye Pilkada DKI 2017 lalu.

Timbulkan Macet dan Dikayuh Manusia, Alasan Warga Tolak BecakPenampakan becak hias untuk turis di Malaysia. (AFP PHOTO/Mohd Rasfan)

Becak mulai dilarang beroperasi di Jakarta sejak April 1990.

Larangan itu itu ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 11 tahun 1988 tentang pelarangan becak di Ibu Kota dan Perda DKI Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

Di Malaysia, kendaraan sejenis becak banyak beroperasi di Melaka, kota yang juga dipadati oleh bangunan bersejarah dilindungi UNESCO.

Banyak turis yang naik becak hias di sana untuk merasakan kearifan lokal ala Malaysia, yang semakin tergerus oleh modernisasi di pusat kotanya.

Tarif naik becak hias ini seharga Rp81.000 selama 30 menit. Dua orang dewasa berbadan sedang bisa naik di atasnya.

(ard)