Rekomendasi Kuliner

Icip-icip Kuliner Legendaris Saat Mudik ke Wonogiri

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 27/01/2018 12:10 WIB
Icip-icip Kuliner Legendaris Saat Mudik ke Wonogiri (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setahun lebih menghuni Jakarta akhirnya membuat saya merindukan kampung halaman, yakni Wonogiri, sebuah kabupaten di Jawa Tengah.

Saat menyinggung soal Wonogiri, satu hal yang langsung terlintas pasti soal bakso. Tak dimungkiri, bakso asli Wonogiri memang populer di seantero Jakarta, dan diakui punya rasa yang enak.

Kepopuleran Wonogiri sebagai kota bakso ini tercipta 'berkat' banyaknya orang Wonogiri yang merantau ke kota biasanya berjualan bakso.



Akan tetapi, sebenarnya, Wonogiri itu bukan hanya soal bakso. Masih banyak makanan enak lain selain bakso di kota yang 'nyerempet' Jawa Timur ini.

Kesempatan kembali ke Kecamatan Batuwarno, Wonogiri saya manfaatkan untuk mengobati kerinduan akan rasa makanan yang tak pernah saya temui di mana pun. Sekali lagi, makanan itu bukan bakso, tapi thiwul.

Makanan ini sempat populer di daerah Jawa Tengah karena dianggap sebagai makanan 'darurat' saat kekeringan dan jadi pengganti nasi.

Namun bagi warga Wonogiri, makanan ini termasuk makanan yang legendaris dan 'penting.' Ubi kayu alias singkong memang jadi komoditas penting di Wonogiri karena kontur tanah yang mirip Gunung Kidul. Akibatnya tanaman palawija jadi andalan masyarakat yang bermatapencaharian sebagai petani.

Singkong ini diolah jadi berbagai macam pangan pokok termasuk thiwul.

Sayangnya, sekarang sudah makin sulit menemukan thiwul di rumah tangga orang Batuwarno. Saya pun harus ke pasar Batuwarno untuk menyantapnya.

Pasar ini hanya buka dua hari menurut kalender Jawa yakni Pon dan Legi. Dari sekian banyak penjual thiwul, saya selalu membeli thiwul dari Mbah Sakinem. Namun, ia tak berjualan lagi. Sebagai gantinya, Sarmi, anaknya, yang melanjutkan usaha.


"Simbah (nenek) kalau kecapaian (bisa) batuk-batuk. Niatnya mau bantu-bantu, tapi ya sudah tidak kuat," ujarnya sembari melayani pembeli di pasar Batuwarno.

Sehari-harinya dia harus menyiapkan dagangan dari pukul 01.00 WIB. Thiwul dibuat dari tepung gaplek yakni singkong yang sudah dijemur hingga kering. Tepung gaplek kemudian diberi air sedikit demi sedikit hingga menggumpal seperti butiran. Campuran tepung singkong ini kemudian dikukus dengan dandang. Persis cara menanak nasi secara tradisional.

Thiwul pun disajikan bersama gudangan(urap). Jika orang mengenal pecel dengan bumbu kacang, maka gudangan menggunakan bumbu dari parutan kelapa.

Sayur-sayuran yang digunakan biasanya daun bayam, daun pepaya, daun lembayung, kacang panjang, daun kenikir, dan tauge.
Namun thiwul mbah Sakinem dan anaknya ini berbeda dari thiwul biasanya. Thiwul racikan Mbah Sanikem dan anaknya terletak pada peyek teri yang dihancurkan sebagai taburan.

Thiwul ini dibungkus dengan dibungkus daun jati, thiwul dihargai Rp2ribu saja.

Penjual thiwul di WonogiriFoto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari
Penjual thiwul di Wonogiri

Menuju barat menikmati sate kambing legendaris

Tak lengkap rasanya jika pulang kampung tanpa makan sate kambing. Terletak di Terminal Bus Baturetno, aroma sate dari warung Sate Kambing Pak Kembar seolah mengajak siapapun untuk mampir. Suharno, sang penjual pun tersenyum menyambut saya. Tampaknya dia masih ingat dengan saya, meskipun samar-samar.

Saya mengenal sate kambing Pak Kembar sejak belum masuk sekolah. Kala itu, Mbah Satiman dan Mbah Sutiyem, orang tua Suharno, masih berjualan.

Warung sate ini sudah ada sejak sekitar 1950-an dan didirikan oleh Ayah Suharno dan saudara kembarnya. Maka tak heran kalau warung sate ini dikenal sebagai warung sate pak kembar.

Namun pak kembar kini sudah tiada, usahanya dilanjutkan oleh anak-anaknya, termasuk Suharno.

"Saya tujuh bersaudara, cuma saya yang meneruskan," katanya seraya membolak-balik sate pesanan saya.

Dalam sehari, rata-rata Suharno menghabiskan lima kilogram daging kambing. Daging tak mengalami proses pemasakan sebelum dibakar.

sate pak kembarsate pak kembar(Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)


"Duk..duk..duk," tiba-tiba suara pukulan keras pun terdengar. Itu suara Suharno yang tengah memukul-mukul daging sate yang sudah ditusuk.

Ini adalah 'ritual' yang dilakukannya sebelum membakar sate agar dagingnya tetap empuk. Tak heran, daging kambing memang dikenal punya tekstur yang alot jika cara masaknya tak tepat.

Herannya, meski kini warung dikelola sang putra, rasa sate tak berubah. Rasa yang saya nikmati saat kecil tak berubah hingga kini.

Rasa dagingnya masih manis pekat dan meresap, seperti tipikal makanan khas Jawa Tengah. Namun citarasa dagingnya gurih dan teksturnya yang empuk tak tertutupi dengan rasa manisnya. Belum lagi tambahan taburan lada di atasnya, membuat rasa sate ini makin pantas dirindukan.

Sate kambing Pak Kembar tidak membuka cabang di mana pun. Jika menemukan sate kambing dengan nama serupa, artinya warung sate milik sepupu-sepupu Suharno.

[Gambas:Video CNN] (chs/chs)