Rempah Pala Indonesia Laris Manis di Eropa

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Rabu, 17/01/2018 13:42 WIB
Rempah Pala Indonesia Laris Manis di Eropa Komoditas pala dari Indonesia ternyata makin laris manis di pasar Eropa. Hal ini dilihat dari banyaknya permintaan yang terus berdatangan dari Eropa.( ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komoditas pala dari Indonesia ternyata makin laris manis di pasar Eropa. Hal ini dilihat dari banyaknya permintaan yang terus berdatangan dari Eropa.

"Beberapa negara di Eropa, sangat meminati komoditas pala asal Sulawesi Utara, sehingga akan terus ditingkatkan tahun 2018 ini," kata Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut Darwin Muksin di Manado, dikutip dari Antara.

Ke depan kualitas dan kuantitas ekspor pala dan produk turunannya lebih meningkat lagi.



Dari dulu, katanya, komoditas pala yang termasuk rempah-rempah memang selalu menjadi produk yang istimewa dan selalu diperebutkan negara-negara Eropa.

"Tren pengiriman biji pala maupun fuli ke Italia, Belanda, Inggris, Jerman cenderung meningkat, hampir setiap bulan terjadi realisasi ekspor ke negara tersebut," katanya.

Demikian dengan ekspor tepung kelapa ke negara-negara tersebut, katanya, berlangsung terus-menerus dengan volume maupun perolehan devisa yang diperoleh menunjukkan pertumbuhan yang cukup menjanjikan.

Di tahun 2016 lalu, ekspor pala dari Sulawesi Utara ke Eropa khususnya Belanda dan Italia mencapai 19,81 ton pada Februari 2016.

Jumlah ini diprediksi terus naik setiap tahunnya.

Ekspor ke negara bagian Eropa tersebut pertanda bahwa komoditas unggulan Sulut yang sebagian besar berupa produk pangan, belum terganggu krisis keuangan global yang saat ini mulai melanda negara di kawasan Eropa.


Dia mengatakan, optimistis ekspor Sulut hingga akhir tahun terus meningkat, sebab belum ada laporan ada penundaan kontrak ekspor dengan negara pembeli di kawasan Eropa.

Terbanyak komoditas unggulan Sulut yang dikirim ke negara di kawasan Eropa adalah produk bahan makanan yang tetap dibutuhkan pasar kendati krisis keuangan berdampak melemahnya nilai tukar masyarakat. (cel/chs)