LANCONG SEMALAM
Keliling London Tanpa Bikin 'Dompet Bolong'
CNN Indonesia | CNN Indonesia
Minggu, 04 Feb 2018 11:56 WIB
08.00 - Sarapan di Terry's Cafe
English Breakfast alias sarapan ala Inggris menjadi pilihan saya untuk memulai hari. Menunya telur (goreng atau orak arik), bacon (irisan tipis daging babi atau sapi yang digoreng garing), irisan sosis (babi, sapi atau ayam), serta saus kacang polong dan tomat.
Pelengkapnya disediakan teh hangat, karena minum teh sudah lama menjadi tradisi penduduk Inggris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menu English Breakfast. (Dok. Olivia Drost) |
Ruangan restoran ini tidak besar, tapi selalu ramai pengunjung. Kebanyakan datang karena merasa kalau rasa makanannya otentik. Dekorasinya khas rumah Inggris, lengkap dengan aksen kayu dan foto yang dipajang rapat.
Terry's Cafe juga memproduksi merk teh-nya sendiri berjenis earl gray, teh hijau, melati, dan chamomile.
Menu English Breakfast bernama The Standard seharga 8 poundsterling, atau sekitar Rp151 ribuan. Untuk teh earl gray seharga 2 poundsterling atau sekitar Rp37 ribuan per cangkir.
Terry's Cafe buka dari Senin sampai Sabtu, dengan jadwal 7 pagi-2 sore untuk Senin-Jumat dan 7.30 pagi-1 siang untuk Sabtu.
Menu English Breakfast bernama The Standard seharga 8 poundsterling, atau sekitar Rp151 ribuan. Untuk teh earl gray seharga 2 poundsterling atau sekitar Rp37 ribuan per cangkir.
Terry's Cafe buka dari Senin sampai Sabtu, dengan jadwal 7 pagi-2 sore untuk Senin-Jumat dan 7.30 pagi-1 siang untuk Sabtu.
09.30 - Menatap Big Ben dalam "korset"
Belum datang ke London jika belum selfie di depan ikon kotanya, jam Big Ben. Bangunan bersejarah yang masuk dalam komplek Gedung Parlemen Inggris ini berada di kawasan Westminster.
Dari Terry's Cafe, saya berjalan kaki menuju Stasiun Southwark untuk menumpang kereta menuju Stasiun Westminster, lalu dilanjutkan berjalan kaki menuju Big Ben. Durasi perjalanannya sekitar 13 menit.
Sayangnya, jam yang telah berusia 159 tahun ini sedang mengalami renovasi hingga tiga tahun ke depan. Jika sebelumnya jam ini membunyikan bel-nya setiap jam, maka selama renovasi jam ini hanya berdentang di momen-momen nasional.
Renovasi Big Ben juga membuat pemandangan ke arah jam ini terhalang papan, pagar, dan jaring, yang mirip korset. Di kawasan Westminster ini turis juga bisa berfoto di depan London Eye dan Gedung Parlemen Inggris.
10.30 - Mengagumi Westminster Hall
Puas melihat turis berfoto, saya menuju Westminster Hall, bangunan yang masih berada dalam komplek Gedung Parlemen Inggris. Bangunan ini juga masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.
Dibangun sejak tahun 1097, Westminster Hall berupa ruangan luas yang digunakan untuk acara-acara Kerajaan Inggris.
[Gambas:Instagram]
Tahun 1834 terjadi kebakaran besar di Gedung Parlemen Inggris. Namun, bangunan ini selamat dari api. Begitu juga saat Jerman menyerbu Inggris pada tahun 1941.
Tak dikenakan biaya untuk masuk ke dalamnya. Tapi jika ingin mengikuti paket tur ke seluruh Gedung Parlemen Inggris dengan pemandu wisata, turis bisa membayar tarif mulai dari 25,50 poundsterling, atau sekitar Rp483 ribuan per orang.
12.00 - Camden Town
Penggemar musik wajib datang ke Camden, salah satu kawasan yang dijadikan tempat kongko para musisi Inggris, seperti mendiang Amy Winehouse sampai Morrissey.
Dari Stasiun Westminster, saya menumpang kereka ke Stasiun Camden Town. Durasi perjalannya sekitar 23 menit.
Sejak puluhan tahun yang lalu, kawasan Camden identik dengan pasar. Yang dijual mulai dari sayuran sampai piringan hitam. Bagi anak muda yang ingin mencari pernak-pernik fesyen karya lokal bisa datang ke sini.
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Belum datang ke London jika belum selfie di depan ikon kotanya, jam Big Ben. Bangunan bersejarah yang masuk dalam komplek Gedung Parlemen Inggris ini berada di kawasan Westminster.
Dari Terry's Cafe, saya berjalan kaki menuju Stasiun Southwark untuk menumpang kereta menuju Stasiun Westminster, lalu dilanjutkan berjalan kaki menuju Big Ben. Durasi perjalanannya sekitar 13 menit.
Big Ben dalam korset. (Dok. Olivia Drost) |
Sayangnya, jam yang telah berusia 159 tahun ini sedang mengalami renovasi hingga tiga tahun ke depan. Jika sebelumnya jam ini membunyikan bel-nya setiap jam, maka selama renovasi jam ini hanya berdentang di momen-momen nasional.
Renovasi Big Ben juga membuat pemandangan ke arah jam ini terhalang papan, pagar, dan jaring, yang mirip korset. Di kawasan Westminster ini turis juga bisa berfoto di depan London Eye dan Gedung Parlemen Inggris.
10.30 - Mengagumi Westminster Hall
Puas melihat turis berfoto, saya menuju Westminster Hall, bangunan yang masih berada dalam komplek Gedung Parlemen Inggris. Bangunan ini juga masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.
Dibangun sejak tahun 1097, Westminster Hall berupa ruangan luas yang digunakan untuk acara-acara Kerajaan Inggris.
[Gambas:Instagram]
Tahun 1834 terjadi kebakaran besar di Gedung Parlemen Inggris. Namun, bangunan ini selamat dari api. Begitu juga saat Jerman menyerbu Inggris pada tahun 1941.
Tak dikenakan biaya untuk masuk ke dalamnya. Tapi jika ingin mengikuti paket tur ke seluruh Gedung Parlemen Inggris dengan pemandu wisata, turis bisa membayar tarif mulai dari 25,50 poundsterling, atau sekitar Rp483 ribuan per orang.
12.00 - Camden Town
Penggemar musik wajib datang ke Camden, salah satu kawasan yang dijadikan tempat kongko para musisi Inggris, seperti mendiang Amy Winehouse sampai Morrissey.
Dari Stasiun Westminster, saya menumpang kereka ke Stasiun Camden Town. Durasi perjalannya sekitar 23 menit.
Sejak puluhan tahun yang lalu, kawasan Camden identik dengan pasar. Yang dijual mulai dari sayuran sampai piringan hitam. Bagi anak muda yang ingin mencari pernak-pernik fesyen karya lokal bisa datang ke sini.
Camden Town. (Dok. Olivia Drost) |
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Jelang malam di keramaian
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Menu English Breakfast. (Dok. Olivia Drost)
Big Ben dalam korset. (Dok. Olivia Drost)
Camden Town. (Dok. Olivia Drost)