REKOMENDASI KULINER

Menikmati Megahnya Santapan ala Raja Majapahit di Jakarta

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Jumat, 09/02/2018 19:54 WIB
Santapan ala raja-raja di zaman kerajaan Majapahit lengkap dengan parade megahnya bisa dinikmati di restoran Lara Djonggrang. Santapan ala raja-raja di zaman kerajaan Majapahit lengkap dengan parade megahnya bisa dinikmati di restoran Lara Djonggrang.(CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ulasan Restoran: Lara Djonggrang, Parade Makanan Kerajaan

Suasana kuno, remang, dan mistis mulai terasa begitu menjejakkan kaki di Lara Djonggrang, sebuah restoran yang menawarkan hidangan khas Nusantara.

Sekilas, bangunan yang terletak di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat itu tak ada bedanya dengan rumah tua kebanyakan di Jakarta. Kabarnya rumah itu dulunya merupakan tempat tinggal asisten Presiden Soekarno di era Belanda.



Pemilik Lara Djonggrang Anhar Setjadibrata kemudian menata rumah itu menjadi sebuah restoran yang klasik. Sebagai seorang pecinta benda antik, setiap sudut ruangan dipenuhi barang-barang antik seperti lukisan, piringan, ukiran, patung, dan guci. Bahkan, restoran ini memiliki lebih dari seribu benda kuno.

"Di restoran ini memang banyak barang-barang kuno yang dikoleksi pribadi oleh pemilik. Dia (pemilik) sudah mengumpulkan koleksi barang antik ini sejak kecil," kata Alexandar Grujic, PR manager Tugu hotel dan restoran, pengelola restoran Lara Djonggrang kepada CNNIndonesia.com.

Nuansa autentik itu menyatu dengan meja dan kursi kayu dengan desain tempo dulu. Interior yang antik pun semakin dikuatkan dengan tambahan ubin tegel kunci yang tak kalah 'tua.'

Parade Tugu Dom di Lara DjonggrangFoto: CNN Indonesia/Safir Makki
Parade Tugu Dom di Lara Djonggrang
Royal Tugu Dom

Alunan musik Jawa pun mengalun perlahan dan menenangkan. Tak berapa lama, entakan derap kaki perlahan mulai terdengar. Sesekali tercium aroma makanan khas Nusantara yang menggelitik hidung.

Rupanya, 'prajurit kerajaan' mulai datang berbondong-bondong. Mereka berpakaian khas Jawa lengkap dengan parang, perisai, dan kuda lumping.

Prajurit tersebut rupanya mengawal para pelayan berparade sembari membawa sajian makanan lengkap yang cantik dengan hiasan janur kuning.

Parade makanan yang dibawa para prajurit pun satu per satu mulai disajikan ke atas meja. Para pelayan lalu menata makanan yang dihias janur kuning itu dengan lemah gemulai ke atas meja. Konon, di zaman Kerajaan Majapahit, cara ini dulu dilakukan untuk menjamu raja dan tamu yang datang.

Pasar sateFoto: CNN Indonesia/Safir Makki
Pasar sate

Royal Tugu Dom sendiri merupakan makanan sajian untuk para raja.

Aneka hidangan dari otak-otak ikan tenggiri, gimbal tahu japit, gurame terbang, aneka sate, hingga tumpeng nasi kuning disajikan satu per satu. Bukan tanpa alasan mengapa menu ini yang disajikan sebagai menu royal tugu dom. Menu-menu ini terinspirasi dari makanan yang terdapat dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca.

Foto: CNN Indonesia/Safir Makki
"Ini set menu diambil dari Kitab Negara Kertagama yang menceritakan perjalanan Prabu Hayam Wuruk menelusuri pesisir Pulau Jawa dan Sumatera," kata Tatang, salah satu pelayan Lara Djonggrang saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Sebagai hidangan pembuka, otak-otak ikan tenggiri yang masih hangat bisa jadi penggugah selera yang tepat. Yang unik, otak-otak ini disajikan di atas panggangan arang yang menyala untuk menjaga kehangatannya.

Aroma gurihnya olahan daging ikan tenggiri yang menyatu dengan aroma khas daun pisang yang menghitam karena terbakar terasa makin mantap dengan tambahan cocolan saus kacang. Rasanya seperti otak-otak lainnya, namun teksturnya yang lebih lembut dan kandungan ikan tenggiri yang lebih banyak patut diacungi jempol.

Jika belum puas untuk menyantap hidangan pembukanya, gimbal tahu japit bisa jadi pilihan. Meski tahu ini sebenarnya juga bisa jadi teman makanan utama, namun tak ada salahnya untuk ngemil tahu japit yang renyah.

Berbeda dengan tahu goreng pada umumnya, tahu japit ini dilapisi dengan tepung roti. Teksturnya pun jadi renyah tapi lembut di dalamnya. Sekilas bentuknya mirip nugget. Sayang, tahunya diiris sedikit terlalu tipis sehingga gigitannya sedikit kurang terasa mantap.

Berbeda dengan tahu goreng tepung pada umumnya, tahu japit ini disajikan dengan saus yang berwarna kecokelatan. Sekilas rasa yang terbayang hanyalah rasa manis bak saus karamel. Namun anggapan saya salah. Saus ini justru terasa manis dan gurih, sangat cocok dengan tahu gimbal yang renyah.

Sebagai hidangan utamanya, nasi tumpeng pasti bakal mengenyangkan perut.

Nasi tumpeng terdiri dari ayam, urapan merah, acar kuning, peyek, perkedel, sate lilit, tempe, telur, dan sambal matah. Nasi tumpeng ini cocok bagi para pecinta pedas.

Sebagai pendampingnya, ikan gurame terbang juga terasa mantap karena dagingnya yang lembut dan tebal. Rasa amis dari ikan gurame tersamarkan lewat sambal tomat yang segar.

Dari semua sajian tersebut, ada satu yang menjadi perhatian saya, sebuah 'perahu naga' yang menjajarkan beberapa tusuk sate dalam satu wadah.

Pasar sate, sebutan untuk perahu sate naga merah besar merupakan hidangan sate yang terdiri dari sembilan macam jenis sate.

Mulai dari sate kambing, daging sapi, ayam, lilit, udang, cumi, hingga lidah tersaji dengan aneka bumbu seperti kecap, sambal matah, padang, dan asam manis. Setiap sate punya cita rasa khas Nusantara yang unik.

Hanya saja sate ini sebaiknya dengan cepat dikonsumsi agar daging tak menjadi keras. Pelengkap makanan bak raja ini bisa dinikmati dengan minuman segar seperti lemongrass atau wedang jahe.

Foto: CNN Indonesia/Safir Makki
(chs/chs)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK