Demam 'Black Panther' Sampai ke New York Fashion Week

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 13/02/2018 23:36 WIB
Demam 'Black Panther' Sampai ke New York Fashion Week Film Marvel terbaru 'Black Panther' mengisi satu slot peragaan di pekan mode New York Fashion Week. Deretan busana dari para desainer tampil mengesankan. (Ilustrasi/Foto: Dok. Marvel Entertainment via youtube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Invasi salah satu tokoh Marvel, 'Black Panther' semakin meluas. Tak hanya di dunia film, tapi juga dunia mode. Pada Senin (12/2), Black Panther membawa spirit kampung halamannya, Wakanda, ke panggung New York Fashion Week (NYFW).

Dalam rangka amal, terdapat 10 label yang bergabung dalam peragaan bertajuk 'Black Panther : Welcome to Wakanda' tersebut. Sekitar 10 label/desainer turut berpartisipasi, di antaranya Chromat, Cushnie et Ochs, LaQuan Smith, Ikiré Jones, Sophie Theallet dan TOME. Mereka berpartisipasi lewat desain perhiasan dan alas kaki. Semua hasil penjualan akan digunakan untuk mendukung program dari Save the Children.

Walé Oyéjidé, direktur kreatif label Ikiré Jones menuturkan bahwa desain yang ia buat adalah soal perkawinan budaya. Menurutnya, di mana pun seseorang berada, budaya sekitar jelas memberikan pengaruh. Ia pun menjelaskan busana yang ia desain.


"(Desain) berakar dari keindahan Afrika, dengan siluet bergaya Eropa, sebuah scarf sutera dari Italia, ini merepresentasikan budaya Afrika dan Eropa. Dan ini menunjukkan bahwa kita lebih baik bersama," katanya dikutip dari USA Today (12/2).

Menurutnya, film Black Panther jadi media untuk mengangkat orang kulit berwarna ke layar perak. Selama ini, mereka kerap berada di balik layar. Film memang benar-benar mempresentasikan keragaman orang kulit berwarna dengan gaya busana, aksen hingga tatanan rambut.

"Saat kebanyakan dari kita berpikir soal Afrika kita berpikir sesuatu yang spesifik, mereka cenderung punya image negatif. Jadi (film) menunjukkan ada banyak hal yang bisa didengar dan dilihat, dan lebih banyak cerita untuk disampaikan," kata Oyéjidé.

Sedangkan label Chromat berkontribusi dengan desain gaun 'sangkar' berbahan kain dari Ankara, Nigeria. Gaun dengan warna dasar kuning cerah ini hanya bisa dipresentasikan oleh model plus size karena berukuran cukup besar.




Khusus untuk gelaran ini, Becca McCharen, pendiri label menunjuk desainer Tolu Aremu yang berdarah Nigeria. Menurutnya, daripada desainer kulit putih, Tolu dirasa lebih pas dan lebih powerful dalam mempersembahkan desain yang kental nuansa Afrika.

"Saat saya terlibat dalam proyek ini, saya sangat memikirkan ibu saya. Kami 100 persen orang Nigeria, dan (saya) tumbuh dalam didikan budaya dari ibu, darah Ankaranya, (ia) meletakkan seluruh pakaiannya dalam sebuah ruangan termasuk milik saya. Dan menambahkan kain dari Ankara sangat sempurna untuk ini," ujar Tolu.

Sementara itu, label Cushnie et Ochs 'menyumbang' ide sebuah gaun panjang berwarna emas. Label besutan duo desainer, Michelle Ochs dan Carly Cushnie ini melihat sosok wanita hebat di balik tokoh Black Panther. Menurut Ochs, desain ingin menunjukkan daya dan kekuatan wanita, apalagi sosok tokoh wanita di film digambarkan sebagai ksatria.

"Jadi ini awal mula ide kami, dan kemudian terdapat tanaman berbentuk hati adalah bagian dari film, kami terjemahkan ke dalam detail hiasan busana sehingga terlihat feminin," tambah Ochs. (rah)