Tok Panjang, Tradisi Makan Malam Kebersamaan Jelang Imlek

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Kamis, 15/02/2018 15:57 WIB
Warga China Semarang punya melakukan tradisi tok panjang, makan malam bersama di sebuah meja panjang jelang perayaan Imlek. Tradisi makan Tok Panjang (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Semarang, CNN Indonesia -- Lampion merah sudah terpasang di beberapa sudut Jalan Wot Gandul Timur, Semarang. Aneka dekorasi khas Imlek pun sydag terpasang untuk menyemarakkan perayaan Tahun Baru China di kawasan Pecinan itu.

Suasana Imlek juga semakin terasa di rumah-rumah warga China di Kota Lumpia ini. Jelang Imlek, warga China pun biasanya menggelar tradisi makan malam bersama keluarga.

Sebuah meja panjang berlapis taplak meja merah pun dipersiapkan untuk menjamu keluarga besar yang hadir.



Meja panjang berlapis taplak merah itu disebut tok panjang dalam istilah Tionghoa. Setiap tanggal 30 bulan Cap ji Gwee, bulan terakhir, keluarga Tionghoa akan makan malam bersama dengan keluarga besar yang dinamakan duan yen fan.

yu ShengYu Sheng (CNN Indonesia / Oktaviani Satyaningtyas)


"Dari Imlek yang penting itu makan malam bersama, bukan angpao. Kalau budayanya bersilaturahmi dengan keluarga, kami ingin silaturahmi dengan semua orang dari berbagai suku dan agama," kata Harjanto Halim, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/2).

Bukan sekadar silaturahmi, tradisi makan malam bersama sebelum tahun baru memiliki arti yang lebih dalam. Di meja makan itu, semua orang duduk sama rendah, berdekatan dan memakan makanan yang sama tanpa perbedaan. Itu menandakan bahwa semua manusia setara.

Menu pertama santap malam adalah yu sheng yang merupakan salad tahun baru. Salad itu berisikan potongan ikan, wortel, lobak, jeruk, bubuk lada, biji wijen dan kulit pisang goreng.

Isi salad tersebut memiliki arti tersendiri. Ikan berarti harapan rezeki bertambah, wortel berarti keberuntungan, lobak berarti semangat, bubuk lada berarti kekayaan, biji wijen berarti kemakmuran dan kulit pisang goreng berarti limpahan emas.


Satu piring putih besar salad dikonsumsi untuk delapan orang. Sebelum makan, delapan orang tersebut harus berdiri mengelilingi sepiring yu sheng sambil memeras jeruk nipis. Mereka juga diminta mengucap "ta ci ta li" yang berarti semoga kebersamaan dan ketentraman selalu ada dalam keluarga.

Tahap berikutnya menuang minyak wijen sembari mengucap "yu man fu thien" yang artinya kekayaan terus bertambah. Kemudian menuangkan bumbu manis sembari mengucap "thien thien mie mie" yang artinya harapan agar kedamaian dan kebahagiaan selalu ada dalam keluarga.

Kemudian menuangkan bubuk lada sembari mengucap "fung thiaw yi sun" yang berarti selalu diberi kemudahan dan kelancaran dalam hidup. Terakhir, delapan orang mengaduk salad bersama dengan sumpit masing-masing, selanjutnya mengangkat salad sambil mengucap "lo hey lo hey lo kow fong sang sue hey" yang artinya keberuntungan di tahun baru.

Tok PanjangTok Panjang (CNN Indonesia/M Andika Putra)

Setiap pengunjung yang ikut makan malam terlihat asyik melakukan tahapan itu. Seakan tak peduli adukan yang berantakan, mereka tetap memakan yu sheng hingga habis. Beberapa pengunjung juga tak lupa mengabadikan momen dengan telepon genggam.

Harjanto mengungkapkan bahwa dalam kesempatan makan malam bersama itu juga mengundang Pemerintah Kota Semarang. 

"Kami harap pemerintah paham soal ini. Sekaligus menjadi pengingat pemerintah juga bahwa pemerintah harus dekat dengan rakyat," kata Harjanto.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang hadir dalam acara itu mengapresiasi warga yang guyub dalam perbedaan. Ia mengingatkan acara seperti ini harus diteruskan agar menjadi wisata tahunan yang menarik.

"Tradisi tok panjang tidak hanya Tionghoa, tapi semua tokoh lintas agama di Semarang dengan keberagaman yang sangat tinggi. Harus diakui di daerah lain ada sentimen karena perbedaan agama, tapi di semarang saya yakini perbedaan jadi kekuatan," kata Hendrar. (chs)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK