Peneliti Temukan Dua Virus Mirip Zika

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Senin, 19/02/2018 18:52 WIB
Peneliti Temukan Dua Virus Mirip Zika Peneliti bidang kesehatan menemukan dua virus lain yang dapat menimbulkan dampak cacat lahir yang serupa dengan virus Zika. (Ilustrasi/Foto: REUTERS/Daniel Becerril)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti bidang kesehatan menemukan bahwa terdapat dua virus lain yang dapat menimbulkan dampak cacat lahir yang serupa dengan virus Zika.

Dua virus ini adalah virus Nil Barat (West Nile) dan Powassan, seperti yang disebut dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine.

"Semua virus ini tersebar melalui serangga, dan semua virus ini juga tengah menyebar di benua Amerika," ujar penulis senior penelitian tersebut dan profesor asisten di Washington University School of Medicine, Dr Jonathan Miner, seperti dikutip CNN, Minggu (18/2).



Dalam penelitian tersebut, Miner dan timnya menginjeksi sekelompok tikus liar betina yang sedang hamil dengan virus Nil Barat, Powassan, chikungunya dan Mayaro.

Seminggu kemudian, gejala-gejala infeksi virus dapat terlihat dalam plasenta dan fetus dari tikus-tikus betina tersebut. Bayi tikus yang ibunya diinjeksi virus Nil Barat mengalami kerusakan parah pada jaringan otak dan pertumbuhan intrauterine.

Sedangkan tikus betina yang diinjeksi virus Nil Barat dan Powassan mati, serupa dengan hasil observasi para peneliti sebelumnya terhadap tikus yang terinfeksi virus Zika. Bayi yang masih ada di dalam tubuh tikus yang terinfeksi virus Nil Barat dan Powassan pun mati dalam jangka waktu 12 hari setelah ibunya terinfeksi.

Di sisi lain, jaringan otak dari bayi-bayi tikus yang terinfeksi chikungunya terlihat sehat. Ibu tikus yang terinfeksi chikungunya dan Mayaro pun tidak ada yang mati.


Meski eksperimen terhadap tikus tidak dapat menggambarkan kondisi nyata yang akan dialami manusia, peneliti bisa belajar banyak mengenai sifat-sifat virus itu sendiri, yang nantinya akan membantu penelitian selanjutnya.

Peneliti pertama kali menemukan virus Nil Barat di Uganda pada 1937. Mayoritas orang yang terinfeksi virus Nil Barat tidak akan mengalami gejala penyakit dan menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Hanya satu dari 150 orang yang terinfeksi virus Nil Barat mengalami infeksi otak yang fatal, seperti radang otak dan meningitis.

Sedangkan virus Powassan ditemukan di Ontario pada 1958. Seperti virus Nil Barat, orang-orang yang terinfeksi Powassan seringkali tidak menyadarinya karena minimnya gejala yang nampak. Namun, hingga saat ini, peneliti memperkirakan bahwa angka komplikasi kehamilan yang diasosiasikan dengan dua virus ini masih terbilang rendah. (ast/rah)