Teh Kutan, Inovasi Mahasiswa Semarang Olah Kulit Rambutan

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 22/02/2018 09:42 WIB
Teh Kutan, Inovasi Mahasiswa Semarang Olah Kulit Rambutan ilustrasi teh (Pixabay/Unsplash)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rambutan kini tengah merajai toko-toko buah dan pedagang buah pinggir jalan. Pasalnya, musim rambutan di Indonesia sudah dimulai.

Selain buahnya yang segar, kini kulit rambutan juga bisa dimanfaatkan menjadi teh yang enak dan bernilai ekonomis.

Ide mengolah kulit rambutan yang terbuang menjadi teh ini didapat dari hasil observasi kelompok mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang tengah kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Platar, Jepara, Jawa Tengah. Mereka melihat masyarakat Desa Platar mayoritas memiliki pohon rambutan.



Namun, setelah dikonsumsi, kulit rambutan banyak terbuang menjadi sampah.

"Banyak yang belum mengetahui manfaat dari kulit rambutan, selama ini hanya dibuang dan menjadi sampah," kata Koordinator Mahasiswa KKN UPGRIS Desa Platar Sumini Mina Wati di Jepara beberapa waktu lalu, dikutip dari Antara.

Tim KKN UPGRIS lalu bereksperimen memanfaatkan kulit rambutan menjadi teh dan bahan baku membuat sirup. Teh kulit rambutan ini dikenal dengan teh kutan. Selain itu, biji rambutan juga diolah menjadi emping.


Untuk membuat teh yang bernama teh kutan atau teh kulit ramburan ini, Mina menjelaskan cara yang perlu dilakukan cukup mudah. Mulai dari menyiapkan kulit rambutan, lalu diiris tipis-tipis, dan dicuci bersih.

Setelah itu, kulit rambutan dijemur hingga benar-benar kering sampai berubah warna menjadi cokelat tua. Penjemuran ini membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga hari.

Usai dijemur, teh siap dikemas dan diracik menjadi teh. Teh kutan dapat diseduh dengan air panas dengan ditambahkan gula secukupnya. Teh kutan juga bisa dinikmati dalam kondisi dingin.

Rasa dari teh kutan tak jauh berbeda dari teh pada umumnya, hanya saja memiliki aroma rambutan.

"Ketika sudah dalam bentuk minuman teh, rasa asam maupun pahit tidak terlalu terasa," ujar Mina.


Teh hutan ini juga disebut bermanfaat untuk mengurangi kadar kolesterol.

Tim KKN UPGRIS membagikan resep ini kepada warga desa agar dapat dikembangkan menjadi produk khas Desa Platar. Sekelompok mahasiswa itu sudah menggelar pelatihan dan bahkan berencana membawa teh kutan ikut pameran.

"Desa setempat juga berminat mengembangkan produk teh kutan sebagai produk khas, menyusul munculnya wacana dibuatkan hak patennya pula," ucap Mina. (chs/chs)