Serunya Belajar Membuat Tempura 'Palsu' di Jepang

Joko Panji Sasongko, CNN Indonesia | Minggu, 25/02/2018 14:14 WIB
Serunya Belajar Membuat Tempura 'Palsu' di Jepang ilustrasi replika makanan di Jepang (Thinkstock/hanohiki)
Jepang, CNN Indonesia -- Sekarang bukan lagi zamannya pelanggan restoran bisa dipuaskan dengan melihat gambar dua dimensi yang terpampang di daftar menu.

Bentuk 'makanan-makanan' asli yang dipajang di balik etalase toko yang transparan terlihat jauh lebih menggugah selera. Namun jangan salah makanan ini bukanlah makanan asli melainkan makanan tiruan, replika, alias palsu.

'Saking' miripnya dengan tempura, sushi, dan bento asli, saya sempat tertipu. Tak dimungkiri, ini memang keahlian warga Jepang untuk membuat replika makanan semirip mungkin dengan aslinya. Bukan cuma dari bentuknya saja yang mirip, tingkat kemiripan detail dari warna sampai kilau kuah sup dan sushinya juga digambarkan dengan sempurna.



Di Jepang, ada sebuah distrik yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai pengrajin replika tersebut.

Distrik itu adalah Distrik Hachiman, Kota Gujo yang masuk di kawasan Prefektur Gifu, Jepang. Beberapa waktu lalu, saya bersama rombongan Japan National Tourism Organization (JNTO) Indonesia berkesempatan mendatangi dan sekaligus belajar membuat replika makanan di kawasan tersebut.

Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Iwasai Mokei. Tempat itu diklaim merupakan rumah produksi replika paling tua di kawasan Hachiman.

Pengelola pengrajin replika tersebut mengungkapkan bahwa ide untuk membuat replika makanan pertama kali digagas oleh Takizo Iwasaki pada tahun 1932 di Osaka. Ia sukses membuat replika makanan dan kemudian dijadikan sebagai bisnis.

Setelah 20 tahun menuai sukses di Osaka, Takizo kemudian kembali ke tempat kelahirannya di Hachiman dan benar-benar mengembangkan bisnisnya tersebut.

Lambat laun perkembangan bisnis di kawasan Hacihman membaik dan membuatnya jadi sentra pengrajin replika makanan.

Usai mendengar sekelumit sejarahnya, saya pun tak sabar untuk mencoba membuat replika makanan itu sendiri. Bahan utama yang digunakan untuk membuat makanan itu adalah lilin cair khusus.

Keseruan Belajar Membuat Replika Makanan di Distrik Hachiman,Foto: CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko

Saya dan rombongan memilih paket membuat tempura. Dalam satu set tempura ini berisi susunan udang, kentang, hingga selada.

Sebelum memulai membuat, salah satu pengrajin memberi kami contoh.

"Ah mudah," pikir saya.

Bagaimana tidak saya hanya harus menuangkan lilin cair ke atas air hangat.

Hanya saja kenyataan tak semudah anggapan. Membuat replika tempura, kentang, dan selada tak semudah yang dicontohkan.

Lilin cair harus dituangkan ke atas air hangat dengan jarak presisi 20-30 cm. Setelah disiramkan dan mulai sedikit mengeras, lilin kemudian harus cepat-cepat direkatkan bahan dasar tempura, seperti udang atau kentang.

Setelah terlihat menutupi sebagian besar bahan dasar, tempura tersebut dipindahkan ke air dingin agar mengeras sempurna dan bentuknya menyerupai asli.

Hanya saja, tangan yang tak terampil dan belum terbiasa untuk membentuk lilin tiruan ini membuatnya jadi makin sulit. Ada teknik khusus yang membutuhkan keterampilan tangan untuk bisa melapisi 'udang' dengan 'remahan tempura' lilin agar bisa menutup sempurna. Saya berhasil membuatnya namun ternyata prosesnya gampang-gampang susah. 

Alhasil saya harus berpuas diri dengan tempura replika yang tak sempurna dan jauh dari kata mirip aslinya.

Keseruan Belajar Membuat Replika Makanan di Distrik Hachiman,Foto: CNN Indonesia/Joko Panji Sasongko

Hanya saja, seolah menghibur para pemula seperti saya, pengrajin replika di tempat itu mengaku tidak mungkin membuat replika yang 100 persen sama dengan makanan aslinya.

Bukan cuma set tempura yang bisa dibuat dan dibeli. Iwasai Mokei juga menghadirkan berbagai replika makanan seperti pizza, sushi, nasi kari, ikan bakar, buah-buahan, hingga es krim.

Bahkan di tempat itu juga dapat membuat replika telepon genggam hingga berbagai jenis minuman kaleng. Harga yang ditawarkan untuk belajar membuat replika makanan di tempat itu
bervariasi tergantung jenis makanan, yakni mulai dari 800 yen atau sekitar Rp100 ribu hingga 1.200 yen hingga 1.200 yen atau sekitar Rp150 ribu.

Untuk souvenir di tempat itu juga dijual beragam tergantung ukuran dan jenis, mulai dari yang termurah seharga 400 yen atau sekitar Rp50 ribu hingga 2.500 yen atau sekitar Rp300 ribu. (chs/chs)