Peneliti Indonesia dan Australia Kembangkan Vaksin Rotavirus

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Senin, 26/02/2018 18:39 WIB
Peneliti Indonesia dan Australia Kembangkan Vaksin Rotavirus Tim peneliti Indonesia yang bergabung dalam Murdoch Children's Research Institute bersama peneliti Australia berhasil mengembangkan vaksin rotavirus (RV2-BB). (Ilustrasi/Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tim peneliti Indonesia yang bergabung dalam Murdoch Children's Research Institute bersama peneliti Australia berhasil mengembangkan vaksin rotavirus (RV3-BB) yang dapat memberikan kekebalan aktif dan melindungi diri dari serangan rotavirus.

Rotavirus merupakan jenis virus yang umumnya menyerang bayi dan balita. Virus ini dapat menyebabkan diare, muntah dan dehidrasi. Di dunia, rotavirus merupakan penyebab utama diare berat pada anak di bawah lima tahun.

Ketua Regional Penelitian Gastroentrologi Anak-anak dan Penilitian Rotavirus di Indonesia, Profesor Yati Soenarto menyebut penemuan vaksin RV3-BB merupakan keberhasilan signifikan dalam kesehatan global. Pasalnya, penelitian vaksin rotavirus sudah mulai berlangsung sejak empat dekade lalu.



Khusus penelitian yang digarap Yati ini, memulai tahap pertama di Melbourne, Australia dan Selandia pada 1990-an. Riset kemudian dilanjutkan di Indonesia pada 2013 hingga 2016.

"Tidak mudah menemukan vaksin karena harus hati-hati dan betul-betul aman serta tidak menimbulkan efek samping yang berarti, kemudian baru bisa dirilis ke pasar," kata Yati di Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, dikutip dari Antara. Yati merupakan dosen di Fakultas Kedokteran UGM.

Sementara itu, peneliti bagian farmakologi Jarir At Thobari menjelaskan uji klinik vaksin rotavirus pertama di dunia dilangsungkan di Indonesia. Vaksin RV3-BB itu diberikan kepada bayi saat berusia lima hari hingga usia 18 bulan.

Vaksin itu diberikan kepada 1.649 bayi di 25 puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Hasilnya, vaksin RV3-BB ini ampuh melindungi bayi dari rotavirus.

"Tingkat keberhasilannya sangat tinggi. Lebih dari 96 persen mampu melindungi bayi selama tahun pertama dari rotavirus dan 75 persen bayi terlindungi hingga usia 18 bulan," tutur Jarir.


Para peneliti berharap vaksin RV3-BB ini dapat disuplai untuk anak-anak Indonesia dalam program imunisasi nasional. Jarir menyebut bakal menggandeng produsen obat dan vaksin sebagai pemegang lisensi untuk memproduksi vaksin rotavirus secara massal.

"Kami berharap masyarakat paham vaksin ini bisa untuk mencegah diare untuk anak dengan usia di bawah dua tahun karena rotavirus," ujar Jarir.

Di Indonesia, rotavirus merupakan penyebab infeksi paling besar dalam kasus diare yang dirawat di rumah sakit pada bayi dan anak. Rotavirus diperkirakan sudah menyebabkan 100 ribu kematian anak, 200 ribu anak di rawat inap dan 600 ribu anak rawat jalan di poliklinik seluruh Indonesia setiap tahunnya. (rah)