5 Tradisi 'Ajaib' Masyarakat Sumba

Feri Agus, CNN Indonesia | Minggu, 04/03/2018 15:01 WIB
5 Tradisi 'Ajaib' Masyarakat Sumba Wajah sumringah masyarakat Desa Adat Dikita menyambut turis di Sumba. (CNN Indonesia/Lalu Rahadian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur, memiliki beragam tradisi turun-temurun. Tradisi-tradisi itu menjadi daya tarik pariwisata yang mengundang turis untuk datang berkunjung.

Salah satu tradisi yang masih mereka anut ialah kepercayaan Marapu. Masyarakat Sumba yang berada di desa adat atau pedalaman biasanya masih menganut agama tersebut. 

Selain kepercayaan Marapu, berikut ini ialah tradisi lain masyarakat Sumba yang patut diketahui:


1. Belis

Belis merupakan tradisi seserahan dalam pernikahan masyarakat Sumba. Pria yang ingin meminang wanita Sumba wajib memberikan sejumlah hewan ternak sebagai seserahan, mulai dari kerbau, sapi, babi, hingga Kuda Sandalwood atau Pasola.

Jumlah hewan yang menjadi syarat pernikahan itu ditentukan oleh keluarga calon mempelai wanita, sehingga keluarga calon mempelai pria harus memenuhinya.

Semakin terpandang keluarga calon mempelai wanita, semakin banyak jumlah hewan yang harus diberikan. Misalnya, seorang pria ingin menikahi wanita dari keluarga bangsawan, minimal ia harus membawa 40 ekor kuda Pasola berikut belasan hewan ternak lainnya.

2. Pasola

Setiap tahunnya, Sumba menggelar Upacara Kuda Pasola sebagai tradisi. Kuda yang dikembangbiakkan sejak zaman dahulu kala di sana juga menjadi status sosial bagi masyarakat Sumba.

Atraksi utama dalam Upacara Kuda Pasola ialah adegan saling serang antar kampung. Pemuda naik ke atas kuda sambil saling melemparkan lembing atau menghunuskan parang atau yang disebut katapo. Tapi tenang saja, tidak ada yang terluka serius dalam atraksi mengerikan tersebut.

Upacara Kuda Pasola hingga saat ini masih digelar di sejumlah desa adat yang kental dengan kepercayaan Marapu, seperti di Kodi (Sumba Barat Daya) serta Wanokaka, Lamboya, dan Gaura (Sumba Barat).

Upacara Kuda Pasola dilakukan bergantian di sana mulai dari bulan Februari sampai Maret setiap tahunnya.

Pemerintah daerah yang didukung Kementerian Pariwisata lalu mengemas tradisi tersebut menjadi Festival Kuda Pasola.

3. Kubur Batu

Di desa adat dan pemukiman pelosok, warga masih terlihat bangunan batu berbentuk kubus yang dijadikan makam keluarga. 

Jasad tak diletakkan terlentang, tetapi meringkuk seperti bayi yang berada dalam janin. Sebelum "disimpan" dalam kubur batu, jasad juga telah didandani oleh baju adat Sumba. 

4. Katopo

Yang pernah menyaksikan film 'Marlina si Pembunuh Empat Babak' pasti awalnya terkejut karena melihat warga Sumba terlihat santai menenteng parang berukuran panjang.

Sumba tak identik dengan kekerasan, karena benda tajam yang disebut katopo itu merupakan aksesori yang memang biasa dibawa warga.

Katopo berukuran sekitar 50 sampai 70 centimeter. Benda tajam tersebut diselipkan dalam kain yang melilit di pinggang.

Bagi kaum pria, katopo juga sebagao simbol kejantanan. Baik pria dan wanita di Sumba menggunakan katopo untuk alat bantu bekerja, baik di ladang maupun di peternakan. 

5. Kede

Kede merupakan upacara kematian dalam tradisi Sumba. Keluarga maupun kerabat dari seseorang yang meninggal itu akan mengantarkan hewan ternak ke kediaman yang meninggal.

Berbeda dengan pernikahan, dalam kede tak ada batasan jumlah hewan ternak yang wajib diberikan. 

Setelah hewan ternak diterima, pihak keluarga yang berduka langsung menyembelih hewan tersebut, lalu dimasak dan disajikan kepada pelayat.  dipotong. 

Prosesi ini hampir sama dengan yang dilakukan masyarakat Tana Toraja, namun minus prosesi adu kerbau.

(agr/ard)