Kata Mark Bridges, Desainer Terbaik Oscar soal Phantom Thread

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Senin, 05/03/2018 09:26 WIB
Kata Mark Bridges, Desainer Terbaik Oscar soal Phantom Thread Mark Bridges (AFP PHOTO / VALERIE MACON)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mark Bridges berhasil mendapatkan piala Oscar sebagai desainer kostum terbaik dari film Panthom Thread.

Ini adalah piala Oscar keduanya setelah pekerjaan hebatnya dalam film The Artist.

Tak dimungkiri dalam film ini, gaun memang memegang peranan yang sangat penting. Sebelum menerima Oscar, Bridges juga menerima penghargaan Golden Key for Costume Design di Key West Film Festival.



Desainer kostum Mark Bridges bukan orang baru di dunia desain. Sebaliknya dia sudah malang-melintang selama 22 tahun dan bekerja sama dengan berbagai sutradara di berbagai film. beberapa di antaranya adalah Boogie Nights, There Will Be Blood, dan Ingerent Vice.

Namun kreasi kostumnya dalam Phantom Thread besutan Paul Thomas Anderson terasa sedikit berbeda dan unik.

Film ini bercerita tentang pembuat gaun terkenal di London pada 1950 bernama Reynolds Woodcocok (Daniel Day-Lewis).

"Saya harus jadi Reynolds Woodcock juga," kata Bridges dikutip dari Vogue.

"Seperti apa fashion show Reynolds Woodcock tahun 1955 di London melihat termperamennya? Ini adalah hal yang baru, mendesain dari cara pandang estetika orang lain."

Dalam film tersebut, Woodcock digambarkan sebagai orang yang sangat teliti, obsesif, licik, namun estetika akan fesyennya patut diacungi jempol.


Awalnya, Anderson meminta karakter Woodcock ini diilhami oleh karya Charles James, namun pada akhirnya Bridges 'menciptakan' karakter Woodcock dengan inspirasi dari berbagai desainer.

Untuk memenuhi ide kreatifnya tentang karakter Woodstock, Bridges membaca buku biografi Cristobal Balenciaga dan juga mempelajari tentang Hubert de Givenchy 1955 Lily of the Valley dress.

"Kami memutuskan bahwa Woodcock bukanlah couturier terbaik di dunia," kata Bridges.

"Dia akan menjadi sosok pria fesyen di masanya, memiliki banyak klien, dan diingat seperti seseorang seperti John Cavanagh, Michael Sherard, dan Victor Stiebel sekarang."

Sama seperti Woodcock dalam filmnya, Bridges adalah orang yang perfeksionis. Hanya saja dia bukanlah sosok yang control freak.

Ketika dia harus menciptakan gaun pengantin berbahan lace dan sutra yang menjadi bintang dalam film tersebut, dia membuatnya dengan ukuran dan karakter Putri Mona, walaupun sang putri tak pernah memakainya di dalam film.

Gaun-gaun dalam film tersebut dibuat dalam cuttingan yang didedikasikan pada teknik couture. Gaun dalam film pun benar-benar dibuat dengan jahitan tangan asli. Gaun tersebut dibuat gaya ala tahun 1950-an dengan jahitan sesedikit mungkin.

"Kami mendengarkan apa yang 'dikatakan' kain."

Bridges juga mengungkapkan bahwa pemahaman akan jalan cerita juga sangat penting untuk seorang desainer kostum. Misalnya, dia harus membuat busana dengan pinggul yang lebih bervolume untuk aneka gaun di tahun 50-an. Di masa itu, perempuan menggunakan undergarments dengan pad kecil yang dijahit di area dekat pelvis di gaunnya.

"Anda tahu, subyek akan berbeda-beda untuk setiap film, tapi kontribusi saya akan selalu sama dari film ke film," katanya dikutip dari Miami New Times.

"Saya rasa peran saya adalah selalu untuk bercerita lewat busana untuk memberi waktu, tempat, dan karakter, mungkin beberapa tambahan layer, busana yang halus untuk memberikan sentuhan dramatis pada filmnya. Ini selalu jadi tugas saya dalam film-film Paul. Harus digaris bawahi: Dalam hal ini, (tugas saya) selalu sama."






(chs/chs)