Dari Ruang Tamu, Warga Irak Menyebarkan Pesan Kedamaian

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 06/03/2018 12:39 WIB
Dari Ruang Tamu, Warga Irak Menyebarkan Pesan Kedamaian Kota Ramadi di Irak yang hancur lebur oleh ISIS pada tahun 2015. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asal ada dana, turis bisa dengan mudah memilih beragam jenis tempat penginapan kota-kota besar Indonesia.

Tapi di Provinsi Anbar, Irak, tak ada hostel maupun hotel yang bisa didatangi, karena bangunan tersebut telah dihancurkan oleh kelompok ISIS saat melakukan serangan ke kawasan ini pada dua tahun yang lalu.

Saat ini, kelompok ISIS sudah terusir dari pusat kota Irak. Sejumlah pengusaha lokal mulai melirik bisnis tempat penginapan. Mereka berharap, kedatangan turis bisa kembali menggairahkan sektor pariwisata kawasan ini.


"Saat saya datang ke Ramadi, saya terkejut karena sama sekali tidak ada hotel di ini," kata Karim al-Basrawi, sales penjualan aksesori mobil dari Basra yang datang untuk perjalanan bisnis.

Karim lanjut mengatakan, kalau ia sampai mengetuk pintu rumah warga untuk mendapat informasi mengenai tempat penginapan.

Yang membuat Karim terkejut, warga yang membuka pintu rumahnya menerimanya dengan hangat, meskipun dirinya pemeluk Syiah dan mereka pemeluk Sunni, sama seperti sebagian besar warga di Anbar.

"Mereka malah menawarkan saya untuk bermalam. Mereka juga membuatkan saya makan malam," ujar Karim.

Menghormati Tuhan

"Keramahan adalah hal penting bagi kami. Kami menghormati tamu sama seperti kami menghormati Tuhan," kata Syekh Mohammad Khalef al-Shaabani, salah satu tokoh masyarakat yang tinggal di Ramadi.

Mengenai rencana pembangunan hotel, Mohammad Khalef merasa hal tersebut tak diperlukan, karena warga mau membuka pintu rumahnya untuk pendatang. Warga juga bakal memperlakukan tamu dengan ramah.

"Kami melakukan segalanya untuk menyambut tamu, saya pribadi tak merestui pembangunan hotel di sini," kata Mohammad Khalef.

"Saat membangun rumah, bahkan kami telah berpikir untuk membuat diwaniya (ruang tamu) yang besar. Kami tak ambil pusing jika harus tidur dalam satu kamar beramai-ramai," lanjutnya.

Dari Ruang Tamu, Warga Irak Menyebarkan Pesan KedamaianBocah-bocah di Irak. (REUTERS/Stringer)

Senada dengan Mohammad Khalef, Omar al-Nimer juga mengatakan demikian.

Dirinya hanyalah seorang tukang cukur rambut, namun ia mengaku bakal menyambut tamu yang datang ke rumahnya dengan totalitas.

"Tradisi ini sudah dilakukan oleh keluarga saya sejak turun temurun. Contohnya, jika ada orang yang tersesat, kami akan memintanya untuk bermalam sebelum dia melanjutkan perjalanan. Kalau kami tak menawarkan hal tersebut, kami akan dicap buruk oleh tetangga," kata Omar.

Antropologis asal Perancis, Dawood Hosham, mengatakan kalau tradisi yang dilakukan masyarakat Irak ini sangat mengesankan.

"Dalam situasi ini, rasanya pendatang jadi tak begitu membutuhkan hotel, karena warga sudah menyambut mereka dengan begitu hangat. Tak hanya di Ramadi, tradisi ini dilakukan di kawasan Irak lainnya," kata Hosham, yang juga menulis buku 'The Tribes and Power in the Land of Islam'.

Tradisi pemersatu

Di pusat kota Ramadi, terlihat konstruksi bangunan hotel yang proyeknya mangkrak sejak pertama kali dicanangkan pada tahun 2013.

Proyek tersebut terhenti setelah kelompok ISIS memborbardir kawasan ini setahun setelahnya.

Salah satu pejabat pemerintahan daerah Anbar, Athal Obeid Dhahi, mengatakan kalau kawasannya membutuhkan hotel sebagai tempat penyelenggaraan acara besar, seperti pesta pernikahan atau pesta lainnya.

Namun, rencana tersebut tak mendapat dukungan dari masyarakat lokal.

"Saya jadi pesimis dengan kedatangan turis ke sini, jika tak tersedia fasilitas dan layanan yang mumpuni," kata Dhahi.

Mohammad Khalef memiliki pendapat berbeda, dengan mengatakan bahwa tradisi menyambut tamu bisa kembali mempersatukan kaum Syiah dan Sunni di Irak.

"Kemurahan hati adalah keberanian. Keberadaan hotel bakal menghapus keberanian tersebut," pungkasnya.

(ard)