Digempur Online, Mal Dituntut 'Berubah'

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Jumat, 13/04/2018 14:34 WIB
Digempur Online, Mal Dituntut 'Berubah' Menanjaknya popularitas belanja online membuat pusat perbelanjaan menghadapi tantangan baru. Bagaimana menyiasatinya? (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laju industri pusat perbelanjaan seperti mal kini terhambat dengan adanya bisnis online dan e-commerce. Beberapa tahun terakhir perkembangan pusat perbelanjaan stagnan cenderung turun.

Agar tak terus-terusan mandek, pusat perbelanjaan diminta untuk melakukan sejumlah perubahan mengikuti gaya hidup kaum milenial yang kekinian.

"Pengelola pusat perbelanjaan tidak perlu khawatir asal tahu caranya bagaimana. Saya kira yang paling tepat adalah harus cepat-cepat berubah lebih hit supaya memberikan pengalaman dan hiburan kepada yang datang terutama milenial," kata Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan usai pembukaan Seminar dan Rakernas APPBI di Jakarta, Kamis (12/4).



Ridwan menjelaskan saat ini kebutuhan masyarakat terhadap pusat perbelanjaan sudah banyak berubah. Jika sebelumnya hanya sekedar berbelanja, kini masyarakat lebih mencari pengalaman yang memberikan kesenangan dan kepuasan saat mengunjungi mal. Mulai dari acara yang diadakan di mal, lokasi yang menarik, hingga restoran atau tenant yang unik.

Ridwan menyarankan agar setiap pusat perbelanjaan mulai menyediakan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan oleh kaum milenial itu agar mal tetap ramai dikunjungi.

"Kalau mal mau bertahan, ya harus memberikan pengalaman yang luar biasa. Harus ada sesuatu yang bisa dinikmati, sesuatu yang waw, udah enggak mau yang biasa-biasa lagi. Kalau makan itu mau yang istimewa biar bisa di-update di media sosial, harus ada tempat selfie, ini yang harus jeli ditangkap pusat perbelanjaan," ucap Ridwan.

Selain kegiatan, Ridwan juga meminta sebanyak 320 pengelola pusat perbelanjaan yang tergabung dalam APPBI untuk mulai melakukan promosi di dunia maya seperti media sosial dan website.

Menurut Ridwan, sejauh ini baru terdapat puluhan pusat perbelanjaan saja yang mulai promosi secara daring. Padahal, cara ini terbukti efektif menarik pelanggan.


Perubahan gaya hidup masyarakat ini membuat beberapa tenant mengalami kerugian. Berdasarkan survey BCA tahun lalu, sebanyak 10 pusat perbelanjaan turun mulai dari 10 hingga 59 persen. Sedangkan 10 pusat perbelanjaan lain hingga 20 persen.

"Kalau melihat data itu artinya banyak yang turun luar biasa, tapi kan ada juga yang naik, artinya bisa cuma mungkin belum tahu caranya," ujar Ridwan.

Menurut Ridwan, pusat perbelanjaan yang lambat berubah terkendala karena banyaknya pemiliki sehingga sulit untuk satu suara. Sementara mal yang mampu beradaptasi dengan renovasi atau mengandalakan kreativitas mampu bertahan.

Ridwan menyebut sejauh ini kunjungan ke mal cenderung stabil. Mal besar seperti Kota Kasablanka rata-rata mencapai 120 ribu pengunjung pada hari libur, sedangkan mal menengah ke bawah berkisar sekitar 30 ribu pengunjung.

Dukungan pemerintah

Selain perubahan pusat perbelanjaan, Ridwan juga meminta dukungan pemerintah untuk mempermudah perkembangan pusat perbelanjaan.


Selama ini, Ridwal menilai pemerintah masih mempersulit pusat perbelanjaan dengan menerapkan sejumlah peraturan yang memberatkan.

"Kesannya pusat belanja itu sapi perah, padahal itu dulu sekarang sudah kurus. Sekarang 95 persen pusat perbelanjaan itu isinya kelas menengah ke bawah kok, di dalamnya banyak UMKM," ucao Ridwan.

Menurut Ridwan, pemerintah masih menerapkan pajak yang terlalu tinggi hingga 30 persen untuk tenant yang ada di pusat perbelanjaan. Selain itu, biaya listrik pusat perbelanjaan juga lebih mahal 21 karena ada penerapan pajak tambahan.

Ridwan juga mengatakn pusat perbelanjaan kini juga mendukung perkembangan UMKM dengan membuat kerja sama dengan Kementerian Perdagana. Dalam setahun, pusat perbelanjaan akan membuat empat kali pameran yang berisi UMKM. (rah/rah)