Cerita Intan 17 Tahun Bersama 'Jember Fashion Carnaval'

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 18/04/2018 23:08 WIB
Cerita Intan 17 Tahun Bersama 'Jember Fashion Carnaval' Intan Ayundavira ikut meramaikan Jember Fashion Carnaval (JFC) sejak awal berdiri hingga tahun ini di gelarannya yang ke-17 tahun. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Saat peluncuran Jember Fashion Carnaval (JFC) 2018 di gedung Kementerian Pariwisata beberapa waktu lalu, sebanyak 10 model memamerkan kostum dengan beragam tema. Dari 10 tema ini, terdapat tema 'Star'.

"Star, cahaya yang menembus Asia. Intan Ayundavira, ikut JFC selama 17 tahun," ujar Presiden JFC, Dynand Fariz saat mempresentasikan kostum pada Selasa (17/4).

Sontak semua mata tertuju pada Intan yang berkostum serba 'bling-bling' ini. Ia berlenggak-lenggok luwes dan tak berhenti menebar senyum pada para hadirin.


Ditemui usai peluncuran JFC 2018, Intan seolah tak merasa lelah. Pada CNNIndonesia.com, Intan bercerita dirinya tak pernah melewatkan gelaran JFC. Selama 17 tahun, 17 kali pula ia turut meramaikan catwalk 3,6 kilometer dengan kostum-kostum yang ia buat.


"Dulu ikut dari lulus SMP, SMA di Jember dan kuliah di Esmod Jakarta. Tiap tahun enggak ingin absen. Jadi di tengah kesibukan kuliah selalu sediain waktu buat balik ke Jember buat ikut JFC," ujarnya bersemangat.

Banyak kisah ia lalui bersama JFC. Intan berkata awalnya JFC dipandang sebelah mata oleh sebagian publik. Ia ingat kala berpartisipasi pada JFC keempat. Mengambil tema tsunami, para model harus menyuguhkan aksi teatrikal. Bukan disambut tepuk tangan, ia bersama tim justru disambuh cemoohan.

"Waktu itu masih awal kan, orang masih teriaki kami orang gila. Tapi harus tetap profesional, mengikuti alur teatrikal. Semua bagian dari performa," lanjutnya.

Cerita Intan 17 Tahun Bersama 'Jember Fashion Carnaval'Jember Fashion Carnaval. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)

Akan tetapi, selalu ada buah manis dari perjalanan panjang JFC. Menurut Intan, JFC memberikannya kesempatan untuk melanglang buana ke berbagai negara bermodalkan kreativitas dan semangat.

Intan paling menyukai perjalanannya ke London, Inggris untuk turut serta dalam jambore internasional pada 2007. Ia menggambarkan suasana gelaran mirip dengan setting film Harry Potter.

"Karena peserta dari berbagai negara, lalu ada seperti hutan dan dijadikan arena. Per negara punya tenda masing-masing. Kami berkesempatan makan bareng semua negara. Di situ kami menunjukkan budaya masing-masing negara. Kami bawa JFC dan waktu itu bersama Papua, jadi seru banget," ujarnya.


Semangat JFC

Berjalan sepanjang 3,6 kilometer dalam kondisi berbalut kostum memang jadi tantangan tersendiri bagi Intan. Menurutnya, perlu kondisi fisik yang fit. Tak hanya itu, pikiran, waktu dan tenaga sebelumnya jua tercurah demi merancang kostum yang sesuai dengan tema JFC.

Semangat menggebu ini ia dapat dari orang tuanya. Intan menuturkan orang tuanya sudah terlibat JFC dari awal kemuncuannya.

"Dulu yang sekarang jadi suami saya bertanya-tanya 'Apa sih JFC?'. Tapi akhirnya dia jadi volunteer, bahkan setelah punya anak dia juga ikutan jalan. Saya senang bisa didukung orang terdekat," katanya.

Tak hanya suami, sang anak yang terbilang masih belia pun ia ajak memeriahkan JFC. Saat sang buah hati berusia 8 bulan, Intan tak segan mengajak ia bergabung bermodalkan stroller atau kereta dorong bayi. Ia memang tak mendandani sang putra karena kulit yang masih sensitif.

"Enggak dandan tapi strollernya dihias. Suami saya ajak. Sekeluarga jadi ikut karena kenapa enggak. Kan seru banget, sayang untuk dilewatkan," tambahnya.

Pada Agustus nanti, ia berencana mengikutsertakan sang buah hati untuk turut serta di usianya yang ke 2 tahun. Namun Intan belum memutuskan tema apa yang akan ia ambil. Meski mengenakan kostum bertema Star, ia berkata kostum ini hanyalah prototype, bukan kostum yang akan ia kenakan.

Cerita Intan 17 Tahun Bersama 'Jember Fashion Carnaval' Intan Ayundavira, ikut JFC selama 17 tahun. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)


Intan mengakui banyak yang ia korbankan demi JFC. Namun ia merasa semua itu sepadan dengan apa yang ia dapat kini. JFC membawanya pada tempat-tempat baru, pengalaman baru sera pertemuanya dengan orang-orang baru. Tak ada orang yang tak bertanya soal JFC setelah tahu dirinya pernah terlibat di dalamnya.

"Di JFC kami digembleng habis-habisan, belajar terus. Kerja itu enggak melulu soal materi. Ini juga soal sosial dan sebagian dari ibadah, pelayanan, banyak hal secara enggak langsung Tuhan kasih berkat lewat JFC," katanya.

"Impiannya Indonesia dikenal karena karnavalnya. Walau nanti besarnya JFC jadi nomor satu saat anak saya besar, enggak apa-apa, ini bagian dari perjuangan." (rah/rah)