Mitos dan Fakta Seputar Kanker Serviks

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Jumat, 20/04/2018 19:41 WIB
Mitos dan Fakta Seputar Kanker Serviks Masyarakat masih memercayai banyak mitos yang keliru soal kanker serviks, dan berpandangan negatif terhadap vaksin HPV. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/champja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kanker serviks adalah penyakit kanker kedua terbanyak yang dialami wanita setelah kanker payudara. Di seluruh dunia, tiap 2 menit seorang wanita meninggal karena kanker serviks, menurut National Cervical Cancer Coalition (NCCC).

Sedangkan di Indonesia, menurut data RSCM, angka kematian wanita karena kanker serviks mencapai 26 orang per hari. Ini artinya, kanker serviks mengambil nyawa seorang wanita Indonesia tiap kurang dari satu jam.

Tingginya angka kejadian kanker serviks di Indonesia disebabkan pemahaman masyarakat Indonesia yang masih kurang mengenai kanker serviks dan virus penyebabnya, Human Papilloma Virus (HPV). Masyarakat juga masih memercayai banyak mitos yang keliru soal kanker serviks, dan berpandangan negatif terhadap vaksin HPV.


"Masih ada orang-orang yang punya skeptisisme dan pikiran negatif [terhadap vaksin HPV]," ucap vaksinolog dan dokter spesialis penyakit dalam Kristoforus Hendra Djaya pada sebuah diskusi di Upnormal Coffee & Roaster, Jakarta Pusat, Kamis (19/4).


Sebagai seorang dokter, Kristoforus mengaku telah menemui banyak pasien yang masih mempercayai mitos terkait kanker serviks dan vaksin HPV. Berikut adalah beberapa mitos dan fakta tersebut.

1. Mitos: pembalut dapat menyebabkan kanker serviks

Beberapa pasien Kristoforus pernah bertanya apakah pembalut dapat menyebabkan kanker serviks. "Itu mitos," jawab Kristoforus.

Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV, bukan paparan bahan-bahan kimia atau substansi tertentu. Seseorang hanya dapat terinfeksi virus HPV jika tertular oleh orang lain melalui hubungan seksual, menggunakan barang pribadi milik orang lain yang terinfeksi HPV, atau lewat kontak tidak langsung.

Sedangkan pembalut adalah barang sekali pakai yang langsung dibuang. Oleh karenanya, tidak mungkin seseorang dapat terkena kanker serviks karena menggunakan pembalut.


2. Mitos: jika belum menikah, tidak perlu vaksin HPV

Menurut Kristoforus, virus HPV yang menyebabkan kanker serviks tidak hanya tertular melalui hubungan seksual, tapi juga kontak tidak langsung. Seseorang yang menggunakan barang-barang pribadi orang lain yang terinfeksi HPV, misalnya handuk atau pakaian dalam, juga dapat tertular. Oleh karenanya, walau belum menikah atau belum pernah berhubungan seksual, seseorang tetap memiliki resiko terinfeksi virus HPV dan terkena kanker serviks.

Mengacu pada kertas posisi World Health Organization pada 2014, vaksin HPV bahkan harus diprioritaskan bagi individu yang belum terpapar HPV, yakni usia 9 hingga 13 tahun. Semakin cepat vaksin HPV diberikan, semakin tinggi tingkat efikasinya, yakni mencapai 99%. Semakin lama vaksin HPV diberikan, semakin turun juga tingkat efikasi vaksin tersebut.

3. Fakta: virus HPV tidak mati dengan sabun

Kristoforus juga bercerita, banyak orang mengira infeksi virus HPV dapat dicegah hanya dengan mencuci tangan atau mencuci alat genital setelah berhubungan seksual. Hal ini merupakan pandangan yang keliru, karena virus HPV tidak mati walau dicuci dengan sabun.

Menurut Kristoforus, bahan kimia yang dapat membunuh virus HPV adalah klorin atau pemutih. Namun, tentunya tidak mungkin seseorang mencuci badannya menggunakan bahan ini. Oleh karenanya, infeksi virus HPV dan kanker serviks hanya bisa dicegah lewat vaksin. Jika gejala sudah nampak dan terlanjut terinfeksi virus HPV, pasien tersebut harus mendapat penanganan lebih lanjut dari dokter.


4. Fakta: virus HPV bisa menular lewat WC umum

Seperti halnya menggunakan barang-barang pribadi orang lain yang terinfeksi virus HPV, menggunakan WC umum juga dapat menjadi sumber penularan virus HPV. Hal ini disebabkan, orang yang menggunakan WC umum seringkali menyentuh permukaan yang sama, seperti gagang pintu, gayung, atau keran. Jika permukaan-permukaan tersebut pernah disentuh orang yang membawa virus HPV, orang lain yang menyentuh permukaan tersebut dapat tertular virus HPV juga.

Hal ini bukan berarti harus menghindari menggunakan WC umum. Pasalnya, menurut Kristoforus, tiap harinya kita pasti terpapar virus HPV di berbagai tempat, tidak hanya di WC umum. Namun virus HPV baru berkembang menjadi sel kanker dalam jangka waktu yang lama, seperti bertahun-tahun. Jika kekebalan tubuh cukup baik, virus ini tidak akan selalu berkembang menjadi sel kanker.

Cara paling efektif dan mudah untuk mencegah kanker serviks adalah lewat administrasi vaksin. Semakin dini vaksin diberikan, semakin sedikit pula usaha dan biaya yang perlu dikeluarkan. (ast/rah)