Bahaya Pemanis Buatan, dari Diabetes hingga Obesitas

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Senin, 23/04/2018 12:55 WIB
Bahaya Pemanis Buatan, dari Diabetes hingga Obesitas Studi kesehatan terbaru menemukan bahwa pemanis buatan juga memiliki kaitan dengan obesitas dan penyakit diabetes, seperti halnya gula biasa. (Ilustrasi/Foto: CNNIndonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gula seringkali mendapat reputasi buruk sebagai penyebab obesitas, penyakit diabetes, dan segudang masalah kesehatan lainnya. Untuk menyiasati ini, pemanis buatan digunakan untuk mengganti kandungan gula, sehingga makanan dan minuman masih dapat terasa manis tanpa efek negatif gula.

Namun ternyata, pemanis buatan bisa jadi lebih buruk dibandingkan gula. Studi kesehatan terbaru yang dipresentasikan di konferensi Experimental Biology, San Diego, AS menemukan bahwa pemanis buatan juga memiliki kaitan dengan obesitas dan penyakit diabetes, seperti halnya gula biasa.

Selama tiga minggu, studi tersebut membandingkan efek biologis di tubuh tikus setelah diberi makanan sehari-hari yang tinggi glukosa dan makanan sehari-hari yang tinggi aspartam atau asesulfam potasium. Mereka menemukan bahwa kedua jenis diet ini sama-sama memberi dampak negatif, walau dalam cara yang berbeda.



"Kami melihat bahwa mengganti gula dengan pemanis buatan non-kalori dapat menyebabkan perubahan-perubahan negatif dalam metabolisme energi dan lemak," ungkap pimpinan studi Brian Hoffmann, seperti dikutip dari Sydney Morning Herald.

Studi lainnya yang dirilis bulan lalu oleh George Washington University menemukan bahwa penderita obesitas yang mengonsumsi pemanis kalori rendah mengalami kenaikan jumlah gen yang memproduksi lemak. Semakin banyak penderita obesitas tersebut mengonsumsi pemanis kalori rendah, semakin parah dampaknya.

Pemanis buatan juga ternyata dapat menyebabkan intoleransi glukosa, sesuatu yang dialami penderita diabetes, berdasarkan studi lain yang dipublikasi di jurnal Nature pada 2014.

Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa tiga pemanis buatan paling umum yakni aspartam, sukralosa dan sakarin menyebabkan kenaikan tingkat gula darah dan mengganggu kondisi bakteri di dalam perut (disbiosis). Kondisi flora perut yang terganggu ini umumnya ditemukan pada penderita diabetes tipe 2.


Penemuan-penemuan ini mendukung pernyataan Hoffmann mengenai pemanis buatan yang sama buruknya dengan gula.

"Meski pemanis buatan non-kalori telah digunakan dalam keseharian kita, masih tetap ada peningkatan drastis dalam tingkat obesitas dan diabetes," ujar Hoffmann, seperti dikutip Earth.

Oleh karenanya, jika takut dengan dampak negatif gula, tidak perlu repot-repot beralih ke makanan dan minuman yang menggunakan pemanis buatan. Lebih baik kurangi konsumsi makanan dan minuman manis secara keseluruhan.

"Fokus dalam menurunkan konsumsi pemanis, maupun pemanis buatan atau tidak, adalah strategi yagn lebih baik dalam menghindari kelebihan berat badan dan obesitas dibandingkan menggunakan pemanis buatan," ucap profesor ilmu psikologis dan neurosains behavioral Susan Swithers. (ast/rah)