Bandeng Presto, dari Olahan Rumahan Jadi Oleh-Oleh Semarang

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 05/05/2018 13:20 WIB
Bandeng Presto, dari Olahan Rumahan Jadi Oleh-Oleh Semarang Berawal dari mengelola tambak ikan di Kampung Purwosari, Tambakrejo, Semarang, Hartini Darmono mengembangkan usaha bandeng presto jatuh bangun. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Semarang, CNN Indonesia -- Berawal dari mengelola tambak ikan di Kampung Purwosari, Tambakrejo, Semarang, Hartini Darmono mengembangkan usaha bandeng presto dengan jatuh bangun.

Perempuan yang akrab disapa Bu Darmono itu memulai usahanya saat tergabung dalam Kelompok Wanita Tani Nelayan. Kelompok itu merupakan kumpulan para istri nelayan yang kerap menanti sang suami pulang membawa tangkapan ikan.

Agar tak menganggur, Darmono mengajak para perempuan itu untuk berkegiatan mengelola tambak dan mengolahnya menjadi aneka panganan.


"Usaha ini lahir sejak tahun 1980, tepatnya pada 25 Desember 1980. Saya sudah bergelut dengan tambak dan Bandeng," kata Darmono saat bercerita tentang usaha bandeng presto UD Mina Makmur yang dirintisnya kepada media dalam rangkaian kegiatan Jelajah Gizi Semarang, beberapa waktu lalu.


Dari yang semula tak laku, perlahan kerja keras Darmono dan ibu-ibu nelayan itu mulai membuahkan hasil. Olahan ikan rumahan itu mulai diminati pasar dan permintaan pun meningkat. Melihat keuntungan yang mulai besar, kaum laki-laki pun tertarik untuk ikut bergabung dengan kelompok ibu-ibu ini.

Keikutsertaan laki-laki ini membuat Kelompok Wanita Tani Nelayan berganti nama menjadi Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mina Makmur.

"Yang artinya, mina itu adalah ikan dan makmur itu memberi kecukupan," ujar Darmono.

Saat itu, kelompok ini memiliki 70 anggota yang mengembangkan sembilan komoditas yaitu bandeng presto, ikan segar, udang, terasi, ikan asap, ikan asin, siomay, dan bakso.

Bandeng Presto, dari Olahan Rumahan Jadi Oleh-Oleh SemarangHartini Darmono. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Dari ragam komoditas itu, yang terkenal dan banyak diminati adalah hasil olahan bandeng presto. Kelompok Darmono lalu memutuskan untuk fokus pada olahan bandeng presto saja.

"Visi dan misi saya atau kelompok saat itu adalah kami akan mengembangkan ikon kota Semarang, jadi kami fokus pada bandeng prestonya," ucap Darmono.

Ikan bandeng itu kemudian diolah menjadi beragam varian seperti otak-otak presto, pepes, nugget, dan lain sebagainya.


Usaha yang semakin besar dan popularitas bandeng presto yang kian menanjak membuat KUB Mina Makmur berubah menjadi sentra pengolahan bandeng dan kemudian menjadi kluster. Kini, kluster itu menjadi kampung tematik di mana warganya dengan mandiri mengolah bandeng presto.

Bu Darmono tetap meneruskan usaha bandeng presto dengan nama UD Mina Makmur dan telah meraih beragam prestasi dan penghargaan.

Usaha ini pernah menjadi Juara Lomba Optimalisasi Produk Perikanan 2004 yang diberikan langsung oleh Presiden RI saat itu, Megawati Soekarnoputri. Baru ini, Darmono juga mendapat penghargaan dari Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti.

Pengolahan Bandeng

Permintaan bandeng presto yang meningkat membuat Darmono tak lagi mengurus tambak namun fokus pada pengolahan bandeng. Darmono menerima kiriman bandeng sekitar 400-800 kg sehari dari suplier. Bandeng-bandeng itu lalu dibersihkan dan dibuang bagian isi perut dan insangnya.

Setelah dibersihkan, bandeng bakal dilumuri bumbu yang diracik sendiri.

"Bumbu itu dibuat dari rempah-rempah yaitu lengkuas, jahe, bawang putih, kemiri, dan ketumbar," kata Darmono.


Campuran rempah itu di campur dengan garam beryodium lalu disangrai dan ditambahkan serai dan daun salam. Setelah dilumuri bumbu, bandeng lalu ditutup dengan daun pisang dan ditata di dalam loyang sebelum dimasukkan ke dalam panci presto. Daun pisang berfungsi agar bumbu dapat meresap dan kian nikmat.

Satu panci presto biasanya berisi sekitar 10-11 loyang ikan. Bandeng itu kemudian dimasak dengan air bertekanan tekanan 1,5 ATM dan suhu 110-120 derajat celcius dalam waktu 75 menit.

Setelah dipresto, bandeng didinginkan terlebih dahulu sebelum dikemas. Pengolahan bandneg ini sudah mendapatkan sertifikat nasional dan internasional berupa ISO dan HACCP sehingga aman dan terjamin dikonsumsi.

Selain sebagai oleh-oleh, bandeng Bu Darmono ini juga sudah dikirim ke beberapa kota di Indonesia. Beberapa pelanggan asing dari Malaysia dan Brunei Darussalam juga sudah melirik bandeng Bu Darmono.

Bandeng Bu Darmono juga sudah diikutsertakan di berbagai pameran kuliner di luar negeri. Kendati demikian, Darmono masih bermimpi untuk dapat mengekspor bandengnya ke luar negeri.

"Ekspor itu tidak mudah, ini tugas yang muda-muda supaya bisa menjalankannya," ucap Darmono.

Untuk dapat mencantap bandeng presto UD Mina Makmur ini, 1 kg dibanderol mulai dari Rp80 ribu. (rah/rah)