Olahan Legendaris Semarang, Nasi Goreng Babat Pak Karmin

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 05/05/2018 11:59 WIB
Olahan Legendaris Semarang, Nasi Goreng Babat Pak Karmin Kenikmatan babat gongso yang masih terjaga hingga saat ini, membuat Nasi Goreng Babat Pak Karmin kian diminati dan menjadi makanan legendaris di Semarang. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Semarang, CNN Indonesia -- Hampir lima dekade, Sukarmin (68) yang akrab disapa Pak Karmin berjualan nasi goreng babat gongso di kawasan Mberok, Kota Lama, Semarang. Kenikmatan babat gongso yang masih terjaga hingga saat ini, membuat Nasi Goreng Babat Pak Karmin kian diminati dan boleh dibilang menjadi salah satu makanan legendaris di Kota Lumpia.

Pak Karmin memulai usahanya saat berusia 22 tahun. Ketika itu, Karmin berjualan hanya demi memenuhi kebutuhan istri dan anaknya yang berusia tiga bulan. Karmin berjualan bermodal resep turun-temurun yang didapat dari eyangnya.

"Dimulai dari tahun 1971 gara-gara kepleset, sudah kawin tapi enggak tau mau dikasih apa. Jadinya, ya jualan," kata Karmin yang duduk di balik meja kasir di depan warung nasi goreng babat miliknya, beberapa waktu lalu ketika dikunjungi tim Jelajah Gizi Semarang. CNNIndonesia.com menjadi salah satu peserta Jelajah Gizi Nutricia itu.



Olahan Legendaris Semarang, Nasi Goreng Babat Pak KarminFoto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman

Kala itu, Karmin hanya berjualan dengan tenda sederhana di dekat Jembatan Mberok. Pelanggannya pun tak seberapa. Dalam kurun waktu 10 tahun, Karmin mengaku dagangannya rata-rata hanya dibeli 3-4 orang per jam. Hasilnya, hanya cukup untuk biaya sehari-hari. Namun, Pak Karmin tak menyerah. Dia terus mengembangkan rasa dengan kerap berbincang dengan pelanggannya. Karmin lalu mulai berinovasi dengan babat gongso.

Demi menciptakan rasa yang lezat pada daging babat yang mengandung banyak lemak, Karmin mencucinya dengan air mengalir berkali-kali hingga bersih. Khusus untuk babat dengan daging yang halus direbus hingga tiga jam, sedangkan babat kasar direbus hingga delapan jam agar daging terasa empuk.

Setelah direbus, babat kemudian diolah dengan bumbu rahasia. Beberapa bumbu dengan rasa yang kental adalah irisan bawang merah, bawang putih, cabai, dan kecap.

Untuk nasi goreng babat, adonan jeroan itu dicampur dengan nasi dalam panci kecil. Sedangkan, babat gongso ditumis dengan bumbu yang sedikit berair atau dikenal dengan nyemek. Tingkat kepedasan bisa diminta dan bakal diatur sesuai selera saat dimasak.

Olahan Legendaris Semarang, Nasi Goreng Babat Pak KarminFoto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman



Penyajian nasi goreng babat dan babat gongso tergolong sederhana. Tapi, rasanya yang pedas manis menggugah selera. Pecinta jeroan bakal terpuaskan oleh rasa daging babat yang empuk, renyah dan menyatu dengan bumbu kental. Bagi yang tak suka jeroan, Pak Karmin juga menyediakan pilihan telur dan daging ayam gongso.

Soal harga, Karmin mengaku tak mengambil banyak keuntungan. Sudah lima tahun terakhir harga babat gongso mikil Karmin tak pernah mengalami kenaikan. Nasi babat gongso dihargai Rp25 ribu, nasi goreng babat Rp25 ribu dan nasi telur Rp10 ribu.

"Saya sudah tidak punya tanggungan lagi, tinggal istri saja. Segini saja sudah cukup. Saya ingin membuat pembeli bertahan dan semakin banyak," tutur Karmin.

Karmin yang sudah berjualan bertahun-tahun itu kini sudah memiliki pelanggan setia. Diah bahkan mengaku sudah akrab dengan pelanggannya itu.

Kini, warung makan Karmin masih tetap sederhana dengan tambahan tenda untuk tempat makan pengunjung. Jika sedang membludak, tak jarang pelanggan mesti antre dan menikmati babat gongso di pinggir jalan atau Jembatan Mberok.

Dalam sehari, warung yang buka mulai pukul 08:00 hingga 22:00 WIB dapat menjual hingga 600 piring. Warung makan ini juga sudah membuka sebuah cabang di Jalan MH Thamrin, Semarang. (rah/rah)