Soto Bangkong Legendaris, Khas Semarang yang Berkembang Pesat

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 05/05/2018 11:35 WIB
Soto Bangkong Legendaris, Khas Semarang yang Berkembang Pesat Soto Bangkong di Semarang bukan berarti soto katak. Kata bangkong memang dikenal luas sebagai nama lain dari katak yang berukuran besar. (Foto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Semarang, CNN Indonesia -- Soto Bangkong di Semarang bukan berarti soto katak. Kata bangkong memang dikenal luas sebagai nama lain dari katak yang berukuran besar.

Namun, Soto Bangkong yang sudah didirkan hampir enam dekade itu sebenarnya merupakan soto ayam khas Semarang. Nama bangkong diambil dari nama perempatan jalan tempat warung soto ini berdiri. Konon kabarnya, diperempatan itu banyak terdapat bangkong.

"Nama bangkong karena dulunya, nama perempatan ini adalang perempatan bangkong karena banyak kodok. Nah, pelanggan yang datang saat itu banyak menyebut soto ini Soto Bangkong," kata pengelola Soto Bangkong Joko Bennyanto dalam rangkaian acara Jelajah Gizi Semarang beberapa waktu lalu.


Pria yang akrab disapa Benny itu meneruskan usaha Soto Bangkong yang dibangun ayahnya almarhum Soleh Soekarno. Benny bercerita bapak dan ibunya itu merantau dari Sukoharjo, Solo ke Semarang selama tiga hari tiga malam dengan berjalan kaki pada tahun 1946.


Sesampainya di Semarang, Soleh kemudian bekerja pada sebuah toko Soto. Kegigihannya, membuat Soleh mendapatkan kesempatan untuk berjualan soto sendiri pada 1947. Saat itu, Soleh berjualan soto keliling kampung dengan menggunakan angkringan yang dipikul.

"Lima tahun bapak berjualan seperti itu sebelum dapat tempat di sini. Berjualan sambil sampingan menarik becak," ujar Benny.

Soto Bangkong Legendaris, Khas Semarang yang Berkembang PesatFoto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman


Soleh lalu mendapatkan tempat untuk berjualan di sebelah kantor Pos Semarang di perempatan bangkong. Saat ini, lokasi itu diberi nama Jalan Brigjen Katamso No 1.

Warung soto yang awalnya kecil dengan tempat terbatas, kini sudah berkembang menjadi rumah makan besar dan sohor di Semarang. Soto Ayam Bangkong ini sudah memiliki sebuah cabang di Semarang dan dua cabang di Jakarta yakni di kawasan Pakubuwono dan Kelapa Gading. Soto Bangkong itu dikelola oleh anak-anak Soleh.

Benny bahkan berencana menambah beberapa cabang lagi di beberapa kota di Indonesia.

Menjaga Rasa

Soto Bangkong dapat bertahan di tengah banyaknya warung soto lain lantaran rasa yang masih autentik. Salah satu kunci rasa Soto Bangkong adalah kecap yang diproduksi sendiri. Kecap ini tidak terlalu kental dibandingkan kecap pada umumnya.


"Kami produksi kecap sendiri, biar tidak ditiru sotonya," kata Benny.

Rahasia lain adalah penggunaan daging ayam kampung yang berpengaruh terhadap rasa soto terutama kuahnya. Daging ayam kampung yang terasa lebih alot ini disiasati dengan potongan yang kecil-kecil. Daging ayam ini juga membuat kuah soto menjadi lebih gurih.

Setiap harinya, Soto Bangkong dapat menghabiskan 40 ekor ayam kampung untuk 200-300 porsi.

Selain daging, Soto Bangkong juga berisi campuran irisan tomat, bihun, tauge, bawang merah, dan banyak bawang putih. Benny mengaku bawang putih memang merupakan salah satu penyedap alami yang digunakan untuk Soto Bangkong.

Soto Bangkong Legendaris, Khas Semarang yang Berkembang PesatFoto: CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman

"Iya, bawang putihnya banyak karena itu penyedap," tutur Benny.

Soto Bangkong ini disajikan dalam mangkok yang agak tinggi dengan porsi yang pas. Soto Bangkong dapat dinikmati dengan tambahan sate ati, kerang dan telur puyuh dengan kuah seperti semur.

Selain itu adapula sate tempe, tahu, dan perkedel. Aneka sate ini, terutama sate kerang menjadi ciri khas yang memberikan kenikmatan berbeda saat menyantap Soto Bangkong.


Benny mengaku sejak dulu, ayahnya tak pernah pelit berbagi resep. Setiap karyawan yang bekerja dengannya lalu diberi modal untuk membuka usaha soto sendiri. Hanya saja, Soleh tak mengizinkan untuk mengenakan nama Soto Bangkong.

"Boleh buka sendiri yang penting jangan pakai nama Soto Bangkong. Rezeki enggak bakal tertukar," ucap Benny. (rah/rah)