Hal-hal yang Patut Diketahui Seputar Transplantasi Hati

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 09/05/2018 13:32 WIB
Hal-hal yang Patut Diketahui Seputar Transplantasi Hati Bagi penderita gagal hati, transplantasi bisa jadi salah satu solusi. Apa saja syarat dan tahapannya? (ilustrasi/Foto: Thinkstock/didesign021)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organ hati memiliki peranan penting bagi tubuh. Tanpanya, tubuh tidak bisa menyerap nutrisi penting makanan dan membuang racun berbahaya. Namun bukan berarti mereka yang mengidap gagal hati tak memiliki harapan.

Gagal hati merupakan tahap akhir dari penyakit kronik hati. Gejalanya antara lain, kulit dan mata berwarna kuning, nyeri pada bagian perut atas kanan, perut buncit, mual dan muntah, muntah dan buang air besar darah serta gangguan kesadaran atau ensipalopati.

Di dunia medis, gagal hati dapat diatasi dengan transplantasi hati yaitu melakukan cangkok dari hati pendonor. Menurut Dokter Toar J.M. Lalisang dari Dapertemen Medik Ilmu Bedah, RS Ciptomangunkusumo (RSCM), transplantasi hati di Indonesia pertama kali dilakukan di Semarang pada 2010. Transplantasi yang dilakukan adalah transplantasi donor hidup atau sebagian organ hati berasal dari pendonor yang masih hidup.



"Transplantasi itu dilakukan dengan syarat keduanya, resipien (penerima) dan pendonor sama-sama sehat. Transplantasi itu, ibarat mobil diberi karburator baru," katanya saat konferensi pers di ruang kuliah Departemen Ilmu Bedah, RSCM, Senin (7/5).

Hingga kini, lanjutnya, RSCM telah menangani 48 pasien transplantasi hati dengan rincian sebanyak 6 pasien dewasa dan 42 pasien anak. Pada pasien dewasa, hati yang dicangkokkan bisa sebagian atau separuh. Sedangkan pada anak, tidak banyak atau dua segmen (hat terbagi menjadi empat segmen atau bagian), karena volume hati anak tidak sebesar orang dewasa.

Mereka yang menjalani transplantasi hati artinya organ hati tidak berfungsi sebagaimana mestinya atau disebut gagal hati. Penyebabnya beragam. Pada orang dewasa, gagal hati disebabkan oleh penyakit (hepatitis B dan C, kanker hati, penyakit autoimun) dan konsumsi alkohol. Sedangkan pada anak, gagal hati kebanyakan disebabkan oleh kelainan bawaan seperti atresia bilier dan alagille syndrome atau kelainan sifat sel kromosom sehingga fungsi organ terganggu.

Umumnya, anak yang mengalami gagal hati disebabkan oleh atrea bilier atau kondisi saluran empedu yang tidak terbentuk sempurna. Organ hati tidak bisa mengeluarkan cairan empedu ke kantong empedu dan menganggu fungsi hati.


Tahapan transplantasi hati

Transplantasi hati bukan perkara sederhana. Baik pendonor maupun resipien harus memenuhi syarat-syarat sehingga transplantasi bisa dilakukan. Untuk pendonor dipilih mereka yang memiliki ikatan darah dengan resipien dan memiliki golongan darah sama. Fungsi organ hati juga harus dalam keadaan normal.

Dalam kesempatan serupa, Dokter Andri Sanityoso dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Divisi Gastroenterologi Hepatologi RSCM menjelaskan ada tiga tahapan. Pertama, skrining pada resipien dan pendonor. Andri berkata pada tahap ini dilakukan pengecekan golongan darah dan cek fungsi hati serta organ lain.

"Karena ada resipien yang berat sehingga dia enggak bisa terima risiko operasi. Kalau terlalu berisiko, kami enggak mau (transplantasi), donor ini jadi sia-sia. Ada skornya sendiri. Klo lewat skor, kami enggak anjurkan lagi," katanya.

Andri menjelaskan skor dalam dunia medis untuk melihat fungsi hati disebut Model for End-Stage Liver Disease (MELD). Skor MELD digunakan tenaga medis untuk memutuskan apakah transplantasi layak dilakukan atau tidak. Menurut Andi, skor transplantasi dilakukan saat skor berada pada 15-30. Di atas 30 tidak dianjurkan karena kondisi organ hati terlalu berat untuk menjalani transplantasi.

"Lanjutannya CT Scan, MRI dan biopsi (pemeriksaan dengan mengambil sampel jaringan organ hati) untuk mrmastikan livernya bagus. Skrining selesai, baru bisa dikerjakan (transplantasi)," imbuhnya.


Karena hati akan 'kembali'

Donor hati bukan berarti benar-benar kehilangan sebagian hati selamanya. Tak seperti donor ginjal yang notabene membuat pendonor tinggal memiliki satu ginjal, pendonor transplantasi hati masih bisa memiliki hati yang 'utuh'. Menurut Toar, organ hati pendonor tidak akan mengalami gangguan fungsi walau diambil sebagian.

"Hati itu akan memenuhi volumenya kalau dibutuhkan," katanya.

Perawatan bagi pendonor pasca transplantasi tidak sulit karena pada dasarnya mereka adalah orang sehat. Sedangkan perhatian serius perlu diarahkan pada resipien. Bagi tubuh resipien, organ hati yang dicangkokkan adalah benda asing. Andri menjelaskan sifat imunitas tubuh akan menolak 'organ asing' ini.

Hal ini membuat resipien harus rutin mengonsumsi obat imunosupresan supaya organ hati yang dicangkokkan tidak rusak.

"Obat ini membuat sistem imun turun sehingga resipien berisiko tinggi kena infeksi," lanjut Andri.


Ia pun menyarankan para resipien untuk menjaga diri dari infeksi misalnya dengan mengenakan masker saat bepergian di tempat yang penuh orang serta rutin evaluasi kondisi kesehatan. Selain itu, mereka juga harus menjaga berat badan untuk menghindari obesitas. Ini berlaku untuk pendonor maupun resipien.

Kelebihan berat badan atau obesitas menimbulkan kondisi yang disebut fatty liver atau organ hati berlemak. Andri memaparkan kondisi ini bukan berarti organ hati terbungkus lemak, tetapi justru sel-sel lemak menumpuk di organ.

"Dulu dianggap aman, padahal ini bisa jadi sirosis, kanker. Ini bukan hal yang ringan. Kalau sudah gitu bisa diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi. Ini bisa mengarah ke stroke dan serangan jantung. Buat resipien, risikonya bisa fibrosis lagi, rusak lagi," ujarnya. (rah/rah)