Surat dari Rantau

Empat Kali Puasa di Negeri Tirai Bambu

Sitti Marwah, CNN Indonesia | Senin, 21/05/2018 18:27 WIB
Empat Kali Puasa di Negeri Tirai Bambu Ilustrasi. (REUTERS/Edgar Su)
Nanchang, CNN Indonesia -- Berbahagialah bagi Anda yang masih bisa menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan bersama keluarga dan kerabat di Indonesia. Pasalnya ini merupakan tahun ke-empat saya menjalaninya di Nanchang, China.

Sejak tahun 2014 saya menempuh pendidikan Magister Jurusan Hubungan Internasional dengan beasiswa China Scholarship Council di Universitas Nanchang.

Sebagai seorang Muslim tidak ada yang saya sesali saat mendapat rezeki berkuliah di negara yang multietnis seperti China, walau saya sempat merasa gentar di awal kedatangan.


Kebebasan beragama menjadi salah satu kegentaran saya saat pertama kali mendapat kabar bakal kuliah di Negeri Tirai Bambu.

Ada ketakutan jika nanti tak diizinkan salat di tengah kuliah, sulit menemukan masjid, serta hal-hal lain yang sekiranya mempersulit saya memanen pahala selagi sekolah.

Kekhawatiran itu saya sampaikan kepada senior-senior di kampus. Mereka lalu memandu saya dan mahasiswa Muslim lainnya untuk bertemu dengan komunitas Islam di Universitas Nanchang.

Setelah berbincang panjang akhirnya kekhawatiran saya memudar. Alhamdulillah, ada musala dan masjid di sekitar kampus. Ada juga kantin dan rumah makan berlabel halal yang bisa dikunjungi.

Berdasarkan data statistik dari sensus nasional yang dilansir 'White Paper: China's Policies and Pracitices on Protecting Freedom of Religious Belief' pada tanggal 3 April 2018, saat ini terdapat 20 juta penduduk China yang beragama Islam.

Di Nanchang sendiri ada 4.361 orang Muslim dari Suku Hui, salah satu suku minoritas dari 56 suku yang ada di China. Arti dari 'hui' sendiri adalah Musliman atau Muslim Persia.

Orang Suku Hui merupakan keturunan perkawinan penduduk China dengan pedagang Muslim dari Arab dan Persia yang datang pada masa pemerintahan Dinasti Yuan hinggal awal pemerintahan Dinasti Ming.

Mereka berasal dari provinsi di utara China, seperti Xin Jiang dan Lan Zhou, yang lalu datang ke Nanchang berdagang makanan halal.

Pekerjaan penduduk China yang Muslim rata-rata berdagang mie yang dikenal dengan Lanzhou Lamian dan Xibei Lamian. Mereka yang tinggal di kawasan Nanchang menjadi "penyelamat" kami yang ingin membeli daging sapi atau ayam yang segar.

Di bulan Ramadan dan hari besar Islam lainnya, Mesjid Besar Hongguta menjadi pusat ibadah umat Muslim di Nanchang. Acara buka puasa sampai Salat Tarawih digelar di sana.

Empat Kali Puasa di Negeri Tirai BambuMesjid Besar Hongguta. (Dok. Sitti Marwah)

Selain kurma, buah semangka menjadi salah satu menu wajib buka puasa di sini. Jika membaca tulisan ini saat waktu puasa jangan langsung membayangkan segarnya buah berair manis itu ya hehehe...

Ramadan tahun ini jatuh di musim panas, sehingga waktunya jadi lebih panjang daripada di Indonesia yang hanya 13 jam, yakni 16 jam. Suhu udaranya sedikit lebih gerah dibandingkan Jakarta. Waktu sahur pukul 3 pagi dan berbuka pukul 7.30 malam.

Di asrama saya ada ruangan khusus yang didedikasikan untuk ibadah selama bulan puasa. Di sana kami menggelar acara buka puasa dan Salat Tarawih bersama jika tak sempat ke masjid.

Jadwal pengurusnya juga berganti setiap hari, sehingga semua mahasiswa yang menggunakan ruangan tersebut bisa memikul tanggung jawab yang sama.

Empat Kali Puasa di Negeri Tirai BambuIbadah Salat Tarawih di Universitas Nanchang. (Dok. Sitti Marwah)

Rasa rindu jauh dari kampung halaman tentu saja ada. Tapi mahasiswa Indonesia di Universitas Nanchang cukup kreatif untuk menghadirkan menu berbuka khas Tanah Air, seperti Es Buah, Es Pisang Ijo, Nasi Kuning hingga Soto Ayam.

Keberagaman menu kuliner juga terasa jika mahasiswa dari Yaman, Yordania, Pakistan atau Palestina yang sedang bertugas menjadi pengurus.

Empat tahun menjalani Ramadan di negara yang mayoritas non-Muslim seakan tak lagi menjadi hambatan bagi saya.

Kondisi itu malah melatih saya menguatkan iman sekaligus bertoleransi terhadap umat agama lain.

Toh itu kan esensi dari ibadah?

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

Kami tunggu!

(ard)