Surat dari Rantau

Sebagai Perempuan di Negara Paman Sam

Dania Tanzil, CNN Indonesia | Minggu, 22/04/2018 11:40 WIB
Sebagai Perempuan di Negara Paman Sam Patung Liberty di Amerika Serikat. (REUTERS/Brendan McDermid)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun ini tepat sepuluh tahun saya tinggal di Amerika Serikat, tepatnya di Seattle. Butuh waktu yang panjang bagi saya untuk bisa mewujudkan mimpi tinggal di negara super power ini, dari les bahasa Inggris, mencari beasiswa sampai akhirnya diterima di bangku S2 di University of Washington.

Di University of Washington saya mengambil jurusan Manajemen Informasi yang didominasi pria.

Meski demikian saya merasa tak risih atau takut tersaingi, karena saya tahu sekarang banyak perempuan yang memegang jabatan penting di perusahaan teknologi seluruh dunia.


Walaupun memiliki sebutan Negara Paman Sam, namun sebagian besar penduduk di Amerika Serikat sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender.

Terutama di dunia pendidikan, mereka sangat menghargai suara perempuan, baik yang lokal maupun imigran seperti saya.

Dalam hari-hari perkuliahan, saya sering berdiskusi dengan dosen dan profesor di sini mengenai masa depan titel master saya.

Mereka sering mengatakan kalau ada banyak lapangan pekerjaan tersedia di Amerika Serikat untuk perempuan yang tertarik di bidang teknologi, jika sekiranya saya tak ingin kembali ke Indonesia.

Peluang tersebut membuat saya semakin semangat untuk mengejar kelulusan dengan nilai yang baik. Sekaligus juga ingin mengusir pandangan negatif bahwa perempuan Indonesia hanya bisa datang ke Amerika Serikat jika dinikahi oleh pria dari sini.

[Gambas:Instagram]

Selain bergaul dengan teman sekelas, saya juga punya banyak teman di luar kampus. Kurang lebih seperti di film-film, kehidupan di Amerika Serikat memang sangat bebas.

Meski bebas, namun para pria, khususnya teman sepergaulan saya, nyatanya sangat hormat kepada perempuan.

Mereka tak segan membukakan pintu atau mengantarkan pulang teman-teman perempuannya jika sudah terlalu malam. Mereka juga sigap membantu jika mengetahui ada temannya yang memiliki keterbatasan fisik.

Saya mendengar banyak perlakukan rasis yang diterima oleh imigran, khususnya perempuan, di Amerika Serikat.

Kabar-kabar tak mengenakkan itu lebih sering saya dengar saat pemerintahan Presiden Donald Trump, yang juga banyak "menyunat" keistimewaan untuk kaum perempuan dan anak dalam hal kesehatan dan sosial lainnya.

Beruntungnya hingga saat ini saya tidak pernah mengalami hal tersebut. Khususnya Seattle, saya merasa kota ini sangat ramah terhadap kaum perempuan.

[Gambas:Instagram]

Sudah sepuluh tahun di Amerika Serikat berarti sudah sepuluh perayaan Hari Kartini di Indonesia yang saya lewatkan.

Saya masih ingat betul saat masih kecil saya sering dipakaikan kostum daerah oleh orangtua untuk ikut pawai bersama teman-teman di sekolah.

Saya juga masih ingat perkataan guru saya yang mengatakan bahwa "tanpa perjuangan Kartini mungkin saat ini perempuan Indonesia tak punya kesempatan untuk sekolah".

Mungkin jika Kartini tak pernah bersuara, saat ini saya tidak sedang menempuh pendidikan di negeri orang yang jaraknya ribuan kilometer dengan perbedaan waktu belasan jam dari Tanah Air.

Saya berharap perempuan-perempuan dari Indonesia yang juga sedang berada di luar negeri dan menempuh pendidikan atau bekerja bisa terus memiliki semangat berkarya, sehingga perjuangan Kartini tak sekadar surat bertuliskan tangan yang bertema emansipasi.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

Kami tunggu!

(sel/ard)