Ulasan Fashion

'Tersesat' dalam Romantisme Koleksi Terbaru Biyan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 23/05/2018 20:44 WIB
'Tersesat' dalam Romantisme Koleksi Terbaru Biyan Desainer Biyan mengeluarkan koleksi terbarunya tanpa tema tertentu. Terinspirasi dari karya pelukis Rusia, Ivan Kuzmich Makarov ia bermain palet warna. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Desainer Biyan Wanaatmadja atau lebih dikenal dengan Biyan membuat kejutan di peragaan busana terbarunya 'Womenswear Spring/Summer 2019'.

Tak memberi tema tertentu untuk koleksi tersebut, ia seolah ingin 'membebaskan' publik untuk mengeksplorasi koleksinya, lewat aneka palet warna, dan mengajak publik 'tersesat' dalam catatan perjalanan yang ingin ia suguhkan. Perjalanan itu beranjak dari perjumpaannya dengan lukisan karya pelukis Rusia, Ivan Kuzmich Makarov yang menjadi inspirasinya kali ini.

"Saya menyukai kepekaan palet warna Ivan. Sangat feminin, cantik, lembut, merefleksikan segala sesuatu soal wanita," kata Biyan jelang peragaan busana koleksi terbarunya, di Ritz Carlton-Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (22/5).



Makarov, seorang pelukis potret (portrait) abad 19 dikenal piawai menuangkan kecantikan wanita di atas kanvas. Lukisan-lukisannya mampu menggambarkan kelembutan wanita lewat palet warna yang khas. Warna-warni inilah yang kemudian diterjemahkan Biyan ke dalam 125 look busana wanita.

Ia mengambil palet warna yang cukup luas dengan dominasi warna-warna 'lembut' khas Makarov seperti warna netral, gradasi putih, nude, beidge, pink, serta soft scarlet (salah satu turunan warna merah). Di samping itu, ia menyelipkan warna-warna bold seperti biru tua, hitam, hijau, dan merah marun.

Bermain Palet Warna, Biyan Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono

'Modern Victorian'

Dalam koleksinya kali ini, Biyan menyisipkan kesan Victorian, tapi disesuaikan dengan gaya kekinian.

"(Koleksi busana) sangat Victorian tapi enggak banyak karena sekarang abad 21. Modern Victorian," imbuhnya.

Koleksi busana didominasi potongan longgar, dan over-sized. Aneka midi dress hadir dengan lengan merekah (puffed), A-line dress, juga gaun-gaun dengan aksen drappery (lipatan-lipatan jatuh). Tak hanya berbentuk gaun, busana juga hadir dalam potongan baby doll (mirip pakaian tidur), celana tanggung, atasan, bawahan berupa celana longgar serta luaran atau outer. Kesan Victorian tampak pada teknik layering atau permainan lapisan pada busana. 

Bermain Palet Warna, Biyan Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono

Menggunakan bahan-bahan seperti lace, tule, sutera, serta organza, Biyan seperti ciri khas desain busananya masih bermain-main dengan detail embroidery, manik-manik dan layering. 

Penempatan detail pun tak asal dan tak terkesan berlebihan. Manik-manik ditempatkannya pada pinggir lengan atau pada bagian kerah. Sementara, embroidery atau sulaman menghiasi tepi busana. Secara kasat mata, sulaman bunga dan daun dibuat kontras lewat perpaduan warna kuning dan merah. Lalu, ada juga sulaman fauna seperti burung-burung dan itik. Semua menjadi mencolok terutama berkat motif dan ragam warna.


Menurut Biyan, keragaman bentuk maupun kreasi pada koleksinya kali ini membebaskan penikmat fashion untuk melakukan padu padan. Namun, koleksinya seolah menyeret orang untuk turut 'tersesat' di sebuah museum bersama dirinya. Ia seakan mempersilakan penikmat fashion menerjemahkan sendiri apa yang mereka saksikan, tanpa ikatan tema apapun.

"Saya senang merasakan saat tersesat di tengah museum. (Kemudian menerka) apa yang akan dilakukan mereka (petugas museum). Saya mengagumi sejarah peradaban manusia. Ini selalu jadi excitement, berpikir bagaimana karya seni ratusan tahun lalu itu tetap terasa modern," papar Biyan.

"Jawabannya satu, ini dari kesungguhan dan cinta dari hati. Saya ingin membagi pengalaman personal saya," ujarnya. 

Untuk urusan padu padan, tampaknya busana-busana ini masih perlu proses penyederhanaan desain. Pasalnya jika diamati ia lebih pas jika dikatakan busana semi couture.

Bermain Palet Warna, Biyan Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono

Secara keseluruhan, pengalaman 'tersesat' dalam perjalanan Biyan ini semakin terasa berkat pilihan musik plus tata panggung. Panggung utama memperlihatkan replika hutan lengkap dengan hewan-hewannya. Namun musik bukan berupa musik 'alam' alias suara-suara khas jika orang tersesat di hutan seperti suara kumbang atau burung-burung.

Sebenarnya gelaran koleksi busana bertema spring/summer 2019 terhitung terlalu cepat diadakan, mengingat biasanya desainer memamerkan karyanya pada September. Namun gelaran Paris Couture Week mengharuskan Biyan membuat segala sesuatunya cepat. Pada pertengahan Juni mendatang seluruh busana harus ia kirim ke Paris.

"Sejak 8 tahun lalu saya rutin presentasi di Paris dan agen saya di sana memilih akhir Juni. Agen merasa cocok untuk mempresentasikan karya saya di Paris Couture Week. Nanti 20-an Juni seluruh koleksi harus dikirim ke Paris, sehingga tidak memungkinkan jika fashion show di awal Juni," ujarnya beralasan.
(rah/rah)


BACA JUGA