Marga Alam, Eksplorasi Desain Kebaya dan Gaun Pengantin

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Senin, 28/05/2018 20:29 WIB
Desainer Marga Alam menghembuskan napas terakhirnya Senin (28/5). Ia dikenal piawai dalam desain kebaya dan gaun pengantin. Desainer Marga Alam menghembuskan napas terakhirnya Senin (28/5). Ia dikenal piawai dalam desain kebaya dan gaun pengantin. (Foto: Detikcom/Mohammad Abduh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar duka menyelimuti dunia mode tanah air. Desainer Marga Alam menghembuskan napas terakhir Senin (28/5) pagi. Desainer kelahiran 17 Maret 1968 ini dikenal piawai merancang kebaya dan gaun pengantin.

Menyusuri jejak kariernya, Marga tercatat terakhir menampilkan karyanya di gelaran Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) 2018 April lalu. Peragaannya diberi tajuk 'Eternity' dan beberapa potongan busana sempat ia bagi lewat akun Instagramnya, @margaalamdesigner.

Hampir dua dekade di dunia mode Indonesia, Marga kerap mengeksplorasi desain kebaya di hampir setiap rancangannya. Di samping itu, ia juga meramaikan pilihan busana pernikahan atau bridal dengan siluet yang elegan. 



[Gambas:Instagram]

Dikutip dari buku 'Marga Alam Kebaya', Marga sudah dekat dengan dunia mode sejak kecil. Keluarganya memiliki keturunan penjahit handal. Ia pun mulai terjun di dunia fashion berkat pertemuannya dengan Rudy Hadisuwarno. Rudy dikabarkan pernah meminta Marga menjadi asisten sang adik, Yani Hadisuwarno, desainer untuk Rudy Hadisuwarno Bridal.

Penikmat fashion pun mulai melirik busana rancangan Marga sejak ia terlibat dalam beragam kompetisi desain. Label 'Marga Alam' pun lahir pada 1997. Sejak itu Marga mulai rajin mengikuti beragam peragaan busana sehingga tak ayal mata media pun tertuju pada karya-karyanya.

Pada 2014, ia menyelenggarakan peragaan busana tunggal perdananya. Peragaan busana bertajuk 'Butterfly' ini memperlihatkan beragam karya busana seperti gaun malam dan cocktail dress tapi tetap dengan siluet yang ia kuasai yakni, kebaya.

[Gambas:Instagram]

"Bertema 'Butterfly', koleksi rancangan ini hadir tenang tanpa ingar bingar gemerlap ornamen tambahan dan segala jenis embelishment. Seluruhnya disuguhkan dengan sentuhan feminin, glamor dan elegan," tulis Marga dalam buku kumpulan karya berjudul 'Butterfly by Marga Alam'.

Desainer keturunan Arab-Jawa Timur ini akrab dengan kebaya yang sarat dengan ukir-ukiran dan aneka bentuk kerah. Meski terbilang desainer 'lawas', Marga tetap menunjukkan beragam inovasi sehingga kebaya tak lantas lekat dengan desain klasik.

Kebaya di tangan Marga tak selalu menggunakan bahan lace atau tule seperti kebaya pada umumnya. Ia pernah merancang kebaya dengan bahan velvet hijau plus sentuhan detail embroidery dan payet pada pagian kerah, dada dan tepi busana.

[Gambas:Instagram]

Ia pun bereksperimen dengan bentuk leher tinggi yang sekilas mirip dengan kerah Shanghai khas busana tradisional China. Kesan seksi tapi tetap tertutup pun ia siasati dengan penempatan detail embroidery. Bagian dada busana seolah terbelah berkat penempatan yang apik.


Siluet ala kebaya ini pun ia tarik ke gaun malam. Perkawinan gaun dan kebaya melahirkan busana yang kaya akan detail. Embroidery khas kebaya yang awalnya hanya menghiasi kerah, garis kancing dan ujung lengan pun menyebar hingga seluruh permukaan busana.

[Gambas:Instagram] (rah/rah)