Andy Spade 'Bantah' Isu Kate Spade Tak Mau Obati Depresinya

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Kamis, 07/06/2018 10:44 WIB
Andy Spade 'Bantah' Isu Kate Spade Tak Mau Obati Depresinya Andy Spade dan Kate Spade (Matthew Peyton/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suami Kate Spade, Andy Spade akhirnya angkat bicara setelah mencuatnya berita Kate Spade meninggal dunia pada Selasa (5/6).

Andy mengungkapkan bahwa Kate Spade menderita depresi selama bertahun-tahun. Dalam pernyataannya kepada New York Times, Andy dan putrinya yang beranjak remaja, Bea merasa sangat kehilangan dan tak bisa membayangkan akan memulai menjalani kehidupan tanpa Kate.

Andy Spade mengatakan bahwa istrinya menderita depresi dan kecemasan selama bertahun-tahun, tapi tak ada indikasi atau tanda-tanda bahwa Kate akan melakukan hal ini.



"Tak ada indikasi dan tanda-tanda bahwa dia akan melakukan hal tersebut. Ini sangat mengejutkan. Dan itu jelas-jelas bukan dia, tapi 'sosok jahat' yang dilawannya selama ini."

"Dia sangat aktif mencari bantuan untuk mengatasi depresi dan kecemasannya selama lima tahun belakangan. Menemui dokter di sela aktivitas sehari-harinya, minum obat untuk atasi depresi dan kecemasan. Tak ada penyalahgunaan alkohol atau zat terlarang. Tak ada juga masalah bisnis," kata Andy dalam pernyataannya kepada New York Times dikutip dari Reuters.

"Ini yang sebenarnya. Semua yang di luar sana saat ini adalah bohong. Dia sangat dekat dengan dokter yang mengobati penyakitnya."

Masalah depresi yang dialami Kate Spade sebelum meninggal ini juga sempat diucapkan oleh kakak Kate, Reta Saffo.


Hanya saja Saffo mengatakan, perancang mode yang berasal dari Kansas City, Missouri itu menderita depresi dalam tiga-empat tahun terakhir dan menolak bantuan medis, ditengarai karena itu akan memengaruhi imej 'happy-go-lucky' yang melekat di dirinya.

"Saya hampir bisa membuatnya menjalani perawatan. Tapi 'imej' bahwa Kate Spade seorang yang riang dan 'happy-go-lucky' lebih penting baginya untuk tetap dijaga. Dia benar-benar khawatir tentang apa yang akan dikatakan orang jika mereka tahu akan hal ini," tulis Saffo.

"Setelah beberapa kali mencoba (mengajaknya mendapat bantuan medis), akhirnya saya melepaskannya."


Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis. (chs/chs)