Merawat Kebhinekaan di 'Kota China Kecil' saat Lebaran

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 16/06/2018 12:33 WIB
Merawat Kebhinekaan di 'Kota China Kecil' saat Lebaran Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/Asf/Spt/15.)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama daerah Lasem saat ini mulai jarang masuk dalam daftar destinasi banyak wisatawan jika berkunjung ke Jawa Tengah. Padahal, Lasem punya sejarah panjang dalam merawat kebhinakaan.

Secara administrasi, Lasem merupakan kecamatan di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayahnya sekitar 45,04 kilometer persegi dan hanya punya 20 desa. Namun di sini, perpaduan budaya China, Jawa, dan Arab sangat kental terasa.

Berkunjung ke Lasem, wisatawan akan disajikan pemandangan seperti ragam bangunan, ornamen serta tulisan China, Jawa, dan Arab di tiap sudutnya. Pemandangan itu seakan menggambarkan akulturasi tiga kebudayaan yang sudah lama ada di Lasem.


Selama ini Lasem dijuluki sebagai 'Kota China Kecil'. Julukan itu disematkan karena konon Lasem merupakan kota awal pendaratan orang China di tanah Jawa. Selain itu di Lasem juga terdapat banyak perkampungan China.

Perbedaan kebudayaan di sini tak lantas membuat warganya intoleran dan anti-keberagaman. Justru sebaliknya, warga Lasem sangat menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.

Hal itu sebagaimana pernah diucapkan oleh salah seorang tokoh Nahdlatul Ulama sekaligus tokoh pluralisme setempat, Zaim Ahmad Ma'shoem.

"Belahlah dada orang-orang China Lasem, pasti banyak mengalir darah Jawa. Ini waktunya kita membawa Lasem menjadi kota yang lebih baik," demikian kutipan ucapan Zaim Ahmad Ma'shoem pada sebuah majalah yang sengaja ditempel di dinding salah satu sudut penginapan di Lasem.

Zaim Ahmad, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Zaim, adalah tokoh yang populer sebagai pelopor konsep kerukunan beragama dan pluralisme di kota kecil di jalur Pantura Jawa itu.

Mengutip Antara, Sabtu (16/6), Gus Zaim adalah putra K.H. Ahmad Syakir dan cucu dari K.H. Mashoem Ahmad. Sang kakek adalah pendiri Jam'iyyah Nahdlatul Ulama bersama K.H. Wahab Hasbullan dan K.H. Hasyim Asyari.

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Gus Zaim tanpa kenal lelah berusaha untuk merawat keberagaman antara warga Lasem yang terdiri atas warga keturunan China, India, Arab dan Jawa sebagai pribumi.

Gus Zaim sendiri merasa enggan untuk menggunakan kata pribumi atau nonpribumi karena hal itu akan membuat warga terjebak dalam pengkotakan berdasarkan etnis.

"Sampai kapan kita harus bicara tentang China, India atau Jawa? Kita semua orang Indonesia. Saya sendiri juga keturunan China," katanya.


Idul Fitri 2018

Sampai sekarang, toleransi dan keberagaman terlihat masih sangat terawat dan terjaga di Lasem. Bahkan menjadi warisan sejarah dalam perjalanan panjang kota kecil yang berhawa panas itu.

Seperti suasana yang terlihat pada saat Idul Fitri 1439 Hijriah yang jatuh pada 15 Juni 2018, akulturasi budaya China, Arab dan Jawa tetap terasa begitu kental.

Di restoran sebuah penginapan dengan arsitektur dan ornamen China, para tamu yang sebagian adalah warga keturunan, terlihat menikmati hidangan diiringi lantunan takbir khas lebaran.

"Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar. Laa ilaa haillallahu Allaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd."

Di loteng bangunan tua itu, tergantung puluhan lampion berwarna merah dengan aksara China, sementara di pintu masuk terdapat hiasan ketupat lebaran dan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H.

Di meja, sudah tersedia hidangan khas Lebaran, yaitu opor ayam, nasi goreng hati ampela, kerupuk kulit, serta sambel goreng krecek. Juga tersedia sajian lain seperti roti, sayur salad dan panekuk pisang.

Lebaran dan Merawat Kebhinekaan di 'Kota China Kecil'Selain kuliner khas, Batik Lasem adalah salah satu warisan budaya yang tetap dipertahankan. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)


Suasana harmonis dan penuh toleransi juga terasa di Desa Karangturi, dimana Pesantren Kauman berada. Pintu gerbang pesantren itu dihiasi dengan aksara China.

Bangunan unik lainnya, yakni pos siskamlimg yang diapit oleh hadits berbahasa Arab dan terjemahannya dalam bahasa Cina, yaitu kutipan Hadits Bukhari yang dalam Bahasa Indonesia berarti "Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya."

Visualisasi kebhinekaan di Lasem juga dapat dilihat dari suasana Kelenteng Cu An Kiong yang berada di tengah-tengah Kampung Soditan yang ramai dikunjungi wisatawan dari sejumlah kota. Kelenteng yang diperkirakan dibangun pada 1450 itu berada di tengah perkampungan santri, diapit delapan pondok pesantren.

Menyusuri Lasem, terutama Desa Karangturi, membuat pengunjung seolah tidak berada di Tanah Jawa, melainkan China, terutama bila berada di kompleks penginapan yang dikenal dengan Rumah Merah.

Disebut Rumah Merah karena tembok di pintu utama dengan tinggi sekitar tiga meter itu menggunakan cat merah mencolok mata, sebagaimana umumnya rumah tradisional etnis Tionghoa.

Penginapan Rumah Merah yang sekarang bernama Tiongkok Kecil Heritage itu merupakan bangunan berarsitektur China kuno yang tetap mempertahankan bentuk aslinya dan menjadi representasi perjalanan sejarah Lasem itu sendiri.

Sembilan kamar yang ada di penginapan dengan luas bangunan 265 meter persegi itu bahkan diberi nama kota-kota besar di China, seperti Beijing, Hangzhou, dan Taipei.

(osc/osc)