Catatan Perjalanan

Panduan Menuju 'Kota yang Hilang' di Peru

Farchan Noor Rachman, CNN Indonesia | Minggu, 17/06/2018 12:14 WIB
Panduan Menuju 'Kota yang Hilang' di Peru Pemandangan Machu Picchu. (Thinkstock/DestinoIkigai)
Cusco, CNN Indonesia -- Ada banyak jalan ke Roma, begitu peribahasanya. Faktanya hanya sedikit jalan menuju Machu Picchu.

Opsi menuju Machu Picchu memang tidak banyak dan orang-orang mayoritas mengambil jalur paling populer melalui Cusco.

Bagi sebuah kota yang populer dengan wisatanya, Cusco adalah kota yang sibuk, nyaris tidak ada kata istirahat.


Orang-orang memenuhi jalanan nyaris 24 jam. Hotel, restoran, toko souvenir adalah jamur yang memenuhi kota.

Bulan Mei 2017 saya berkesempatan mendatangi Machu Picchu melalui Cusco.

Dari Jakarta saya terbang menggunakan maskapai KLM dengan tiket seharga Rp30 jutaan rupiah untuk pergi-pulang.

Durasi penerbangannya selama 36 jam, termasuk transit di Amsterdam selama delapan jam.

Bagi warga negara Indonesia, tak perlu memikirkan visa untuk ke Peru, karena Peru memberikan bebas visa bagi warga negara Indonesia selama 30 hari kunjungan.

Saya tiba di Cusco dengan badan yang menggigil akibat sergapan suhu dingin dan sesak napas, karena area ini berada di ketinggian di atas 3000 mdpl.

Perjalanan semakin terasa bagi perjuangan karena saya tiba di bulan menuju musim dingin yang berlangsung antara April sampai Mei.

Aklamatisasi atau melakukan adaptasi suhu selama di Cusco selama satu atau dua hari sangat disarankan daripada langsung mendaki ke Machu Picchu.

Di Cusco saya menginap di hotel Eco Inn Hotel. Tarifnya Rp1,2 juta rupiah per malam. Hotel ini menyediakan fasilitas tabung oksigen untuk tamu yang kepayahan dalam upaya aklamatisasi ketinggian.

Hotel ini juga menyediakan menu minuman seduhan daun koka panas, yang berfungsi untuk meredakan gejala sakit kepala akibat ketinggian yang mendadak dirasakan.

Panduan Menuju 'Kota yang Hilang' di Peru (EMB)Aklamatisasi ketinggian dibutuhkan sesampainya di Cusco. (Dok. Farchan Noor Rachman)

Menuju Machu Picchu

Hari pertama dan kedua di Cusco saya habiskan untuk keliling kota sebagai usaha aklimatisasi.

Di hari ketiga setelah badan beradaptasi dengan ketinggian, barulah saya menuju Machu Picchu.

Perjalanan dimulai dari stasiun Ollantaytambo, dua jam perjalanan dari Cusco, tepatnya pukul 08.00.

Baru dari stasiun itu, kereta akan membawa saya menuju Aguas Calientes, kota terakhir yang menjadi pintu gerbang menuju Machu Picchu alias Kota Yang Hilang.

Opsi menggunakan kereta paling banyak dipilih wisatawan. Selain cepat, harga tiketnya juga dirasa cukup masuk akal tergantung tipe keretanya.

Opsi lain bagi yang menyukai petualangan dan berkelimpahan uang bisa mengambil trekking jalur Inka Kuno, dengan lama perjalanan berjalan kaki tiga sampai sembilan hari.

Tarifnya tergantung tipe trekking; makin lama, makin jauh, makin mahal harganya.

Ada dua operator kereta yang memiliki rute menuju Machu Picchu, IncaRail dan PeruRail. Keduanya menawarkan perjalanan dengan beragam kelas.

Saya menyarankan agar membeli tiket sebelum kedatangan melalui situs resmi mereka.

Saya sendiri menggunakan kereta Vistadome dari operator PeruRail. Rutenya Ollantaytambo ke Aguas Calientes, dengan tiket seharga US$80 (sekitar Rp1,1 juta) per orang sekali jalan.

Fasilitasnya cukup lengkap. Sepanjang dua jam perjalanan ada pemandu yang menjelaskan sejarah singkat Machu Picchu. Makanan besar dan camilan ikut disajikan untuk penumpang.

Panduan Menuju 'Kota yang Hilang' di Peru (EMB)PeruRail yang membawa saya ke Machu Picchu. (Dok. Farchan Noor Rachman)

Stasiun Ollantaytambo mengingatkan saya dengan stasiun-stasiun di kota kecil di Indonesia, bangunannya kolonial dengan peron sekadarnya.

Bedanya, di stasiun ini ramai turis dari berbagai negara dunia yang akan ke Machu Picchu.

Dengan tas punggung besar dan kamera yang digantung di leher dengan sabar menanti kereta yang akan membawa mereka ke Aguas Calientes.

Sampai di Aguas Calientes pada pukul 11.00 saya segera bergegas menuju halte bis. Inilah desa terakhir sebelum menuju Machu Picchu.

Di sini ada banyak tempat penginapan beragam kelas, mulai dari hostel sampai hotel. Objek wisata utamanya ialah sumber air panas. Yang ingin belanja oleh-oleh juga bisa datang ke pasarnya.

Persis di jalanan desa ada halte kecil tempat turis antri untuk shuttle bus yang akan mengantar menuju puncak gunung di mana Machu Picchu berada.

Harga tiketnya US$12 (sekitar Rp167 ribu) per orang sekali jalan. Medan berangkatnya menanjak, sementara pulangnya turun.

Bagi yang ingin mengirit bisa membeli berangkatnya saja lalu pulangnya jalan kaki atau sekalian jalan kaki saja pulang pergi.

Rute jalan kaki memang irit, tetapi butuh waktu tiga sampai empat jam untuk berjalan kaki dari Aguas Calientes menuju Machu Picchu dengan rute menanjak sepanjang jalan.

Antrian bisnya panjang betul, wajar karena Machu Picchu adalah destinasi wisata paling populer di Peru.

Dari data milik Badan Pariwisata Peru diketahui bahwa sepanjang tahun 2017 sebanyak 3,8 jutaan turis datang ke Peru. Setengahnya mendatangi ke Machu Picchu.

Di musim turis pada bulan Juli sampai Agustus, setiap harinya sekitar 2.500 turis memenuhi Machu Picchu.

Serbuan turis tentu saja mengkhawatirkan. Ada saja yang jahil menaiki batu-batu, mencorat-coret sampai mencuri batu-batu di sana.
Banyaknya turis yang tertarik mengunjungi Machu Picchu disikapi oleh Pemerintah Peru dengan pembatasan jumlah pengunjung.

Objek wisata bersejarah ini buka setiap hari mulai pukul 06.00 sampai 18.00.

Dalam sehari maksimal 2.500 orang yang bisa masuk. Jika pengunjung sudah mencapai angka 2.500, maka mereka otomatis ditolak masuk dan dipersilakan mencoba masuk di hari berikutnya.

Itulah alasan sistem pertiketan di Machu Picchu hanya dilakukan via online (https://www.machupicchu.gob.pe/). Tidak ada loket pengunjung di Machu Picchu dan lebih baik membeli tiket masuk jauh-jauh hari.

Harga tiket masuk ke Machu Pacchu adalah 152 Peru Soles (sekitar Rp646 ribu) per orang.

Butuh setengah jam untuk saya antre sebelum naik bis yang lalu berjalanan menanjak melewati pinggir gunung.

Setiba di Machu Picchu pada pukul 12.00, saya bisa langsung masuk menuju area situsnya. Selaras dengan pembatasan jumlah pengunjung, pemeriksaan saat masuk begitu ketat.

Tiket diperiksa dan harus sama dengan paspor, tas pengunjung digeledah satu persatu.

Ada beberapa barang yang mustahil untuk dibawa masuk. Tripod besar dikhawatirkan merusak bebatuan. Drone dilarang karena alasan keamanan.

Proses pemeriksaan ini cukup memakan waktu. Pengunjung yang datang merasa maklum karena ini adalah upaya Pemerintah Peru untuk menjaga aset sejarah bangsanya.

Machu Picchu adalah keajaiban arsitektur Bangsa Inca, walaupun konon umur kota ini hanya sebentar.

Panduan Menuju 'Kota yang Hilang' di Peru (EMB)Keindahan Machu Picchu yang tak henti saya bayangkan setelah kembali ke Jakarta. (Dok. Farchan Noor Rachman)

Berdiri di akhir era Inca dan runtuh di masa pendudukan Spanyol hingga baru ditemukan kembali pada awal abad ke-20.

Sebagai sebuah kota, peninggalan di Machu Picchu terbilang lengkap, mulai dari komplek pemukiman, tempat ibadah, sekolah sampai pertanian.
Dari sekian banyak teori tentang kota ini, fakta yang tampak dari peninggalan sejarahnya adalah bahwa Machu Picchu adalah kota agrikultur.

Kota ini ditopang dengan lahan pertanian yang diduga adalah ladang jagung dan kentang di lereng-lereng bukit yang miring.

Penempatan lahan pertanian di bukit yang miring untuk menyesuaikan gerak matahari dan sistem pengairan dengan mengandalkan gaya gravitasi.

Perhitungan itu memungkinkan petani di Machu Picchu tetap bisa berladang dalam setahun penuh tanpa putus.

Di dalam komplek Machu Picchu yang sedang dirundung angin dingin, saya merenungkan teori yang terasa sangat cerdas itu.

Tak lupa saya mengagumi usaha Pemerintah Peru yang bekerja keras untuk menjaga kelestarian objek wisata bersejarah ini.

Tiga jam di Machu Picchu saya harus kembali karena jam kunjung sudah habis.

Di pintu keluar saya kembali antre bis untuk turun ke Aguas Calientes.

Dari Aguas Calientes saya naik kereta lagi dan berakhir di Cusco pukul 21.00.

(ard)