Muda-Mudi yang 'Berselingkuh' dari Jakarta

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Jumat, 22/06/2018 15:30 WIB
Muda-Mudi yang 'Berselingkuh' dari Jakarta Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mila (bukan nama sebenarnya) tak pernah lupa momen saat dirinya meneteskan air mata di dalam bus Kopaja P19 yang mengantarnya pulang dari kantornya di kawasan Thamrin ke Terminal Blok M pada tiga tahun yang lalu.

Perempuan yang berusia 28 tahun pada saat itu menangis lantaran tak sanggup lagi menahan stres akibat pekerjaan dan jalanan Jakarta.

Di tahun itu Mila berkarier sebagai Junior Copywriter sebuah agensi iklan. Di kontrak, jam kerjanya mulai pukul sembilan pagi sampai pukul lima sore. Tapi kontrak hanyalah kontrak, karena arahan dari klien biasanya baru datang dan diminta dikerjakan mulai pukul tiga sore.


Rumahnya yang berada di kawasan Ciledug, Kota Tangerang, memaksanya harus menikmati kemacetan saat pulang dan pergi selama kurang lebih empat jam. Waktu tersebut akan bertambah panjang saat Jumat sore atau hujan.

Di atas bangku Kopaja P19 yang joknya tak lagi berbusa dan besinya nyaris berkarat, Mila berjanji bahwa dirinya akan meninggalkan Jakarta.

Mimpinya terwujud saat sebuah agensi iklan di Yogyakarta menerima lamaran pekerjaannya tepat tiga bulan setelah secuplik drama di bus kota.

Kurang dari sebulan Mila mengurus pengunduran dirinya, mencari akomodasi di tempat tinggal baru, dan terbang ke Yogyakarta tanpa tiket pulang.

Di atas bangku kabin pesawat lagi-lagi Mila meneteskan mata. Kali ini alasannya lega, karena dirinya tak perlu lagi berempati dengan keruwetan Jakarta.

Macet Jadi Alasan

Kemacetan jalanan yang tak berbalas dengan ketenangan hidup menjadi ramuan pas yang membuat semakin banyak anak muda berusia produktif yang meninggalkan Jakarta.

Penduduk yang berusia 15-34 tahun masuk dalam usia produktif menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

Dari data BPS tahun 2017 tercatat ada sekitar 62 juta penduduk berusia produktif, dari total 260 juta penduduk di Indonesia.

Artinya satu dari empat orang penduduk Indonesia masuk dalam usia produktif.

Jakarta masih menjadi tujuan utama para penduduk berusia produktif untuk mengadu nasib. Peningkatan gaji dan gaya hidup menjadi iming-imingnya.

Kalau punya teman dari daerah yang berharap bisa mewujudkan mimpi dengan hidup dan berkarier di Jakarta, Anda mungkin bisa menyodorkan data ini: hingga 2017 ada 10,37 juta orang yang menghuni Jakarta. Dan yang berusia produktif alias siap kerja sekitar 62 ribu orang.

Jumlah tersebut bakal bertambah, karena usai mudik Lebaran ada sekitar 100 ribu orang yang datang ke Jakarta.

Data tersebut bukan untuk mematahkan semangat para pendatang, namun sekadar suguhan realita bahwa Jakarta ternyata ada di mimpi semua orang.

Semasa masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017, Djarot Saiful Hidayat pernah berkata bahwa Jakarta sedang berada di titik kritis kelebihan muatan.

Ia menghitung bahwa kotanya hanya mampu menampung 12,5 juta penduduk hingga tahun 2030. Padahal dengan luas wilayah hanya 740 kilometer persegi, idealnya Jakarta bisa menampung 7,5 juta orang.

Membaca angka tersebut membuat kita bisa mengetahui alasan lain di balik kemacetan di Jakarta, selain faktor Jumat sore atau hujan.

Ruas jalan dipenuhi kendaraan di kawasan Gatot Subroto, Jakarta. (CNNIndonesia/Safir Makki)

Jakarta Baru

Mila bukan satu-satunya anak muda yang 'berselingkuh' dari Jakarta.

CNNIndonesia.com juga sempat mewawancarai secara terpisah tiga anak muda berusia 30-35 tahun yang memutuskan untuk memulai hidup baru di luar ibu kota.

Sayangnya belum ada data resmi mengenai jumlah kaum urban di Jakarta yang melakukan urbanisasi keluar Jakarta.

Tapi yang pasti, Bandung, Yogyakarta dan Bali menjadi lokasi favorit mereka.

Mukti memilih Bandung, Wawan memilih Bali sedangkan zE sempat memilih Yogyakarta dan Bali. Lalu apa yang membuat mereka yakin?

"Keraguan sih enggak ada, emang Jakarta udah terasa terlalu sumpek bagi gue. Tapi pulang kampung ke Bandung juga pertaruhan karier bagi gue, karena saat itu gue mendapat posisi bagus di kantor, sementara di Bandung membesarkan bisnis kedai kopi," kata Mukti yang keluar dari Jakarta pada September 2017.

Ia mengatakan bahwa gaya hidupnya kini berubah 360 derajat. Dulu ia merasa selalu terburu-buru, selalu takut terlambat datang ke tujuan karena kemacetan jalanan. Tapi kecemasan itu kini berangsur hilang, karena kemacetan jalanan di Bandung masih bisa ia perkirakan.

"Kehidupan di Bandung super slow hahaha... Gue merasa menjadi manusia di kota ini. Industri kreatifnya juga berkembang. Banyak tempat kongko yang bisa didatangi untuk bertukar pikiran," ujar Mukti yang mengatakan bahwa hobi bermain skateboard-nya bisa kembali ia jalani setelah tak lagi di Jakarta.

Jika Mukti sudah yakin untuk pindah ke Bandung karena ingin mengembangkan bisnisnya, berbeda dengan Wawan yang pindah ke Bali karena mendapat tawaran kerja baru.


Wawan belum lama pindah ke Bali, tepatnya sejak bulan Mei 2018. Mencoba pengalaman baru menjadi alasan utama kepindahannya.

Tak jauh berbeda dengan di Jakarta, di Pulau Dewata ia masih berkarier sebagai fotografer. Kalau dulu di media online, saat ini di sebuah perusahaan penyedia jasa atraksi wisata alam.

Empat tahun di media daring membuat Wawan merasa mantap untuk keluar dari zona nyamannya.

"Teman lama di kampus yang duluan kerja di sana menawari gue untuk menjajal pekerjaan ini. Gue lalu mengambil cuti selama seminggu dari kantor untuk mempelajari suasana di sana. Sepulang dari Jakarta, tak lama gue mengajukan pengunduran diri hahaha..." kata Wawan.

Keraguan tentu saja sempat menyelimuti pikirannya, terutama soal kegentarannya jauh dari orang tua dan mengenal orang baru. Namun pikiran negatif tersebut ditepisnya karena ia ingin membuktikan dirinya.

"Saat ini gue masih dalam tahap penyesuaian. Dulu waktu kerja di media gue harus patuh dengan atasan. Saat ini gue bekerja di bidang jasa yang lebih santai dan butuh sosialiasi lebih sering," ujar Wawan.


Dibanding Mukti atau Wawan, zE, sudah lebih lama berpisah dengan Jakarta.

Bosan dengan ritme kehidupan di Jakarta dan ingin mencari udara lebih bersih untuk kesehatan menjadi alasan pemuda lulusan institusi seni ini nekat mengembara ke Surabaya, Malang, Bandung, Yogkakarta dan Bali sejak tahun 2008. Khusus tahun ini ia memutuskan menetap di Bali.

"Malang dan Bandung itu enak udaranya. Yogya itu penduduknya ramah dan banyak teman sesama seniman dan musisi bawah tanah di sana. Tapi kesempatan bekerja ternyata ada di Bali," kata zE yang saat ini berkarier sebagai Creative Director sejumlah tempat kongko jaringan internasional di kawasan Seminyak.

Mencari pekerjaan yang masih bisa melakukan hobi juga menjadi alasan zE keluar Jakarta. Saat ini ia masih sering berpameran seni cetak, menerbitkan komik independen dan bermusik bersama bandnya.

"Kecuali anak dan keluarga, enggak ada lagi yang gue kangenin dari Jakarta hahaha... Malah lega karena meninggalkan kesumpekan dan keruwetan" kata zE.

Suasana sepi Jakarta saat ditinggal pemudik. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Nekat Keluar Zona Nyaman

Anak-anak muda ini mungkin terbilang nekat menggadaikan kestabilan hidup dan pekerjaannya untuk mencari ketenangan di luar Jakarta.

Perlu diketahui bahwa Upah Minimum Provinsi (UMP) di Bandung, Yogyakarta, Bali tidaklah sama dengan Jakarta.

Kementerian Tenaga Kerja merilis data bahwa UMP 2018 di Jakarta Rp3,6 juta, sementara Bandung Rp1,5 juta, Yogyakarta Rp1,4 juta dan Bali Rp2,1 juta.

Baik Mukti, Wawan dan zE sepakat bahwa orientasi akan uang harus lebih dulu dibuang jauh-jauh sebelum memutuskan hidup baru di luar Jakarta.

"Jangan dulu memikirkan gaji lebih kecil dibandingkan Jakarta, tapi pikirkan juga bahwa biaya hidup di daerah jauh lebih rendah dibandingkan Jakarta," kata Mukti.


zE menambahkan bahwa urusan rezeki sebenarnya tergantung diri masing-masing.

Ia mengibaratkan di Bali banyak sekali lahan pekerjaan yang disebutnya ikan, tapi tergantung apakah seseorang mampu memancingnya atau tidak.

Selain itu pastikan juga sudah mendapatkan kolam untuk memancing ikan sebelum pindah, sehingga tak buang waktu dan uang lalu jadi pengangguran beda kota.

"Untuk pekerja lepas perlu diingat bahwa Bali adalah destinasi wisata dunia, ada musim ramai dan sepi turis, sepi klien. Tapi kalau jaringan sudah tak lagi mengandalkan yang ada di Bali, tidak perlu khawatir akan siklus ini," kata zE.


Koes Plus punya lagu 'Kembali ke Jakarta'. Saat ditanya makna lagu itu, ketiganya punya jawaban yang berbeda.

Mukti berkata bahwa dirinya akan kembali ke Jakarta jika ada perusahaan yang menawarinya gaji lebih besar dari sebelumnya, sebagai kompensasi stres di Jakarta.

Sementara Wawan mengatakan bahwa dirinya belum berencana kembali ke Jakarta sebelum dirinya bisa membesarkan kariernya di Bali.

Sedangkan zE memilih untuk hanya datang sesekali di Jakarta karena kini kehidupannya kini di Bali.

"Gue ngerasa bebas berekspresi di sini. Banyak hal baru yang bisa jadi eksperimen hidup gue di sini. Tapi gue tetep inget kok tujuan gue untuk pulang suatu hari nanti, Jakarta," katanya.

[Gambas:Youtube]

(ard)