Gerakan Tanpa Sedotan, Cara Baru Kurangi Sampah Plastik

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Senin, 02/07/2018 09:57 WIB
Gerakan Tanpa Sedotan, Cara Baru Kurangi Sampah Plastik ilustrasi sedotan plastik (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sampah-sampah plastik sampai saat ini masih menjadi masalah besar untuk lingkungan. Untuk mengatasinya, berbagai aktivitas untuk mengurangi masalah sampah plastik pun dilakukan salah satunya adalah gerakan tanpa sedotan.

Gerakan tanpa sedotan plastik ini berangkat dari banyaknya sampah plastik di dunia. Sampah sedotan plastik menduduki peringkat kelima penyumbang sampah plastik di dunia. 

Berbeda dengan sampah plastik lainnya, sampah sedotan plastik ini cenderung terabaikan lantaran ukurannya yang kecil dan tidak memiliki nilai jual untuk di daur ulang.



"Sampah sedotan ini tidak ada yang peduli. Sedotan itu tidak jadi perhatian pemulung," ucap General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia yang menaungi KFC Indonesia, Hendra Yuniarto saat berbincang dengan media di Jakarta, Jumat (29/6). 

Hendra menyebut untuk 1 kg sampah sedotan plastik yang dapat memenuhi sebuah truk biasanya hanya dihargai Rp800 saja. Menurut Hendra, pemulung lebih memilih sampah plastik yang berukuran besar.

Gerakan tanpa sedotan plastik ini juga bertujuan untuk menjaga biota laut karena terdapat 11 miliar fragmen plastik yang mengendap di terumbu karang Asia-Pasifik. 

Menurunkan jumlah sampah sedotan

Gerakan tanpa sedotan plastik atau #Nostrawmovement berhasil menurunkan penggunaan sedotan secara signifikan.

Kampanye ini mengajak setiap orang untuk menolak dan tidak lagi menggunakan sedotan plastik sekali pakai saat menikmati minuman. Gerakan ini awalnya diterapkan oleh salah satu gerai ayam cepat saji tersebut sejak 2017 lalu.


Gerakan tersebut tak lagi menyediakan langsung sedotan plastik berukuran kecil dengan menghilangkan dispenser sedotan. Sedotan plastik hanya diberikan jika konsumen benar-benar membutuhkannya dan meminta langsung ke pelayan.

Awalnya, gerakan ini hanya diterapkan pada enam gerai saja. Secara perlahan, aksi ini meluas ke 233 gerai di Jabodetabek pada akhir 2017. Pada Mei lalu, gerakan ini menjadi gerakan nasional dan berlaku di 630 gerai.

Hasilnya, gerakan tanpa sedotan plastik ini berhasil mengurangi pemakaian sedotan plastik sebanyak 45 persen dari total penjualan rata-rata 5 juta minuman setiap bulannya untuk kawasan Jabodetabek saja. 

"Di Jabodetabek berhasil menurunkan 45 persen penggunaan sedotan plastik. Dengan kata lain, sebanyak 45 persen konsumen tidak lagi menggunakan sedotan plastik," katanya.

ilustrasi sedotanFoto: Jakub Kapusnak/FoodiesFeed
ilustrasi sedotan

Secara nasional, Hendra menargetkan gerakan ini mampu menurunkan penggunaan sedotan plastik hingga 100 persen. Namun, dia menyadari hasil ini tak bakal didapat dalam jangka yang cepat.

"Target ini maunya sampai nol (penggunaan sedotan plastik). Karena kan sebenarnya minum dari dulu itu enggak perlu sedotan. Tapi kan mengubah kebiasaan itu susah. Paling tidak butuh waktu dalam jangka panjang hingga 5 tahun ke depan," tutur Hendra.

Selain itu, Hendra juga menyebut perusahannya tengah mencari cara untuk mengganti sedotan berukuran besar untuk minuman berjenis float dan sedotan tipis untuk minuman hangat seperti kopi yang masih disediakan di gerai-gerai di tokonya.

Hendra mengatakan jenis sedotan itu rencananya bakal diganti dengan bahan lain yang ramah lingkungan.

Ditiru Singapura

Gerakan tanpa sedotan plastik atau #Nostrawmovement yang sukses dijalankan di Indonesia, diadopsi oleh negara tetangga, Singapura. Gerakan ini kini juga sedang dikaji untuk ditiru oleh Filipina dan Australia.

Gerakan tanpa sedotan plastik yang diterapkan Singapura ini merupakan kampanye yang diinisiasi oleh KFC Indonesia sejak pertengahan tahun lalu. Gerakan ini  membuat gerai itu tak lagi menyediakan langsung sedotan plastik berukuran kecil dengan menghilangkan dispenser sedotan. Sedotan plastik hanya diberikan jika konsumen benar-benar membutuhkannya dan meminta langsung ke pelayan.

Gerai cepat saji serupa di Singapura ini mulai menerapkan gerakan serupa per 20 Juni lalu pada 84 outlet se-Singapura.

Berdasarkan keterangan pers yang dikutip dari Channel News Asia, gerakan ini menargetkan untuk mengurangi 7,8 metrik ton sedotan plastik sekali pakai dalam setahun.

"Di dunia cuma ada dua negara yang menerapkan ini. Singapura meluncurkan program itu minggu lalu. Indonesia sudah dari tahun lalu. Kami membagikan gerakan #Nostrawmovement dan dampaknya ke KFC global dalam pertemuan internasional," kata General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia Hendra Yuniarto saat berbincang dengan media di Jakarta, Jumat (29/6).

Hendra menjelaskan gerakan itu dilaporkan dalam makalah yang dapat dilihat oleh dunia internasional. Singapura disebut belajar dari makalah itu.

"Singapura belajar dari makalah yang kami buat dan di dalamnya ada yang kami lakukan. Apa yang berhasil dan apa yang tidak sukses," ucap Hendra.

Menurut Hendra, gerakan tanpa sedotan plastik ini banyak disukai oleh negara yang memiliki wilayah perairan berupa lautan yang luas. Pasalnya, sampah plastik itu banyak dibuang ke laut dan menyebabkan kerusakan terumbu karang,

"Sebenarnya selain Singapura, Australia dan Filipina juga sedang mengkaji karena punya wilayah laut yang luas. Kalau Eropa, mereka mengincar bentuk lain karena laut di sana tidak banyak," tutur Hendra.

Di Indonesia, gerakan tanpa sedotan plastik ini berhasil mengurangi pemakaian sedotan plastik sebanyak 45 persen dari total penjualan rata-rata 5 juta minuman setiap bulannya untuk kawasan Jabodetabek.

Secara nasional, gerakan diharapkan mampu menurunkan penggunaan sedotan plastik hingga 100 persen dalam jangka waktu lima tahun ke depan.


(chs)