Studi: Polusi Udara Tingkatkan Risiko Diabetes

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Minggu, 01/07/2018 22:45 WIB
Studi: Polusi Udara Tingkatkan Risiko Diabetes ilustrasi polusi udara (REUTERS/Saumya Khandelwal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polusi udara nyatanya bukan hanya dapat membuat gangguan pernapasan. Baru-baru ini, sebuah studi mengungkap bahwa polusi udara juga dapat meningkatkan risiko terkena diabetes.

Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat, polusi udara menyebabkan satu dari tujuh kasus baru diabetes pada 2016, yang juga menemukan kemungkinan meningkatkan pengembangan penyakit kronis.

Umumnya, dikutip dari AFP, diabetes dikaitkan dengan faktor gaya hidup, tetapi penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis mengatakan polusi juga memainkan peran utama.



Studi ini memperkirakan bahwa polusi berkontribusi terhadap 3,2 juta kasus diabetes baru secara global pada 2016  atau sekitar 14 persen dari semua kasus diabetes baru secara global tahun itu.

"Penelitian kami menunjukkan hubungan yang signifikan antara polusi udara dan diabetes secara global," kata Ziyad Al-Aly, penulis senior studi tersebut.

Dalam penelitian tersebut, polusi dianggap mengurangi produksi insulin tubuh, mencegah tubuh dari mengubah glukosa darah menjadi energi yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan.

Penelitian ini dilakukan para ilmuwan di Veterans Affairs' Clinical Epidemiology Center dengan memeriksa data dari 1,7 juta veteran AS yang tidak memiliki riwayat diabetes dan diikuti rata-rata selama 8,5 tahun.

Informasi pasien dari para veteran tersebut kemudian dibandingkan dengan informasi kualitas udara untuk memeriksa hubungan antara polusi dan risiko diabetes.


Para ilmuwan menemukan risiko terkena diabetes menunjukkan hubungan yang kuat dengan polusi udara.

Al-Aly mengatakan penelitian yang diterbitkan dalam Lancet Planetary Health, menemukan peningkatan risiko bahkan dengan tingkat polusi udara yang saat ini dianggap aman oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) AS dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Ini penting karena banyak kelompok industri berpendapat bahwa level saat ini terlalu ketat dan harusnya dibuat lebih luwes. Bukti menunjukkan bahwa level saat ini masih belum cukup aman dan perlu diperketat," tambahnya. (chs)