5 Atraksi Wisata yang Melanggar Hak Hidup Hewan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 09/07/2018 20:59 WIB
5 Atraksi Wisata yang Melanggar Hak Hidup Hewan Lumba-lumba kerap mendapatkan perlakuan sadis agar bisa menuruti instruksi sang pawang. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai salah satu negara yang menjadi tujuan para wisatawan dunia, Spanyol rupanya tidak lepas dari kritik para aktivis pecinta binatang. Pasalnya sebuah ajang bernama Pamploma bull run yang baru saja diselenggarakan, dinilai melanggengkan tradisi pembantaian.

Namun tak hanya di Spanyol saja, beberapa negara pun masih melaksanakan tradisi yang mengeksploitasi hewan atas nama pariwisata. Mengutip independent, berikut adalah lima atraksi yang sebaiknya dihindari.

1. Menunggangi gajah


Atraksi ini sangat tenar di benua Asia, Thailand adalah salah satu negara yang menyulapnya menjadi salah satu atraksi wisata. Padahal untuk menjinakkan gajah tidak jarang beberapa metode kekerasan harus dilakuan.

Mengutip Peta, sebuah organisasi yang fokus melundungi hak hidup hewan, gajah kerap mendapat perlakuan yang kejam seperti pemukulan dengan benda-benda yang keras agar kelak dapat mematuhi perintah sang pawang. Sehingga bisa disimpulkan gajah patuh karena akumulasi rasa sakit.

2. Berenang dengan lumba-lumba

Lumba-lumba memang dikenal sebagai hewan yang cerdas, sehingga banyak orang yang ingin bertemu secara langsung bahkan berenang bersamanya. Tapi berenang bersama lumba-lumba, apalagi di ajang pertunjukan lumba-lumba, tak lebih dari upaya melangsungkan penculikan mamalia cerdas ini.

Tidak banyak orang yang tahu jika lumba-lumba yang kerap dijadikan atraksi wisata itu melewati proses menyedihkan untuk dicap memukau. Ia dipisahkan dari keluarga, kemudian harus menjalani rangkaian latihan yang membuat mereka stres. Bahkan tak jarang lumba-lumba dicekoki obat-obatan untuk keperluan latihan.

3. Menghadapi hiu dengan kandang

Bertemu dengan puluhan ikan hiu di lautan lepas tentu bukan impian siapa-siapa. Namun beberapa operator pariwisata di afrika Selatan justru membuat paket berenang di tengah kerumunan ikan hiu, namun dilindungi dengan kandang.

Untuk memancing keganasan hiu, tak jarang mereka mengiat daging segar beserta lumuran darah. Hal inilah yang disinyalir memancing perilaku hiu dilautan menjadi semakin ganas.

4. Eksplorasi terumbu karang

Pemanasan global diketahui sebagai penyebab rusaknya terumbu karang, tapi ternyata tidak hanya itu saja. Kegiatan memancing yang berlebihan, beberapa zat di tabir surya, hingga kegiatan wisata yang tidak ramah alam bawah laut merupakan penyebab lainnya.

Belakangan ini kegiatan wisata yang mengeksplorasi alam bawah laut menjadi semakin marak, namun tidak jarang para pelaku justru menyumbang kerusakan terhadap ekosistem. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan dan ketidakpedulian para wisatawan.

5. Menyantap hewan tertentu

Kuliner adalah salah satu unsur penting dalam berwisata. Hampir sebuah keharusan untuk menicicipi kuliner khas jika setiap mengunjungi sebuah daerah baru. 

Namun sayangnya, tidak jarang hal itu berbenturan dengan etika dan hak hidup hewan. Contohnya adalah sajian sirip ikan hiu, telur penyu, dan masih banyak lagi. Meskipun ada beberapa sajian kuliner yang tidak menyertakan hewan yang dilindungi atau eksotis ke dalam menunya, namun dinilai melanggar hak hidup hewan. Seperti festival makan anjing di China. (agr)