Budaya Kutai Kartanegara yang Memukau di Gelaran EIAF 2018

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 23/07/2018 11:27 WIB
Budaya Kutai Kartanegara yang Memukau di Gelaran EIAF 2018 Budaya Kutai Kartanegara berikut dengan pertunjukan dari Meksiko, India, Turki, Hongaria dan Rumania memukau penonton di Gelaran EIAF 2018. (Dok. Kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehebohan kirab budaya Erau Adat Kutai dan EIAF 2018 berlanjut ke Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Kaltim. Ada delegasi dari enam negara yang hadir, semuanya menyatu bersama sejumlah pejabat dan ribuan warga Tenggarong.

Pertunjukan dari India, Meksiko, Turki, Hongaria, Rumania dan tentunya budaya Kutai Kartanegara membuat penonton terpana.

"Kabupaten Kutai Kartanegara adalah daerah yang kaya. Terutama kaya akan sumberdaya alam berbasis fosil. Selain itu, Kabupaten Kutai Kartanegara juga mempunyai potensi pariwisata yang luar biasa. Baik yang berbasis budaya, alam, maupun berbasis kreativitas buatan manusia. Di lain pihak, pasar pariwisata berkembang sangat pesat, dengan captive market yang besar. Baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara," papar I Gde Pitana dari Kementerian Pariwisata yang hadir mewakili Menpar Arief Yahya, Minggu (22/7).


Dengan kekayaan yang dimiliki itu, Pitana menilai sangat tepat kalau Kutai mulai menempatkan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan dalam pembangunan.

Budaya Kutai Kartanegara yang Memukau di Gelaran EIAF 2018Ada delegasi dari enam negara yang juga ikut menyaksikan suguhan EIAF 2018. (Dok. Kemenpar)
"Pilihan tepat jika pariwisata menjadi sektor unggulan. Di samping itu, pariwisata juga mempunyai karakteristik yang sangat positif. Termasuk dalam hal pelestarian alam dan budaya. Semakin dilestarikan semakin menyejahterahkan. Dan ini sudah terbukti," terang Pitana yang biasa disapa Prof Pit itu.

Pitana pun memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Erau Adat Kutai dan International Folk Arts Festival yang tahun ini memasuki usia ke-6.

"Saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat dan pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Juga segenap pemangku kepentingan. Karena, sudah berhasil secara rutin melaksanakan event Erau Adat Kutai dan International Folk Arts Festival," katanya.

Ia menjelaskan dalam pelaksanaan festival ada satu prinsip yang patut digarisbawahi, yakni cultural festival jangan berhenti hanya pada cultural values.

"Harus dikonversi ke arah economic atau commercial values. Sebab, ujungnya adalah kesejahteraan masyarakat," terangnya.

Ditambahkan Pitana, yang tidak kalah penting dalam menyelenggarakan sebuah festival adalah aktivitas-aktivitas pasca festival. "Termasuk transaksi ekonomi yang terjadi setelahnya," sambungnya.

Pitana juga menyebut bahwa sebuah festival menjadi cara yang efektif untuk mempromosikan suatu daerah atau destinasi pariwisata. Sebuah acara atau festival juga mempunyai banyak manfaat, baik langsung maupun tidak langsung.

"Manfaat tersebut di antaranya, memperkenalkan destinasi. Kemudian sebagai ikon untuk mendatangkan wisatawan secara langsung untuk menyaksikan event, kemudian memotivasi masyarakat lokal. Khususnya untuk mengembangkan kreativitas dan secara langsung terlibat dalam kepariwisataan, serta menggairahkan dan membangkitkan kesenian dan kebudayaan lokal. Hal ini merupakan modal dasar kepariwisataan," jelasnya.

Pitana pun menyebut berbagai kota yang terkenal karena adanya acara atau festival sejenis ini, seperti Jember. Kota di Jawa Timur ini mencuat ke peta dunia pariwisata setelah konsisten menyelenggarakan Jember Fashion Carnival.

Budaya Kutai Kartanegara yang Memukau di Gelaran EIAF 2018EIAF diharapkan menjadi ikon yang membawa Kutai Kartanegara ke kancah pariwisata internasional. (Dok. Kemenpar)
"Demikian juga dengan Banyuwangi yang semakin mendapatkan tempat di hati wisman. Karena, banyak event atau festival yang dilaksanakan dalam setahun dalam lima tahun terakhir," terangnya.

Pitana pun yakin Erau Adat Kutai dan 6th International Folk Arts Festival bisa mengangkat Kutai Kartanegara.

"Dengan berbagai kajian empiris di atas, kami yakin event Erau Adat Kutai dan 6th International Folk Arts Festival akan mampu mengangkat Kutai Kartanegara sebagai tujuan wisata yang diperhitungkan. Karena, sekali lagi kami meyakini bahwa event merupakan cara yang sangat efektif untuk mempromosikan destinasi pariwisata," jelasnya.

Pitana berharap Kutai Kartanegara bisa turut menjaring wisatawan mancanegara yang mulai ramai berkunjung ke Indonesia.

"Terkait dengan pariwisata nasional, dapat kami laporkan bahwa kedatangan wisman dalam periode Jan-Mei 2018 sudah mencapai 6.166.109 orang. Atau mengalami kenaikan 11.89 % dibandingkan periode yang sama tahun 2017, yaitu sebesar 5.511.107 orang. Pertumbuhan 12% tersebut adalah cukup besar. Karena, dunia rata-rata tumbuh sekitar 6.5%. Kukar harus memanfaatkannya," terangnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga menyambut baik pelaksanaan Erau Adat Kutai dan 6th International FolkArts Festival. Apalagi acara ini juga melibatkan peserta dari mancanegara. Namun, Menpar mengingatkan agar pelaksanaannya konsisten.

"Dengan pelaksanaan festival yang konsisten, Kutai Kartanegara bisa menjadi top of mind bagi setiap wisatawan. Jika sudah masuk sebagai top of mind, Kukar akan tampil sebagai "must-visit destination"," kata dia.

Oleh karena itu, Arief berharap kepala daerah terus menunjukkan komitmennya. "Karena keberhasilan pariwisata sangat tergantung dengan keseriusan CEO daerah, yaitu kepala daerah," paparnya. (stu)